Senin, 26 April 2010

MENDIDIK PASAR

Buat anda yang angkatan '70an, mungkin masih ingat ketika Aqua pertama kali di lempar ke pasar. Dan tentunya anda ingat pula betapa negatif-nya respon pasar saat itu ketika pionir air minum dalam kemasan ini diperkenalkan ke publik. Gila apa jualan air putih? Mahal lagi? Mana ada ceritanya air putih lebih mahal dari bensin? Padahal dimana-mana kita bisa mendapatkan air putih dengan mudah dan murah, bahkan gratisan. Lalu, siapa yang mau beli ini barang?

Tapi itulah yang terjadi. Aqua dijual oleh sang produsen ke sebuah masyarakat dimana air minum (air putih) adalah barang bebas (gratisan) dan harga barang-barang kebutuhan hidup lainnya adalah murah karena subsidi (seperti beras dan BBM). Namun sang produsen tetap yakin dengan konsep bisnis-nya bahwa masyarakat butuh akan air minum yang higinis dan dikemas secara praktis sehingga mudah dibawa-bawa dan digunakan kapanpun dan dimanapun. Hanya dengan modal keyakinan akan konsep bisnis itulah yang membuat PT Golden Aqua Missisipi nekat untuk terus menekuni bisnis air minum dalam kemasan ini. Secara perlahan, lewat iklan dan komunikasi yang massif, akhirnya pemahaman konsumen terhadap produk ini terbentuk. Dan kini? Mungkin tak seorangpun penduduk negeri ini yang tidak kenal dengan Aqua. Dan pada saat yang sama puluhan merek lainnya berlomba masuk ke pasar air minum kemasan ini, mencoba bersaing dengan Aqua untuk merebut pasar yang kini menjadi sangat gemuk.

Cerita yang sama kita temui pula pada kasus Teh dalam kemasan botol dengan pionirnya Sosro, Kopi dalam bentuk permen dengan pionirnya Kopiko, Larutan penyegar -yang menurut saya enggak ada bedanya sama air putih- dengan pionirnya Kaki Tiga, dan contoh terkini tentunya adalah Nasi goreng cepat saji dengan pionirnya Tara nasiku. Mereka semua adalah produk-produk yang sebenarnya kita "enggak butuh". Tetapi karena sekian lama kita "dididik" bahwa kita "butuh" produk tersebut, akhirnya kitapun mengatakan hal yang sama. Ringkasnya, konsumen bisa disetir dan diarahkan agar menuruti kemauan produsen.

Fakta ini mematahkan argumen bahwa produk yang dibeli/dikonsumsi oleh konsumen adalah selalu barang yang mereka inginkan atau butuhkan. Konsumen bisa dididik bahwa mereka sebenarnya butuh akan suatu produk tertentu. Dan fenomena "mendidik pasar" ini juga sebenarnya bisa menjawab seluruh pertanyaan dan kegundahan kita tentang membanjirnya berbagai produk asing dan produk budaya global di tanah air kita ini.

Laris manisnya berbagai produk-produk kosmetik dan perawatan kecantikan dari pemutih gigi sampai pemutih kulit, tidak lepas dari rajinnya para produsen "mendidik" remaja putri kita bahwa kecantikan fisik adalah yang terpenting, tidak peduli dengan kecantikan hati ataupun kecerdasan intelektual. Betapa banyak kita saksikan para korban "salah didik" ini begitu bangga dan royal ketika membeli produk-produk yang tidak murah ini di berbagai pusat perbelanjaan. Jelas "pendidikan" semacam ini akan memperbodoh dan menghancurkan akhlak generasi muda kita di masa mendatang.

Dan repotnya adalah, strategi ini ternyata juga dilakukan (dan nampaknya dengan penuh kesengajaan) terhadap produk-produk budaya dan ideologis di negeri Muslim terbesar di dunia ini, bahkan secara besar-besaran. Mewabahnya musik dan lagu Barat dari apartemen mewah hingga ke kampung-kampung, jelas tidak mungkin terjadi tanpa “didikan” MTV yang berkolaborasi dengan Global TV, yang begitu gencar 24 jam non-stop setiap harinya menyiarkan klip-klip musik. Begitupun halnya dengan tingginya minat remaja kita untuk masuk ke bisnis entertainment ini, adalah hasil "didikan" selama puluhan tahun bahwa dunia showbiz adalah dunia paling tepat untuk cepat menjadi kaya, terkenal, dan digandrungi banyak orang. Bahkan wabah ini juga sudah menular ke anak-anak yang (seharusnya) masih suci, yang ironisnya justru tertular virus dari orang tuanya sendiri yang merupakan para korban "salah didik".

(bersambung)


Oleh: Yusuf Wibisono


Related Posts :