Minggu, 22 Juli 2012

Mengelola Sampah Rumah Tangga (bagian 4-selesai)

Sampah Anorganik

Seperti halnya sampah organik, rumah tangga juga merupakan salah satu produsen sampah anorganik yang aktif. Hampir setiap hari ada saja sampah anorganik yang dihasilkan. Mulai dari plastik kresek yang setiap saat menjadi pembungkus favorit saat berbelanja, kaleng, botol air mineral, beling, hingga kardus.

Sampah anorganik ini memiliki sifat yang sangat berbeda dengan sampah organik. Oleh karena itu, ia juga menuntut teknis pengelolaan yang berbeda juga. Berikut adalah beberapa sifat dan ciri khas sampah anorganik:
  • Tidak bisa diurai oleh mikroorganisme tanah.
  • Bersifat kering, tidak membusuk sehingga dikenal juga dengan sebutan sampah kering.
  • eberapa jenis sampah anorganik bisa didaur ulang dan diubah bentuk dan fungsinya menjadi barang lain.

Pengelolaan Sampah Anorganik Rumah Tangga

Pengelolaan sampah anorganik menjadi penting diperhatikan. Mengingat sampah jenis itu tidak bisa diurai oleh mikroorganisme tanah. Karena, ketika sampah ini dibuang sembarangan, ia akan merusak lingkungan terutama tanah dan air.

Mengelola sampah anorganik memang tidak mudah. Produksi sampah jenis ini selalu meningkat setiap tahunnya, seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sementara upaya pengelolaan sampah anorganik masih sangat terbatas. Sehingga tidak jarang, sampah ini menjadi problem lingkungan yang pelik.

Oleh karena itu, upaya pengelolaan sampah anorganik ini sangat menuntut peran serta masyarakat sebagai subjek. Salah satu diantaranya adalah dengan membudayakan hidup bersih, tertib dan hemat. Termasuk dalam hal menghemat penggunaan plastik dalam aktivitas sehari-hari. Berikut adalah beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam pengelolaan sampah anorganik.

Pertama: Pisahkan sampah-sampah anorganik pada tempat yang terpisah dengan sampah organik.

Hal pertama yang wajib dilakukan dalam proses pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga adalah dengan memisahkan tempat pengumpulasn sampah organik dan anorganik. Pemisahan ini bertujuan untuk mempermudah proses pengelolaan sampah selanjutnya. Mengingat, sampah organik dan anorganik membutuhkan perlakuan yang berbeda pada pengelolaannya.

Kedua: Hemat dalam menggunakan plastik.

Plastik adalah salah satu contoh sampah anorganik yang paling banyak dihasilkan oleh rumah tangga. Karenanya, alangkah bijaknya jika Anda mulai berhemat dalam menggunakan plastik. Misalnya dengan membiasakan membawa plastik sendiri saat berbelanja ke pasar atau warung di sekitar Anda. Berusaha menolak plastik yang diberikan oleh penjual saat Anda membeli beberapa produk yang memungkinkan untuk dibawa langsung dengan tangan atau dalam tas tanpa plastik. Upaya sedikit sedikit banyak akan mengurangi produksi sampah plastik di rumah Anda.

Ketiga: Kreatif mengubah fungsi dan kegunaan barang

Banyak sampah-sampah anorganik yang bisa diubah fungsi atau kegunaannya sehingga bisa lebih bermanfaat sebelum dibuang. Contoh sederhananya plastik pembungkus minyak goreng bisa dimanfaatkan sebagai pot atau polibag, demikian juga dengan kaleng bekas biskuit dan lain sebagainya. Beberapa kardus yang bagus juga bisa disulap menjadi tempat penyimpanan barang, rak atau lemari unik. Sementara itu botol-botol beling yang unik juga bisa digunakan sebagai hiasan dan vas bunga.

Keempat: Kreatif mengubah bentuk barang.

Selain mengubah fungsi, Anda juga kreatif mengubah bentuk barang bekas atau sampah anorganik menjadi bentuk lain yang lebih memiliki nilai jual. Misalnya mengubah plastik pembungkus deterjen menjadi kerajinan tangan yang memiliki nilai jual tinggi. Mengubah kardus bekas menjadi hiasan dinding yang unik. Mengubah kardus bekas menjadi mainan edukatif. Mengubah plastik menjadi bunga yang cantik. Mengubah botol bekas air mineral menjadi kerajinan tangan yang unik. Hal ini merupakan salah satu upaya kreatif untuk mereduksi sampah anorganik. Ada dua keuntungan yang diperoleh dari upaya ini yaitu: mengurangi produksi sampah dan menambah penghasilan keluarga dari industri kreatif biaya rendah.

Kelima: Memusnahkan sampah dengan cara dibakar.

Upaya kelima ini adalah upaya pengelolaan sampah yang paling mudah namun tidak dianjurkan. Karena upaya ini dapat memicu pencemaran lingkungan terutama udara oleh asap hasil pembakaran. Jika terpaksa menggunakan upaya ini, ada baiknya memilih tempat yang jau dari pemukiman penduduk sebagai lokasi pembakaran sampah.

Oleh: Neti Suriana


Related Posts :