Sabtu, 21 Juli 2012

Mengelola Sampah Rumah Tangga (bagian 3)

Pengomposan

Pengomposan adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengubah sampah-sampah organik menjadi pupuk yang bermanfaat untuk menyuburkan tanaman. Pada pembahasan kali ini akan dibahas metode-metode sederhana pengomposan yang bisa dilakukan secara mandiri di rumah. Secara umum berdasarkan bentuknya pupuk kompos yang dikenal dewasa ini ada dua macam yaitu pupuk kompos padat dan pupuk kompos cair.

Pupuk Kompos Padat

Pupuk kompos padat paling umum dikenal di masyarakat. Pupuk ini dibuat dengan memanfaatkan bahan-bahan sebagai berikut:
  • Sampah organik rumah tangga seperti sisa-sisa makanan, sayuran dan buah yang sudah busuk, sisa sayuran yang tidak terpakai. Bisa juga ditambahkan seresah-seresah daun, ranting, jerami dan sampah organik lainnya. Agar proses pengomposan lebih cepat bahan-bahan dari sampah organik ini dirajang terlebih dahulu.
  • Kotoran ternak
  • EM 4 sebagai dekomposer

Proses membuatnya sangat sederhana. Pertama sampah organik rumah tangga yang sudah dikumpulkan, ditumpuk membentuk lapisan setebal lebih kurang 30 cm di atas tanah. Selanjutnya di atas lapisan tersebut ditumpuk dengan lapisan kotoran ternak. Kemudian ditumpuk lagi dengan sampah organik demikian seterusnya hingga semua bahan habis ditumpuk berlapis-lapis. Agar proses pengomposan berlangsung lebih cepat, pada setiap lapisan disiram dengan dekomposer, dalam hal ini bisa digunakan EM4. EM4 bisa didapatkan di toko-toko pertanian, atau dibuat sendiri.

Tumpukan kompos harus dijaga agar selalu dalam kondisi basah dan ditutup dengan terpal atau diberi atap untuk melindungi pengomposan dari sinar matahari langsung dan hujan. Setiap satu minggu sekali tumpukan pengomposan dibongkar dan dibalik dan ditumpuk kembali. Pembongkaran dan pembalikan ini bertujuan agar proses pengomposan berlangsung merata di semua lapisan. Rata-rata setelah melewati 3-4 kali pembongkaran dan pembalikan proses pengomposan telah berlangsung sempurna.

Pupuk Kompos Cair

Membuat pupuk kompos padat dinilai kurang praktis, apalagi jika sampah yang dikomposkan hanya sampah rumah tungga. Terlalu ribet dan proses pengomposan tidak berkesinambungan.

Adalah Sukamto Hadisuwito seorang praktisi pertanian kemudian memperkenalkan metode praktis pengolahan sampah menjadi pupuk kompos cair. Sukamto menggunakan ‘komposter’ yaitu wadah yang terbuat dari tong plastik atau semen yang dilengkapi dengan sirkulasi udara untuk mengubah sampah organik rumah tangga menjadi kompos dalam waktu lebih kurang 10-12 hari. Di dalam bak komposter ini, sampah organik rumah tangga yang telah ditambahkan dengan aktivator kompos (dalam hal ini digunakan bioaktivator boisca) diolah menjadi pupuk kompos cair oleh mikroorganisme yang berasal dari bioaktivator tadi.

Apa yang dimaksud dengan bioaktivator boisca? Bioaktivator boisca adalah dekomposer cair dengan merk ‘boisca’ yang berfungsi mempercepat proses pengomposan.

Adapun teknik pengomposan yang dilakukan dengan menggunakan komposter ini adalah sebagai berikut:
  • Siapkan bak komposter pada posisi strategis, aman dan terlindung.
  • Sampah-sampah organik rumah tangga yang telah disisihkan dari sampah anorganik disiapkan. Sampah yang berukuran besar dirajang menjadi ukuran yang lebih kecil sehingga proses pengomposan lebih cepat dan sempurna. Kemudian dimasukkan ke dalam bak komposter.
  • Semprotkan bioaktivator boisca ke seluruh bagian sampah. Kemudian tutup bak komposter rapat-rapat.
  • Tunggu selama lebih kurang dua minggu, komposter akan menghasilkan kompos cair yang siap untuk digunakan. Dan selanjutnya pupuk kompos cair bisa dipanen setiap 1-2 hari sekali.

Keunggulan teknik pengomposan dengan cara ini adalah untuk proses pengomposan selanjutnya Anda tidak perlu mengulang proses pengomposan. Anda cukup memasukkan sampah organik yang sudah dirajang ke dalam bak komposter setiap hari. Jika diperlukan Anda bisa menambahkan bioaktivator boisca untuk mempercepat proses pengomposan. Selanjutnya pupuk kompos cair bisa dipanen setiap 1-2 hari sekali.

Bersambung…

Oleh: Neti Suriana

Sumber: Hakim, N. dkk. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung Hadisuwito, S. 2007. Membuat Pupuk Kompos Cair. Agromedia. Jakarta.


Related Posts :