Kamis, 05 Juli 2012

Rekonsiliasi Setengah Hati

Pesta sepakbola Eropa telah usai. Kita sama-sama sudah mengetahui hasilnya, Spanyol menjadi juara setelah menang atas Italia 4-0. Dari pesta empat tahunan banyak pelajaran yang bias dipetik. Bagaimana menjadi tuan rumah yang baik dan membina sepakbola yang benar. Tapi, dari Piala Eropa 2012 yang diselenggarakan di Polandia dan Ukraina tak berpengaruh terhadap persepakbolaan Indonesia, meski imbas dari Piala Eropa itu gebyarnya tak kalah meriah dengan di Eropa. Sepakbola Indonesia masih tetap berkutat pada permasalahannya sendiri. Bahkan perseteruan dua kubu antara PSSI Pimpinan Djohar Arifin dengan PSSI KLB Ancol yang diketua La Nyalla Matalitti makin meruncing. Padahal PSSI sedang sibuk dengan penyelenggaraan Pra Kualifikasi Asia U-22 di Riau yang diikuti Australia, Jepang, Timor Leste, Makau dan Singapura yang mulai bergulir 5 Juli.

Perdamain yang dilakukan di Kuala Lumpur, pertengahan Juni silam yang membentuk Komite Bersama untuk menyelenggarakan Kongres, September mendatang tak digubris. Perdamaian di depan pejabat Federasi Sepakbola Asia (AFC) dan Federasi sepakbola Dunia (FIFA) hanya sebatas untuk menghindari ancaman sanksi dari FIFA apabila PSSI tak bias menyelesaikan permasalahan sendiri. Kedua kubu masih saja melancarkan perang urat syaraf yang mereka nilai melanggar butir-butir peraturan perdamaian. PSSI KLB Ancol yang semula mengizinkan pemain berasal dari Kompetisi Indonesia Super League (ISL) boleh memperkuat timnas U-22 secara mendadak menarik kembali. La Nyalla dalam suratnya yang bernomor 025/EXCO-PSSI/VI/2012 meminta kepada anggotanya melarang para pemainnya bergabung dengan timnas U-22. La Nyalla menilai PSSI Djohar Arifin telah melanggar isi kerjasama yang telah diteken di Kuala Lumpur, Juni lalu. Anggota PSSI KLB Ancol patuh terhadap surat edaran itu. Anggota klub yang sudah mengizinkan pemainnya bergabung dengan timnas, langsung menarik pemainnya.

Penarikan pemain ISL tentu membuat pusing duet pelatih Aji Santoso dan Widodo Cahyono Putra. Pelatih sangat membutuhkan tenaga pemain yang bergabung dengan ISL karena telah mempunyai pengalaman berkompetisi. Seperti Ramdani Lestaluhu dan Andritany merupakan pilar Persija ISL. Begitu juga dengan Septia Hadi dari Sriwijaya, juga menjadi pilar utama klubnya. Memang, tanpa pemain-pemain berasal dari ISL, timnas terasa berat mengingat target yang diemban Tim Garuda Muda ini lolos ke Piala Asia. Untuk memenuhi target itu, minimal timnas harus menjadi runner up.

Menyinggung permasalahan yang ada di tubuh persepakbolaan Indonesia , pengamat menilai rekonsialisi yang dihembuskan kedua kubu—Kubu Djohar Arifin dan Kubu La Nyalla -- hanya isapan jempol. Persyaratan yang diteken kedua kubu hanya sebatas lolos dari sanksi FIFA, masing-masing kubu tetap mempertahankan egoismenya yang lebih mementingkan kubunya masing-masing. Kubu Djohar Arifin terus melangkah dengan program-programnya, selain tetap menerjunkan timnas U-22, PSSI Djohar Arifin telah mengutus Semen Padang ke Liga Champions Asia. Padahal sejak perjanjian diteken, kompetisi ISL telah diakui. Tapi juara ISL, Sriwajaya FC tak diberi kesempatan untuk berlaga di level yang lebih tinggi. Padahal Indonesia mendapat dua jatah ke Liga Champions Asia dan satu tempat di Piala AFC.

Ternyata menyelesaikan permasalah di tubuh persepakbolaan Indonesia tak semudah yang diucapkan, semakin rumit. Bisa saja bila kedua kubu mempertahankan egonya berbagai program PSSI berkaitan dengan rekonsiliasi menjadi mentah. Tentu yang menjadi korban adalah pemain. Mimpinya ingin menjadi pemain nasional menjadi sirna akibat terganjal aturan yang dikelurkan klub. Dengan kekuatan yang utuh saja sepakbola Indonesia belum menunjukan prestasinya, terlebih dengan terjadi konflik dua kepengurusan dan dua kompetisi, semakin jauh harapan untuk berprestasi. Bila kedua kubu masih tetap mempertahankan egonya tanpa memperdulikan pasal-pasal yang tertera pada kerjasama, Rasnya sulit sepakbola Indonesia akan maju.

Oleh: Sampurno Hernugroho


Related Posts :