Rabu, 01 Agustus 2012

Apakah Anda Suka Dibohongi?

Apakah Anda suka dibohongi? Ya, siapa pun yang mendapat pertanyaan ini pasti menjawab, tidak. Manusia mana sih yang senang dibohongi? Kebohongan adalah salah satu bentuk ketidak jujuran atau informasi yang disampaikan tidak sesuai dengan fakta sebenarnya. Ia merupakan salah satu bentuk virus yang dapat merusak hubungan baik, kerjasama dan melumpuhkan kepercayaan yang sudah terbangun.

Begitu besarnya dampak buruk yang ditimbulkan oleh kebohongan. Begitu tidak nyamannya seseorang ketika dihadapkan pada kenyataan dibohongi. Sehingga, dibohongi merupakan suatu kenyataan yang paling dihindari oleh siapa pun. Bahkan, seseorang yang telah terbukti melakukan kebohongan secara otomatis oleh masyarakat akan dicap sebagai pembohong. Dan, ia akan dijauhi dan akan sulit mendapat kepercayaan lagi dari orang lain.

Namun demikian, ternyata tanpa disadari kita sering membohongi diri sendiri. Dan, kita menikmati kebohongan itu, tanpa ada keinginan kuat untuk keluar dari kebohongan tersebut. Bahkan terkadang dengan bangga kita mengungkap kebohongan tersebut di depan orang lain. Mengapa bisa demikian? Atau jangan-jangan kita tidak menyadari bahwa hal itu sebuah kebohongan terhadap diri sendiri?

Baik, untuk membuktikan apakah diri kita termasuk orang yang suka membohongi diri sendiri atau tidak, mari sama-sama kita memperhatikan kebiasaan kita sehari-hari. Mulai dari yang terbesar hingga kebiasaan terkecil yang hampir tidak pernah kita perhatikan. Adakah unsur kebohongan di sana? Adakah kebiasaan-kebiasaan tersebut mengandung manipulasi agar terlihat baik, agar terkesan benar?

Oh, mungkin Anda kesulitan menemukan unsur kebohongan dalam kebiasaan sendiri. Baik, sekarang mari kita ambil beberapa contoh sederhana dari kebiasaan umum yang sering dilakukan dalam kehidupan kita sehari-hari dan ternyata kebiasaan tersebut merupakan salah satu upaya untuk membohongi diri kita sendiri. Dan ternyata hampir semua yang melakukan kebiasaan yang membohongi diri sendiri tersebut menikmatinya, dan menganggap itu sebagai sesuatu yang biasa dan harus dilakukan.

Contoh sederhana, coba perhatikan atau ingat-ingat kembali. Apakah jam atau penunjuk waktu di rumah kita di setting dengan benar? Atau dengan sadar kita sengaja mempercepatnya beberapa menit dari waktu seharusnya? Kebiasan mempercepat jarum jam beberapa menit ini biasanya dimaksudkan agar bisa bergerak lebih cepat dari biasa. Kebiasaan ini dimaksudkan untuk menghindari keterlambatan, memberikan efek kejutan atau dorongan untuk bersegera ketika jarum jam menunjukkan batas waktu yang ditentukan sementara pekerjaan belum selesai atau persiapan belum beres. Sehingga kita pun kemudian tergesa-gesa untuk bergerak.

Nah, jika Anda adalah termasuk salah satu orang yang memiliki kebiasaan seperti ini, berarti Anda sebenenarnya senang dibohongi. Bahkan dengan sukarela membohongi diri Anda sendiri, sekalipun hanya dengan beberapa menit jarum jam yang dicepatkan dari seharusnya.

Padahal, ketika menyadari jam itu sudah disetting cepat sekian menit, dengan sendirinya otak kita, pikiran kita secara alami juga akan ikut mengkalkulasi waktu yang dicepatkan tadi. Meski terkadang tidak kita sadari. Akhirnya tidak ada jaminan, mempercepat jarum jam beberapa menit akan menyelesaikan masalah jam karet yang melengket pada kebiasaan kita. Yang harus kita lakukan sebenarnya adalah melatih diri untuk disiplin dengan waktu, bukan membohongi diri dengan hal-hal kecil.

Oleh: Neti Suriana


Related Posts :