Minggu, 22 Juli 2012

Timnas Hanya Satu

Pada saat Komite Bersama bentukan AFC berkerja, perang komentar dari kedua kubu yang berseteru tetap tak tertahankan. Kubu Ketua Umum PSSI Djohar Arifin tetap pada kebijakannya tetap akan mengirim Semen Padang ke Liga Champions Asia. Di lain pihak kubu La Nyalla Matalitti ngotot menerjunkan Sriwijaya FC sebagai juara ISL. Begitu juga dalam pembentukan timnas yang akan diterjunkan di Piala AFF, Djohar menetapkan Niel Maizar sebagai pelatih, sedangkan kubu PSSI versi Ancol telah mendatangkan pelatih Fred Reidl. Seharusnya kedua kubu bias menahan diri sebelum pelaksanaan Kongres yang akan berlangsung 24 September berlangsung sehingga tidak membuat semakin runcing permasalahan.

Untuk mendamaikan kedua kubu yang bermasalah memang tak mudah. Kedua belah pihak masih menunjukkan egonya, meski sudah terbentuk Komite Bersama. Ada kesan seolah-olah kubu La Nyalla sudah memenangkan pertarungan sehingga memaksakan kehendakannya dengan menunjuk Sriwjaya FC sebagai wakil Indonesia di Liga Champions. Bahkan La Nyalla telah memastikan bahwa Kompetisi Liga Primer bentukan PSSI Djohar sudah tidak ada, yang ada hanya Liga Super Indonesia. Tentu hal ini bertolak belakang dengan perjanjian saat penandatangani perdamaian di Kuala Lumpur, medio Juni silam. Dari perdamaian itu dibentuklah Komite Bersama yang menempatkan orang-orangnya dari kedua kubu. Salah satu tugas Komite Bersama merumuskan sistem kompetisi yang menggabungkan antara IPL sebagai kompetisi resmi yang diakui FIFA dan ISL kompetisi bentukan kubu La Nyalla.

Melihat jadwal yang telah ditepatkan pada 24 September baru akan dilangsungkan Kongres, waktunya sangat mepet dengan pembetukan tim nasional (timnas) yang diterjunkan di Piala AFF yang bergulir mulai 24 November. Praktis persiapan timnas hanya dua bulan, sedangkan target yang dibebankan pada Tim Garuda ini juara. Rasanya melihat persiapan yang mepet, berat perjuangan timnas di turnamen dua tahunan ini. Belum lagi bila terjadi deadlouck, persiapan bakal mundur lagi. Sedangkan kompetisi baik, IPL maupun ISL sudah usai yang sudah tentu menjadi dilema bagi sang pelatih untuk mengembalikan kondisi pemain dalam waktu singkat. Padahal titik kelemahan pemain Indonesia adalah fisik. Kedua kubu sudah menyadari kalau misi utamanya adalah membetuk timnas Piala AFF. Tapi mereka tetap kukuh pada pendiriannya masing-masing dengan argumentasi masing-masing. Seharusnya mereka sadar misi ini adalah misi negara yang harus didukung semua pihak.

Saya teringat ungkapan Ketua Umum KONI Pusat Tono Suratman beberapa waktu silam saat PSSI mempersiapan tim melawan Bahrain pada pertandingan terakhir babak kualifikasi Piala Dunia 2014. Tono mengatakan kalau tim nasional hanya satu, bukan dua. Sebagai milik seluruh bangsa dibutuhkan kesatuan dan persatuan untuk membentuk timnas yang tangguh. Tono Suratman, mengajak semua pihak untuk menghimpun kekuatan bersama mendukung keberadaan timnas. Dengan hanya satu timnas, kekuatan timnas menjadi lebih utuh dan tangguh. Diharapkan baik PSSI maupun PSSI versi Ancol untuk mendukung keberadaan timnas. Menyikapi adanya keinginan kubu La Nyalla Matalitti yang meminta KONI Pusat yang membentuk timnas, Tono mengatakan yang membentuk timnas itu pelatih yang ditunjuk oleh federasi yang diakui pemerintah maupun KONI Pusat. KONI kata Tono tak akan membentuk timnas. KONI hanya sebagai pengayom induk-induk olahraga. Dan, KONI Pusat tidak akan ikut campur terlalu dalam untuk menyelesaikan dualisme yang terjadi di PSSI. KONI Pusat hanya sebagai fasilitator dan menunggu hingga 24 September usai Kongres yang ditetapkan Komite Bersama.

Oleh: Sampurno Hernugroho


Related Posts :