Rabu, 18 Juli 2012

Mampukah Bulutangkis Mempertahankan Tradisi Emas Olimpiade?

Pekan depan, tepatnya 27 Juli 2012 dunia kembali diramaikan dengan pesta olahraga di London. Di Ibukota Inggris itu jago-jago dunia berkumpul demi mengukir prestasi termasuk 21 atlet dari Indonesia. Partisipasi Indonesia di Olimpiade 2012 bukan sebagai pesaing sebagai pengumpul medali emas terbanyak, tapi hanya sebatas mempertahankan tradisi medali emas yang sejak 1992 diraih Susi Susanti dan Alan Budikusuma di cabang bulutangkis. Sejak saat itu cabang tepok bulu angsa ini selalu mengharumkan nama negara. Terakhir medali emas disumbang pasangan ganda putra Markis Kido/Hendra. Bulutangkis kembali menjadi tumpuan harapan meraih medali emas, meski Kontingen Indonesia hanya mengirim 21 atlet dari tujuh cabang olahraga.

Kali ini cabang bulutangkis diwakili Taufik Hidayat dan Simon Santoso di tunggal putra, Adriyanti Firdasari, tunggal putri, Meliana Jauhari dan Gresya Polii, ganda putri, Bona Septano dan M. Ahsan untuk ganda putra serta ganda campuran Tontowi Ahmad dan Lilyana Natsir. Sedangkan juara bertahan Kido/Hendra gagal menembus kualifikasi. Persaingan yang kian sengit di cabang bulutangkis membuat seluruh pemain harus bekerja ekstra keras. Di ajang Olimpiade, bukan semata ketrampilan si atlet yang bias merembut medali emas, tapi faktor keberuntungan ikut mempengaruhi keberhasilan. Sukses Alan Budikesumua meyabet medali emas, sebagai contoh nyata. Dibanding rekan-rekan seangkatan ketika itu, prestasi suami Susi Susanti ini terbilang kurang menonjol dibanding Ardy B Wiranata, Joko Suprianto ataupun Hermawan Susanto. Tapi, bila berhadapan dengan sesama rekannya Alan begitu perkasa. Sulit pemain lain mengalahkan Alan.

Faktor Luck ternyata berpihak pada pemain kelahiran Surabaya itu. Di semifinal, ia berhadapan dengan rekan senegaranya Hermawan. Sedangkan semifinal lainnya mempertemukan Ardy dengan pemain Cina. Alan dan Ardy sukses membekab lawan-lawannya. Dan, jadilah pertemuan antara Alan dan Ardy di final. Memang, sudah diprediksi sebelumnya Alan bakal mampu mengungguli Ardy. Jadilah Alan menyandingkan medali emasnya dengan peraih medali emas putri Susi Susanti. Kini dengan semakin sengitnya persaingan dengan kekuatan yang merata, cabang bulutangkis kembali didampuk untuk meraih medali emas. Untuk mewujudkannya, pemerintah menjanjikan akan memberi bonus Rp 1 milyar bagi peraihnya, dari cabang manapun ia. Bagi si atlet tampil di Olimpiade bukan semata mengejar bonus, tapi mendulang prestasi meraih emas. Karena dengan sukses meraih emas, namanya akan terukir sepanjang masa di pentas multi event dunia.

Tidak seperti sebelumnya, Pengurus Besar Bulutangkis Indonesia (PBSI) jauh-jauh hari sudah memperhitungkan, cabang andalan ini bakal mampu meraih medali emas, untuk Olimpiade kali ini PBSI tidak terlalu optimis, tapi juga tidak pesimistis. Ganda putra Bona/Ahsan dan ganda campuran Tontowi/Lilyana memiliki peluang sangat besar untuk menjadi peraih emas. Berbeda di tunggal putra yang masih mengandalkan pebulutangkis ‘gaek ‘ Taufik Hidayat dan Simon Santoso hampir mustahil keduanya bias meraih medali emas. Para pesaingnya seperti Lin Dan, Chen Jin, Chen Long (Cina) dan Lee Chong Wei (Malaysia) begitu sulit dan kokoh untuk dibendung. Sekadar untuk meraih medali perunggu saja rasanya hampir mustahil. Ini bukan tanpa alasan. Taufik Hidayat dan Simon hampir tidak pernah menang dari Lin Dan dan Chong Wei. Begitu juga dengan Chen Jin, kedua pemain andalan Indonesia ini sulit menang. Di tunggal putri sami mawon. Untuk sampai ke perempatan final sudah merupakan prestasi luar biasa.

Harapan besar justru ada pada ganda campuran Tontowi/Lilyana. Tapi, penampilan pasangan yang sukses juara All England, masih mengkhawatirkan. Bahkan dihadapan pendukungnya di Indonesia Terbuka, Tontowi/Lilyana menyerah dari ganda campuran Thailand yang selama ini selalu dikalahkannya. Artinya penampilan dan mental ganda campuran Tontowi/Lilyana masih labil, tidak cepat membaca perubahan dari permainan lawan. Mereka juga sulit keluar bila mendapat tekanan. Tontowi juga sering memperlihat jiwa mudanya, terlalu terburu-buru atau bernapsu ‘membunuh lawan’. Bila dalam sisa waktu ini tidak segera dibenahi, bukan tak tak mungkin ganda campuran ini gagal mewujudkan mimpinya meraih medali emas. Juga dengan pasangan Bona/Ahsan masih butuh waktu untuk mematangkan permainannya. Tentu kita berharap, cabang bulutangkis tetap bias mempertahankan tradisi emasnya yang selama ini diraihnya. Semoga

Oleh : Sampurno Hernugroho


Related Posts :