Sabtu, 27 Maret 2010

MENEPATI JANJI - Habis

Lupakan pemimpin-pemimpin kita yang sama sekali tidak bisa dicontoh itu. Lihatlah cara Nabi memberi contoh umat-nya dalam berbisnis. Rasulullah SAW, sang teladan abadi, dalam berbisnis tidak pernah sekalipun membohongi pelanggannya. Beliau selalu mengantarkan barang sesuai dengan jumlah yang dipesan dan dengan kualitas barang yang disepakati bersama. Beliau sama sekali tidak memberi kesempatan kepada pelanggannya untuk mengeluh, walau hanya sekali saja.

Positioning beliau sebagai pedagang yang terjujur dan paling dapat dipercaya, begitu kuat melekat, bahkan oleh musuh-musuhnya sekalipun. Prinsip-prinsip pembentukan positioning yang dicontohkan Nabi ini tetap dan akan terus relevan dengan dunia modern kini. Dan, lagi-lagi, anda tidak mesti harus ber-modal dan ber-keahlian yang luar biasa untuk menepati "janji-janji" anda kepada konsumen.

Di rumah kami, ibu saya membuka toko kecil yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari. Di kompleks perumahan kami, cukup banyak warung-warung sejenis, bahkan sudah ada toko besar di sana. Namun, sejak dibuka sekitar 8 tahun yang lalu, alhamdulillah hingga kini warung kami tersebut masih berjalan lancar. Padahal kalau pake hitung-hitungan kasar, mestinya warung kami itu sudah lama bangkrut. Selain banyaknya pesaing, harga yang warung ibu saya tawarkan juga tidak terlalu kompetitif. Harga pasar-lah, gitu. Untuk produk tertentu, termasuk mahal malahan.

Barang-barangnya juga tidak komplit banget. Malah banyak orang sering kecele karena ibu saya tidak menjual rokok, barang dagangan eceran terlaris yang telah menjadi menu wajib di hampir semua warung-warung kecil. Dari segi fasilitas, bangunan fisik warung ibu saya juga biasa-biasa saja. Tidak bisa untuk disebut nyaman. Benar-benar tidak ada yang istimewa. Jadi, kalaupun tidak bangkrut, mestinya paling tidak warung ibu saya itu tidak terlalu laku. Tetapi itulah kenyataannya, warung ibu saya tetap ramai.

Setelah hampir menyerah, akhirnya saya menemukan satu "keistimewaan" warung ibu saya itu. Yaitu, kejujuran dan keramahan. Yah, ibu saya terkenal jujur dalam berdagang. Kalau timbangannya kurang sedikit saja, ibu saya memberitahukan hal itu terlebih dahulu ke pembeli untuk dapat persetujuan. Tak jarang ibu saya berteriak memanggil-manggil pembeli untuk kembali karena ternyata ibu saya kurang dalam memberi uang kembalian. Tidak jarang juga ibu saya mengembalikan uang pembeli yang alpa memberi uang terlalu besar. Penilaian tetangga kami-pun menjadi positif.

Tak heran bila seorang anak kecil yang belum bisa bicara dengan lancar sekalipun, sudah sering disuruh oleh ibunya untuk berbelanja di warung kami. Tak ada kekhawatiran bahwa mereka akan ditipu atau dicurangi. Keramahan dan kebaikan hati juga menjadi faktor keistimewaan lain dari warung ibu saya dibandingkan dengan pesaingnya. Bukan pemandangan yang aneh bila di warung kami ada pembeli yang betah berdiri sampai berpuluh-puluh menit hanya untuk ngobrol dengan ibu saya. Malahan, tidak sedikit tetangga kami yang menjadikan warung ibu saya itu sebagai tempat curhat!

Walau sedari awal tidak menetapkan positioning warung kami, secara tidak sadar, ibu saya telah membentuk "posisi" warung kami itu di benak konsumen (tetangga kami) sebagai "warung yang ramah dan terpercaya" dengan sangat kuat.

Begitu kuatnya Positioning warung kami ini melekat, sehingga ada tetangga kami yang seorang pendeta sangat sering berbelanja di warung kami dan selalu dalam jumlah besar. Sebegitu seringnya, sampai-sampai ibu saya sudah menganggapnya sebagai salah satu konsumen terpenting. Padahal tidak jauh dari rumah bapak pendeta itu ada warung yang sama seperti warung kami, bahkan pemiliknya se-agama dengan si bapak pendeta itu. Sementara di sisi lain, ibu saya sudah terkenal di lingkungan kami sebagai "Bu Haji". Ya, dengan positioning itulah warung ibu saya menikmati keunggulan bersaing (competitive advantage) dari para pesaingnya.


Oleh: Yusuf Wibisono


Related Posts :