Senin, 02 Januari 2012

Tanpa Sekolah Bisa Sukses? (Part.2)

Bill Gates dan Thomas A Edison hanyalah sedikit dari beberapa tokoh yang sukses justru setelah mereka berhenti bersekolah, namun pada sendirinya dapat kita lihat bahwa mereka berhenti sekolah (formal) merupakan karena keterpaksaan mereka, dikarenakan adanya tujuan dalam hidup yang ingin mereka capai. Tapi apakah mereka benar-benar berhenti bersekolah? Jawabnya adalah TIDAK. Karena mereka sendiri juga tetap belajar akan banyak hal yang sering kita sebut sebagai sekolah informal.

Lalu apakah sekolah menjadi jaminan anda untuk sukses?

TEPAT SEKALI. Sekolah pada definisi sesungguhnya adalah proses belajar-mengajar, proses transfer ilmu. Sekolah dengan bangungan berlabel SD, SMP, SMA, PERGURUAN TINGGI pada saat ini hanyalah salah satu bentuk dari sekolah, bukanlah secara keseluruhan. Anda keluar dari SMA lalu bekerja di bengkel untuk belajar membangun bengkel anda sendiri, lalu setelah anda merasa mampu, anda keluar lalu membangun bengkel anda sendiri lalu anda menjadi sukses, itu juga merupakan suatu bentuk dari sekolah itu sendiri (sekolah informal).

Di samping itu juga, memang pada faktanya bahwa beberapa orang sarjana lulusan S-1, sarjana lulusan S-2 dan bahkan S-3 banyak sekali yang menganggur, namun itu bukanlah karena faktor sekolah mereka, namun dari metode mereka pada saat mereka bersekolah dahulu, yang rata-rata mahasiswa sekarang hanya sekolah bertaraf tinggi hanya untuk gengsi semata, sehingga tidak ada ilmu yang berhasil ditransferkan kepada pola pikir mereka, dan tidak dipungkiri lagi ini disebabkan juga oleh karena adanya pola pikir “Tanpa sekolah pun bisa sukses” yang salah, serta salah satu penyebabnya adalah minimnya tingkat kesadaran di dalam mahasiswa sendiri untuk menggali potensi mereka dan meningkatkan kreativitas dari ilmu yang mereka dapatkan di bangku kuliah.

Dengan mengenyam bangku pendidikan yang tinggi pun bisa meminimalisir tingkat kerugian usaha. Seperti yang anda ketahui, bahwa dalam setiap usaha memiliki tingkat resiko, berikut adalah gambaran sederhana antara orang yang mengenyam pendidikan tinggi dan yang tidak sama sekali dalam aspek resiko mendirikan suatu usaha:
  • Lulusan SMA. Anda ‘meng-hemat’ 4 tahun anda serta uang sekitar 100 juta yang seharusnya anda gunakan untuk mengenyam bangku kuliah. Dan anda memulai usaha anda dengan modal 100 juta tersebut, berapa tingkat resiko yang anda miliki? Dengan gambaran bahwa anda tidak mengerti secara detail pokok dari manajemen dan akuntansi, serta minim informasi dan pengetahuan tentang hokum, tentu saja tingkat resiko anda akan menjadi 2x lipat bahkan lebih daripada mereka yang mengenyam bangku kuliah secara serius. Dengan tingkat resiko yang begitu besar belum tentu anda dapat menghasilkan profit yang tinggi, dan akan butuh waktu yang cukup lama bagi anda untuk memperluas jaringan perusahaan anda karena minimnya pengetahuan tentang bagaiman melakukannya.
  • Lulusan S-1. Anda telah menggunakan 4 tahun anda untuk mempelajari seluk-beluk dasar pendirian usaha, setelah 4 tahun tersebut anda siap untuk memulai usaha dengan pokok perencanaan yang matang dan telah diuji dengan ilmu yang telah anda dapatkan. Maka, di saat anda terjun ke dalam dunia bisnis tingkat resiko anda akan jauh berada di bawah masyarakat yang tidak mengenyam bangku kuliah, bukan? Serta anda telah memiliki rencana bahkan untuk beberapa tahun ke depan, begitu pula teknik-teknik meningkatkan profit pun juga telah anda dapatkan dalam proyek business plan anda sebelumnya.
Berdasarkan hal di atas dapat disimpulkan bahwa sekolah, baik formal maupun informal, itu memang mutlak menjadi jaminan bagi anda untuk menjadi sukses. Jangan berhenti bersekolah dan janganlah berhenti belajar teman-teman entrepreneur.

Oleh : Kevin Wahyono


Related Posts :