Kamis, 23 September 2010

JATI DIRI

Dia tidak tahu siapa dirinya, darimana dia berasal, seringkali dia bertanya kepada saudaranya kenapa dirinya bisa menjadi seperti ini. Yang ada dalam dirinya adalah kegoisan dan menganggap dirinya selalu benar. Dia tidak pernah tahu bagaimana cara menempatkan diri dan bersosialisasi. Egois adalah prinsip utama, kalau tidak egois katanya dia tidak dapat hidup. Tidak ada unsur toleransi dan kemanusian di dirinya, hanya berpikir secara logika dan untung rugi saja.

Dia tidak terbiasa saling memberi dan menerima dalam kehidupannya, hanya ingin diberi saja oleh orang lain. Dia merasa bila dia memberikan sesuatu kepada orang lain, hal tersebut akan mengurangi kekayaan yang dipunyainya.

Dia tidak diajarkan menjadi orang pengasih dan pemberi dari kecil. Dia tidak pernah diberitahu apakah sesuatu hal itu benar atau tidak, dia tidak pernah diberikan pembenaran. Dia selalu di lindungi pada waktu kecil, sehingga tumbuhlah dia menjadi pribadi yang egois, yang selalu membenarkan dirinya.

Kepribadiannya sangat keras, tidak dapat dinasehati dan diberikan kata-kata bijak. Tidak ada keluarganya yang sanggup berhadapan dengannya. Sehingga dia melakukan perawatan ke psikiater, hal ini sudah berlangsung hampir enam tahun. Setiap hari dirinya diwajibkan minum obat dengan dosis tinggi, dan juga pernah dirawat ini di klinik empati di salah satu rumah sakit di Jakarta.

Segala usaha medis telah ditempuh, dan tidak ada perubahan yang berarti. Seluruh keluarga telah memberikan masukan baik secara spritual dan material, tetapi belumlah berhasil.

Seluruh keluarga telah menyerah untuk merawat dan menjaga dia. Tidak ada keluarga yang mau menerima dia. Sudah banyak segala upaya yang telah dilakukan, tetapi dia tidaklah berubah. Dia bertanya lagi siapa dirinya?

Dia tidak pernah berdialog kepada Tuhan untuk menanyakan siapakah dirinya. Dia tidak terbiasa berdoa dalam keheningan malam untuk mengembalikan kembali dirinya ke titik nol, untuk apa dia diciptakan, dan apa tujuan hidupnya.

Tidak sadarkah dia bahwa kehidupan ini tidak ada yang abadi, dan yang diukur oleh Tuhan adalah amal kebaikan yang kita persembahkan bagi orang lain. Dia tidak pernah menangisi kesalahan yang telah dilakukannya, telah banyak saudaranya dan terutama orang tuanya yang telah disakiti hatinya oleh kata-kata hinaan dari mulutnya. Betapa sering kata binatang yang dikeluarkan, dan kata-kata sadis yang terucap, dan sudah beberapa kali dia menyakiti fisik saudaranya.

Oh Tuhan makhluk apakah yang Engkau ciptakan ini? Hikmah apa yang dapat diambil dari masalah ini? Bagaimanakah cara menyelesaikan hal ini? Hanya kepasrahan yang ada, semoga dia dapat menyadari segala hal yang telah dilakukannya.

Hanya doa yang tiada putusnya yang dapat dilakukan pada saat ini, semoga dia diberikan ketenangan dan keselamatan dalam menjalani kehidupan ini.

Oleh : Desiani


Related Posts :