Kamis, 09 Agustus 2012

Budaya Instan di Sekitar Kita (Bagian 1): Budaya Instan Petani

Apa yang dimaksud dengan budaya instan? Budaya instan berasal dari dua kata yaitu budaya dan instan. Budaya bisa diartikan sebagai kebiasaan, gaya hidup atau pola pikir. Sementara instan bisa diartikan dengan sesuatu yang tiba-tiba, seketika, cepat, tanpa proses yang panjang. Jadi budaya instan adalah kebiasaan atau gaya hidup atau pola pikir yang selalu mengingin segala sesuatunya diperoleh dengan cepat, jika perlu saat itu juga.

Secara umum, budaya instan ini bisa dilihat dari dua sisi yaitu sisi positif dari sisi negatif. Sisi positifnya, budaya ini mendidik kita untuk menghargai waktu, bergerak lebih cepat dan mengusahakan sesuatu seefisien mungkin. Sementara sisi negatifnya juga ada yaitu budaya instan cenderung lebih berorientasi pada hasil, dan tidak jarang melupakan proses. Padahal, baik buruknya hasil sangat ditentukan oleh rangkaian dari proses demi proses.

Budaya instan saat ini telah menjangkiti semua sektor dan sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat indonesia. Mulai dari sektor pertanian, pendidikan, makanan, dan berbagai sektor lainnya. Perkembangan budaya instan ini dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya pengaruh budaya luar, kemajuan teknologi, pengaruh sistem kapitalis dan sebagainya.

Budaya Instan Petani

Budaya instan petani berarti, pola pikir petani yang selalu menginginkan hasil yang cepat dari sebuah usaha budidayanya. Biasanya petani yang berpikiran seperti ini sangat tanggap terhadap teknologi baru yang menjanjikan hasil instan. Seperti teknologi pemberantasan gulma dengan herbisida, teknologi penggunaan pupuk kimia yang menjanjikan hasil cepat dan sebagainya.

Ya, budaya instan menyebabkan petani lebih berorientasi pada hasil yang banyak dan cepat. Petani tidak lagi memikirkan keselamatan lingkungan, tidak lagi memikirkan cara bercocok tanam yang baik dan lain sebagainya. Landasan mereka dalam memilih produk atau teknologi budidaya hanyalah hasil. Apa produk atau teknologi yang menjanjikan hasil yang baik itulah yang mereka pilih.

Misalnya, herbisida apa yang bisa membasmi gulma dengan cepat? Pestisida apa yang bisa membasmi hama dengan seketika. Pupuk apa yang menjanjikan hasil panen yang berlimpah?

Sepintas tidak ada yang salah dengan cepatnya tanggapan petani terhadap teknologi baru yang dapat memudahkan kerja dan meningkatkan hasil pertanian berkali lipat dari sebelum menggunakan teknologi tersebut. Justru hal itu yang diharapkan saat ini. Namun, penerapan teknologi dengan tidak bijak akan memberikan efek buruk pada akhirnya. Baik terhadap kualitas hasil, lingkungan maupun manusia sebagai pelaku budidaya maupun konsumen hasil budidaya nantinya.

Seperti halnya makanan instan, dari segi rasa enak, dari segi penyajian praktis, namun dari sisi kesehatan dalam jangka panjang tidak aman dan cenderung tidak baik. Demikian juga dengan budaya instan yang berkembang di kalangan petani.

Pola pikir instan selalu menuntun pelakunya untuk mencari kemudahan dan kepraktisan. Tanpa memikirkan dampak pada diri, lingkungan dan keberlangsungan dari budidaya pertanian jangka panjang. Seperti, penggunaan pupuk, pestisida dan herbisida yang tidak terkontrol berpotensi mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan mahluk hidup dalam jangka panjang dan jakauan yang luas. Hama yang mulai resisten dengan berbagai dosis pestisida. Tanah yang mulai mengeras dan miskin hara akibat aplikasi pupuk kimia yang terus menerus. Semua adalah dampak negatif yang mengintai di balik budaya instan petani.

Di sisi lain, budaya instan ini merupakan salah satu penghalang terbesar kesuksesan program pertanian organik. Karena, proses yang harus dijalani dalam teknik budidaya organik sangat jauh dari kata instan. Budidaya organik sangat menekankan pada proses alami dan mekanis yang sangat jauh dari kata praktis. Sehingga, siapa pun yang telah terbuai dengan budaya instan sistem pertanian konvensional akan enggan untuk bergerak menyambut gerakan go organic. (bersambung…)

Oleh: Neti Suriana


Related Posts :