Jumat, 22 Juni 2012

PERAN BAHASA DALAM PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN Part.3

Bahasa dan Pengaruhnya Terhadap Khalayak Luas

Selanjutnya contoh penggunaan bahasa yang dapat memengaruhi khalayak luas. Saya ambil contoh dalam perkembangan wajah pemerintahan modern. Banyak pemikir sekuler yang justru mengawali pemikirannya dari problem bahasa. Tentunya bukan sekedar tata bahasa, tapi keefektifan pemilihan kata dan bahasa yang dia gunakan sehingga dapat diterima orang secara luas. Masyarakat sendiri dituntut untuk dapat tetap berpikir kritis dalam mengerti ucapan seseorang maupun teks yang dibaca. Misalnya seorang Karl Max, terdapat proses unik bagaimana konsep sosialisme yang berawal dari gagasan utopis dapat menjadi landasan negara-negara besar dari abad 20 hingga sekarang, dari Soviet hingga Skandinavia. Pengemasan bahasa adalah salah satu kunci, bagaimana ide sosialisme tersebut dapat diterima luas oleh kalangan slavia. Meski implementasinya sendiri terbagi dua menjadi sosialisme demokrat, dan sosialisme radikal (cikal bakal komunis). Contoh lain, sebuah perjanjian antar negara juga dibutuhkan pemilihan bahasa dan kata yang tepat untuk disepakati pihak-pihak terkait agar tercapai konsensus. Contoh terakhir adalah pengaruh penting bahasa dalam menjalankan imperialisme klasik, yang kita tahu telah mengantarkan Bahasa Inggris seabgai bahasa internasional.

Bahasa Isyarat

Selanjutnya contoh dalam penggunaan bahasa isyarat. Bahasa isyarat disini tidak selamanya bersifat nonverbal, namun ucapan-ucapan yang penuh kiasan dan makna tersirat juga bisa dikelompokkan dalam bahasa isyarat. Bahkan tanda-tanda yang hadir dalam kehidupan kita sehari-hari juga bagian dari bahasa isyarat. Contoh, rambu-rambu lalu lintas tentu akan sangat tidak efisien jika dituliskan dalam bentuk huruf. Para pengguna jalan tentu tidak akan sempat membaca tulisan-tulisan itu, karena itu untuk mempermudah, dibuat simbol-simbol yang dikonvensikan dan dimengerti masyarakat.

Contoh lain terlihat dalam bahasa puisi. Ataupun politikus-politikus yang menggunakan kiasan-kiasan ketika berpidato atau sekedar menjawab pertanyaan-pertanyaan. Dari banyaknya peran bahasa ini, kita dapat melihat bahwa mengerti bahasa bukan hal yang mudah. Harus ada kekritisan dalam menerjemahkan sebuah pesan. Inilah pentingnya peran interpretasi. Tanpa interpretasi, tentunya semua akan mengalir dengan datar. Nampak membosankan bukan jika puisi dituliskan sama dengan percakapan sehari-hari. Justru simbol-simbol yang ada semakin memperindah penggunaan bahasa.

Bahkan jika kita melakukan kilas balik, dapat kita lihat contoh-contoh bahasa isyarat yang popular saat masa-masa krusial di abad 20, bahkan dapat menjadi salah satu pemicu Perang Dunia II. Contohnya pada tahun 1935, Inggris, yang ketika itu merasa bersalah karena telah memaksakan Perjanjian Versailes yang memberatkan rakyat Jerman, membuat perjanjian baru dengan Hitler. Dalam perjanjian itu, Hitler diperbolehkan membangun angkatan lautnya melebihi batas yang diizinkan dalam Perjanjian Versailes. Hitler yang ingin memantapkan hubungannya dengan Inggris kemudian mengirim Joachim von Ribbentrop pada musim panas tahun 1936 untuk mengupayakan terciptanya aliansi antara Inggris dengan Jerman. Sayangnya, Joachim von Ribbentrop gagal membuat kesepakatan di Inggris; bukan karena Inggris tidak mau beraliansi dengan Jerman, melainkan karena orang Inggris menganggap Nazi mengirimkan orang yang terlalu sombong. Ribbentrop membuat kesalahan fatal dengan memberikan salut Nazi (dengan mengangkat tangan kanan) kepada Raja Inggris George IV.

Dapat kita lihat pasca Perang Dunia II, Perubahan terjadi di segala sektor. Dalam hal ini, bahasa Isyarat yang menjadi salah satu penyebab perang, menyebabkan banyak sekali perubahan setelah perang berakhir. Baik dalam kebudayaan, peta geografis, sampai penggunaan bahasa di daerah-daerah taklukan.

Oleh : Muhammad Jundi Robbani


Related Posts :