Kamis, 26 Juli 2012

Semua Pihak diminta Menahan Diri

Belum lagi Komite Bersama bentukan FIFA dan AFC bekerja untuk menyelesaikan persengketaan yang terjadi di tubuh PSSI, kedua pihak terus melakukan manuver yang memperkeruh suasana. PSSI kubu Djohar Arifin, meski memiliki etiket baik telah membentuk tim nasional. Tapi, etiket itu dinilai melanggar klausal-klausal yang telah disepakati , yang salah satu butirnya kalau pembentukan tim nasional diserahkan pada Komite Bersama. Hingga kini Komite Bersama masih berkonsentrasi merumuskan sesuatu yang menguras pikiran dan tenaga. Pasalnya, dalam menyusun rumusan perdamaian harus adil. Munculnya dualisme kompetisi dan Kepengurusan PSSI disebabkan karena ketidakpuasan salah satu pihak. Berdasarkan data dan fakta ini, maka upaya pencitraan yang dilakukan pihak-pihak yang bersengketa akan memperkeruh dan mengganggu kinerja Komite Bersama. Djalal Azis, Wakil Ketua Komite meminta kedua belah pihak untuk menjalankan semua program yang telah disepakati pada pertemuan Komite Bersama dengan pihak-pihak yang berkompeten. Selain tidak ingin situasinya semakin keruh. Kesepakatan ini diambil untuk memberi ruang lebih baik Komite Bersama agar bias konsentrasi dalam bekerja.

Di saat Pengurus PSSI versi Ancol menahan diri, PSSI kubu Djohar Arifin terus bergerak menjalankan program di luar kesepakatan Komite Bersama dengan membentuk tim nasional dengan menunjuk pelatih Niel Maizar. Sedangkan kubu PSSI versi Ancol tetap tenang, meski tetap menyiapkan pembentukan tim nasional yang nanti akan dibesut Alfred Riedl Bahkan upaya pencitraan dilakukan PSSI kubu Djohar dengan mengundang pemain dari Indonesia Super League (ISL) bergabung untuk memperkuat timnas yang diterjunkan di Piala AFF 2012 yang akan bergulir 24 November di Thailand dan Malaysia tanpa meminta izin dari klub.

Dalam sepakbola juga mempunyai aturan selain etika. Berdasarkan kontrak profesional antara klub dengan pemain ada klausal-klausal yang berisikan hak dan kewajiban. Klub memiliki hak penuh terhadap kepemilikan pemain. Pemain mempunyai kewajiban untuk bermain atas nama klub. Menurut Djoko Driyono, anggota Komite Bersama dan Pengelola ISL mengatakan Pengurus Djohar Arifin telah memaksa dan mengintimidasi pemain yang bergabung di klub ISL. Ini merupakan pelanggaran kesepakatan . Kubu Djohar ingin menegaskan kalau pihak klub anggota ISL masih melarang pemainnya membela timnas maka dipastikan tidak akan mempan. Apa yang dilakukan tidak akan berpengaruh terhadap kerja dari Komite Bersama .

Di lain pihak, meski tidak pernah sungkan saat berkomunikasi dengan banyak pihak, termasuk pers, tapi saat disinggung kemungkinan pertemuan lanjutan Komite Bersama yang dijadwalkan 30 Juli 2012, jawaban La Nyalla selalu sama menunggu dan berdoa agar kemelut sepakbola di tanah air segera berakhir sehingga pembinaan sepakbola bias berjalan sesuai program. Kepada semua pihak dan kepada seluruh pengurus PSSI dihimbau memberi kesempatan Komite Bersama menyelesaikan kinerja. Kerja Komite Bersama juga dipantau AFC, karena komite unu bentukan FIFA dan AFC yang sudah harus menyelesaikan tugasnya 24 September mendatang.

La Nyalla mengatakan ada satu kebodohan yang diperlihatkan kubu Djohar Arifin adalah upaya melawan keputusan final CAS yang memenangkan Persipura. Dalam keputusan yang dikeluarkan tertanggal 27 Maret, CAS mewajibkan PSSI kubu Djohar Arifin mebayar 5 ribu franc Swiss atau sekitar Rp 50 juta. Menurut La Nyalla, lucu aja kubu Djohar mengajukan banding ,. Keputusan CAS sebagai peradilan tertinggi di olahraga tidak bias dibanding. Jelas, kepengurusan Djohar Arifin semkain limbung. Bingung apa yang akan dikerjakan. Kita lihat sampai di mana kinerja mereka dalam melakukan Bandung. Kabarnya konon mereka akan banding lewat Mahkamah Peradilan di Swiss.

Oleh: Sampurno Hernugroho


Related Posts :