Rabu, 28 Maret 2012

Sandiwara Cinta Segitiga Konspirasi Timur Tengah Part. IV

Hal yang sama terjadi di Mesir, Suriah, dan negara-negara muslim Sunni lainnya. Yang pemerintahannya banyak di sabotase dan diisi orang-orang pro barat. Karena ancaman negara Sunni sangatlah besar bagi eksistensi Israel. Saya ambil contoh adalah Mesir, setelah perang Yom Kippour berakhir. Pada 1981 presiden Anwar Sadat ditembak mati dan digantikan oleh Husni Mubarak, yang jelas – jelas pro AS. Dari sinilah sikap mesir mulai condong ke AS.

Dan ulasan diatas, barulah sebuah intermezo untuk kalian yang mempertanyakan peran negara Sunni. Justru bias kita lihat sangatlah besar (sebelum pemerintahannya diisi orang – orang pro barat) disbanding Iran sekarang yang terkesan memberi ancaman kosong (seperti ingin melenyapkan Israel dari peta dunia, yang telah dikoar – koarkan Ahmedinejad semenjak dia naik menjadi presiden). Bahkan sekalipun negara-negara Sunni ini telah dikuasai orang – orang pro barat, bantuan terhadap Palestine masih tetap berjalan dari para rakyatnya, seperti dana, bantuan medis, dsb.

Jadi seperti yang saya bahas diatas, peran Iran saat itu sangatlah minim dibanding negara – negara Sunni. Kenapa? Karena Iran saat itu “telah” dipimpin oleh orang – orang pro – AS sampai 1979, yaitu Shah Muhammad Reza Pahlevi. Beserta 50 ribu orang AS yang dipekerjakan sebagai penasihat. Lalu, puluhan tahun sejak saat itu isu huru-hara nuklir Iran mulai terangkat. Barulah saat isu yang “menyangkut kepentingan negara” ini terangkat. Iran berkoar-koar memusuhi AS – Israel, adakah yang janggal dari sikap permusuhan Iran? Yang saya lihat adalah isu ini seperti sengaja diangkat, dalam menciptakan momentum bagi Iran. Untuk memposisikan diri sebagai musuh AS – Israel. Karena akan sangat janggal, jika tiba – tiba Iran menjadi musuh. Karena terlihat jelas pada perang teluk I iran akrab dengan Israel, dan sebelum revolusi bergulir. Iran akrab dengan AS. Disinilah momentum diperlukan.

Dan pertanyaan utama, benarkah pengaruh AS di Iran telah sepenuhnya hilang sejak revolusi Islam oleh Khomeini pada 1979? Berikut analisis saya.

Adanya Indikasi campur tangan internal AS, dalam keberhasilan revolusi Islam 1979 sangat terlihat jika kita lihat melalui pendekatan logika. Pertama-tama kita kembali ke tahun 1980 – an. Saat popularitas Iran dengan keberhasilan revolusinya sangat tenar di Indonesia. Bahkan saat itu banyak bayi lahir yang dinamakan Khomeini. Disamping saya pernah membaca tentang propaganda berlebihan dari kedutaan besar Iran di Indonesia yang memberitakan revolusi ini. Berangkat dari sini, saya mulai membuka buku sejarah. Dan yang saya dapatkan adalah kenyataan yang mengejutkan. Bahwa benar saat itu Iran di bawah rezim Shah, mempekerjakan 50 ribu orang AS sebagai penasihat dengan gaji 4 miliar US$ per tahunnya. Dan fakta yang mengejutkan, bahwa Revolusi Iran berawal dari provokasi AS sendiri. Yaitu saat presiden AS terpilih dari partai republik, Jimmy Carter berpidato di depan rakyat AS tentang HAM dan selama memerintah ia akan menolong rakyat-rakyat yang ditindas oleh penguasanya, dan tidak akan menolong seorang penguasa pun yang menindas rakyatnya, meskipun AS terikat hubungan baik dengan mereka.

Bersambung ke part V

Oleh : Muhammad jundi robbani


Related Posts :