Jumat, 22 Juni 2012

PERAN BAHASA DALAM PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN Part.2

Faktor Penghambat

Kendalanya adalah manusia sekarang memiliki kecenderungan ‘malas’ menginterpretasi segala sesuatu. Kecenderungan ini ditunjang semakin banyaknya hal-hal baru yang hadir dan membuat manusia cenderung pasrah menerima tanpa berusaha mengkritisinya. Hal ini menyebabkan berkurangnya keberagaman hidup dan condong ingin menyeragamkan segala hal. Semua dikarenakan hilangnya sense seseorang untuk berani memaknai teks.

Dan dari kendala tersebut, terdapat tiga tipe manusia yang bertanggung jawab atas hilangnya minat mengartikan makna. Tipe pertama adalah orang-orang kolot yang mendiskreditkan tumbuhnya ide-ide baru. Umumnya adalah orang-orang konservatif yang tidak menginginkan perubahan. Kedua adalah orang-orang yang tidak bersikap kritis pada sekelilingnya, cenderung mudah menerima dogma dan menuruti apa kata pemimpinnya. Tipe ini cenderung mematikan keberagaman karena tidak mengenal kreatifitas. Terakhir adalah orang-orang yang hanya meniru apa yang sudah ada, cenderung malas untuk mengartikan hal-hal baru yang masih banyak disekitarnya. Ketiga tipe inilah yang harus berusaha kita hindari agar perkembangan bahasa, tanda, dan pemakaiannya menjadi lebih beragam.

Sejauh ini terdapat beberapa poin yang dapat dikaitkan dengan bahasa. Pertama, akal, yang sangat erat dengan logika. Kedua, Makna dan interpretasi, yang merupakan bagian yang sudah melekat dengan bahasa. Ketiga, konvensi atau konsensus, karena tanpa hal ini bahasa tidak ada artinya karena tidak dimengerti oleh orang banyak. Keempat, dimensi bahasa obyektif, dapat dimengerti oleh semua untuk mengatasi ruang dan bersifat universal dan ilmiah, dan terakhir, intertekstualitas, bagaimana sebuah teks dapat memengaruhi pemahaman seseorang.

Jadi secara umum bahasa merupakan representasi dari wilayah asalnya dan gambaran kebudayaan pun dapat tercermin di dalam bahasa tersebut. Karenanya kedudukan bahasa dan kebudayaan bersifat koordinatif atau sama tinggi yang saling memengaruhi satu sama lain dan tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Jika kebudayaan adalah sistem yang mengatur interaksi manusia dalam masyarakat, maka kebahasaan berfungsi sebagai sarana berlangsungnya interaksi tersebut.

Setelah membahas beberapa teori diatas, sekarang kita memasuki studi kasus. Dimana teori-teori diatas akan direlevansikan dengan kasus nyata.

Bahasa Sebagai Representasi Kebudayaan

Contoh pertama adalah bahasa sebagai representasi kebudayaan. Dalam analisis semantik, Abdul Chaer mengatakan bahwa bahasa itu bersifat unik dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan budaya masyarakat pemakainya, maka analisis suatu bahasa hanya berlaku untuk bahasa itu saja, tidak dapat digunakan untuk menganalisis bahasa lain. Umpamanya kata ikan dalam bahasa Indonesia merujuk kepada jenis binatang yang hidup dalam air dan biasa dimakan sebagai lauk; dalam bahasa Inggris sepadan dengan fish; dalam bahasa banjar disebut iwak. Tetapi kata iwak dalam bahasa jawa bukan hanya berarti ikan atau fish, melainkan juga berarti daging yang digunakan juga sebagai lauk (teman pemakan nasi). Malah semua lauk seperti tahu dan tempe sering juga disebut iwak. Mengapa hal ini bisa terjadi? Semua ini karena bahasa itu adalah produk budaya dan sekaligus wadah penyampai kebudayaan dari masyarakat bahasa yang bersangkutan. Dalam budaya masyarakat Inggris yang tidak mengenal nasi sebagai makanan pokok hanya ada kata rice untuk menyatakan nasi, beras, gabah, dan padi. Oleh karena itu, kata rice pada konteks tertentu berarti nasi pada konteks lain berarti gabah dan pada konteks lain lagi berarti beras atau padi. Lalu karena makan nasi bukan merupakan budaya Inggris, maka dalam bahasa Inggris dan juga bahasa lain yang masyakatnya tidak berbudaya makan nasi; tidak ada kata yang menyatakan lauk atau iwak (bahasa Jawa).

Contoh lain dalam budaya Inggris adalah pembedaan kata saudara (orang yang lahir dari rahim yang sama) berdasarkan jenis kelamin: brother dan sister. Padahal budaya Indonesia membedakan berdasarkan usia: yang lebih tua disebut kakak dan yang lebih muda disebut adik. Maka, brother dan sister dalam bahasa Inggris bisa berarti kakak dan bisa juga berarti adik.

Bersambung-PERAN BAHASA DALAM PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN Part.3

Oleh : Muhammad Jundi Robbani


Related Posts :