Sabtu, 21 Juli 2012

Mengelola Sampah Rumah Tangga (bagian 2)

Sampah Organik

Pada bagian pertama sudah dibahas bahwa sampah rumah tangga ada dua jenis yaitu sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik). Nah, pada bagian kedua ini akan dibahas tentang berbagai upaya pengelolaan sampah organik rumah tangga. Sebelum membahas masalah pengelolaan sampah organik rumah tangga, terlebih dahulu Anda perlu memahami sifat-sifat sampah organik. Berikut adalah beberapa sifat umum dari sampah organik rumah tangga, yaitu:
  • Berasal dari bahan-bahan organik seperti sisa-sisa makanan, sisa sayuran, kulit buah, buah atau sayur yang sudah busuk, makanan basi dan lain-lain.
  • Basah dan mudah berair, membusuk dan berbau.
  • Cepat mengundang serangga seperti semut, kecoa dan sejenisnya untuk berkumpul. Sehingga, tempat penumpukan sampah organik sangat rentan menjadi sumber penyakit.
  • Bisa diurai (didekomposisi) oleh mikroorganisme tanah secara alami.

Pengelolaan Sampah Organik Rumah Tangga

Dari sifat-sifat sampah organik rumah tangga yang diungkapkan di atas, maka dapat diambil berbagai tindakan pengelolaan yang efektif. Agar sampah-sampah basah tersebut tidak mengotori dan mengganggu kebersihan dan kenyamanan rumah Anda.

Berikut adalah beberapa tindakan pengelolaan sampah organik rumah tangga yang bisa Anda lakukan secara mandiri.

Pertama: Penumpukan dan penimbunan

Cara pertama ini adalah cara pengelolaan sampah organik rumah tangga yang paling mudah dan murah. Sampah organik yang sudah dipisahkan dikumpulkan pada satu tempat tertentu misalnya dalam sebuah lobang galian. Setelah lobang galian tersebut penuh, maka sampah ditimbun agar tidak menimbulkan bau dan mengundang bibit penyakit. Dengan cara ini, secara alami sampah akan terdekomposisi oleh mikroorganisme tanah. Sehingga permasalahan sampah dapat diselesaikan dengan baik.

Kelemahannya, cara ini membutuhkan lahan galian untuk menimbun sampah. Cara ini tentu saja sulit di lakukan di daerah perkotaan yang padat penduduk dan miskin lahan kosong. Selain itu, proses dekomposisi sampah membutuhkan waktu yang lama, sementara produksi sampah organik rumah tangga selalu ada setiap harinya. Sehingga, cara ini tentu saja sulit untuk dilakukan di daerah yang miskin lahan kosong seperti wilayah perkotaan.

Beberapa pihak memberikan solusi dengan memanfaatkan biopori yaitu lobang penyerapan air yang banyak digalakkan di kota-kota besar. Biopori dibuat dengan cara mengebor permukaan tanah hingga kedalaman tertentu. Dengan adanya biopori ini maka air hujan yang biasanya menggenangi halaman atau pekarangan rumah bisa diserap dengan cepat melalui biopori ini. Nah, sampah-sampah organik rumah tangga dirajang kecil-kecil, kemudian dimasukkan ke dalam lobang biopori. Dan dalam biopori ini sampah organik tersebut diuraikan oleh mikro organisme tanah.

Kedua: Pembakaran

Pembakaran adalah cara pengelolaan sampah yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat, Namun cara ini tidak disarankan untuk daerah yang padat penduduk. Karena, dapat menimbulkan polusi udara. Asap hasil pembakaran mengandung senyawa kimia berbahaya bagi kesehatan.

Ketiga: mengolah sampah menjadi pupuk organik

Nah, cara pengelolaan sampah organik rumah tangga yang disarankan adalah dengan mengolahnya menjadi pupuk organik. Dewasa ini sudah banyak ditemukan metode-metode pengolahan sampah menjadi pupuk organik. Salah satu diantaranya adalah dengan cara pengomposan.

Tahukah Anda, ternyata metode pengomposan ini juga ada bermacam-macam. Produknya pun tidak hanya pupuk kompos padat, akan tetapi juga pupuk kompos cair. Bagaimana teknisnya? Insya Allah akan dibahas pada tulisan selanjutnya.

Bersambung…

Oleh: Neti Suriana


Related Posts :