Rabu, 27 Juni 2012

Keuntungan dan Kerugian Globalisasi bagi Bangsa Indonesia Part. 4

Bencana Globalisasi bagi Indonesia

Globalisasi tidak hanya menjanjikan keuntungan bagi Indonesia. Globalisasi bisa membawa petaka yang daya hancurnya jauh melebihi bencana alam apapun. Era baru ini bisa menjadi bencana bagi bangsa jika kita tidak mampu mengelola potensi alam dan budaya yang begitu melimpah. Indonesia bisa tenggelam dalam persaingan global dan diinjak-injak bangsa lain tanpa bisa memberikan perlawanan.

Globalisasi meniadakan batas geografis antar negara sehingga arus produksi dan distribusi barang menjadi tidak terbendung lagi. Indonesia bisa menjadi sasaran produk luar negeri karena bangsa ini masih cukup konsumtif dan belum mampu menciptakan teknologi yang secanggih teknologi asing. Sebagai konsekuensinya, serbuan produk luar negeri bisa mematikan potensi industri di negeri sendiri. Kualitas produksi dalam negeri hanya mempunyai sedikit potensi jika dibandingkan dengan produk luar negeri yang dibuat dengan teknologi yang lebih canggih. Produk asing tersebut biasanya mempunyai harga dan kualitas yang lebih kompetitif sehingga konsumen lebih tertarik menggunakan produksi luar negeri. Pengusaha pun juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk membendung serbuan produk asing tersebut. Jika kualitas produk yang mereka tawarkan kalah jauh dari produk asing, sudah pasti mereka kalah telak dalam persaingan ini. Produsen yang memelopori industri dalam negeri bisa saja beralih menjadi importir barang produksi luar negeri. Mereka tidak mau bersusah-payah menghasilkan barang yang belum tentu menarik minat masyarakat. Sikap pragmatis ini juga menjadi pemicu terpuruknya industri dalam negeri. Sebagai akibatnya, banyak perusahaan yang bangkrut karena tak mampu bersaing lagi. Kebangkrutan itu juga harus dirasakan oleh jutaan pekerja yang kehilangan mata pencaharian mereka.

Globalisasi juga memicu lahirnya dehumanisme. Istilah ini bisa diartikan sebagai penuruan nilai kemanusiaan karena sumber daya manusia hanya dipandang sebagai komoditas yang digunakan untuk kepentingan bisnis raksasa. Menurut pandangan kapitalisme, potensi alam dan sumber daya manusia adalah komoditas berharga untuk mendapatkan uang. Bisnis raksasa tidak akan bisa berkembang pesat tanpa dukungan sumber daya manusia yang unggul. Sebagai akibatnya, tenaga kerja tidak diperlakukan secara manusiawi karena mereka dianggap sebagai mesin produksi yang menghasilkan uang. Fenomena ini juga terjadi di Indonesia. Rakyat dituntut untuk memenuhi kepentingan industri raksasa dan siap mengabdikan hidupnya untuk kepentingan pemilik modal. Selain itu, orientasi dunia pendidikan juga berubah. Pendidikan tidak lagi menganggap siswa sebagai manusia yang harus mempunyai kepribadian dan moral yang unggul. Kenyataannya, sistem pendidikan berubah drastis menjadi industri pendidikan. Sekolah menghasilkan manusia-manusia baru yang “siap pakai” untuk pemilik modal. Mereka dilatih supaya mampu memenuhi kepentingan industri semata dan menjadi komoditas berharga yang mendukung pertumbuhan bisnis industru tersebut. Siswa dituntut untuk memiliki keahlian “siap pakai” tanpa diimbangi pendidikan karakter.

Globalisasi juga membawa dampak negatif bagi potensi alam Indonesia yang begitu melimpah. Tuntutan era globalisasi menuntut setiap negara untuk menggunakan potensinya secara maksimal. Akibatnya, pengrusakan lingkungan secara besar-besaran dilakukan untuk memenuhi kepentingan pemilik modal. Banyak hutan menjadi tandus karena pohonnya ditebangi untuk memenuhi kebutuhan industri. Potensi alam yang begitu melimpah bisa habis dalam sekejap jika tidak diimbangi upaya untuk menjaga kelestariannya. Selain itu, banyak sekali hutan di Indonesia yang “dicuri” oleh pihak asing karena pemerintah tidak tegas menindaklanjuti kejahatan tersebut. Jika hutan sudah lenyap dari muka bumi ini, anak cucu kita tidak akan pernah hidup layak lagi.

Globalisasi telah mengikis budaya bangsa. Anak muda pasti lebih suka menghabiskan uangnya untuk membeli pakaian impor atau makanan impor. Industri luar negeri terus menyerbu pasar Indonesia sehingga kita lebih tertarik menggunakan produk luar negeri. Kita tidak bangga menggunakan batik, tetapi kita lebih senang menggunakan pakaian ketat dan minim yang sangat digandrungi anak muda. Makan impor juga sangat mudah kita temukan. Burger, pizza, capuccino, hot dog, dan makanan “berbau asing” lainnya dinilai jauh lebih bergengsi daripada makanan lokal. Kondisi ini bisa diperparah dengan keberadaan kebudayaan dan ideologi asing yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Kebudayaan tersebut bisa saja menggantikan kebudayaan asli Indonesia jika kita tidak mempunyai karakter dan komitmen yang kuat untuk mempertahankan kebudayaan Indonesia yang menjunjung tinggi agama dan moral.

Oleh : Kevin Wahyono


Related Posts :