Kamis, 09 Agustus 2012

Budaya Instan di Sekitar Kita (bagian 2): Makanan Instan

Budaya instan dan industri makanan dewasa ini tidak bisa dipisahkan. Bahkan, kata ‘instan’ sudah demikian lengket dengan industri makanan. Apalagi dalam kehidupan masyarakat modern yang semakin sibuk dan menuntut segala sesuatunya berlangsung secara cepat.

Awalnya makanan instan menjadi pilihan karena alasan kesibukan yang tidak memungkinkan seseorang untuk mengolah masakan secara konvensional. Makanan instan menjadi pilihan di saat himpitan deadline pekerjaan yang memangkas kesempatan untuk menyediakan menu makanan di meja makan. Atau bumbu instan menjadi pilihan favorit ketika kesempatan untuk mengolah masakan semakin sempit.

Namun perkembangan selanjutnya, makanan instan seakan menjadi gaya hidup dan kebutuhan. Manusia semakin dimanja oleh membanjirnya produk-produk instan di pasar-pasar. Seperti mie instan beragam rasa dan merek bisa ditemukan dengan mudah di mana-mana. Memudahkan siapa pun yang tidak memiliki waktu banyak untuk menenangkan perut yang mulai lapar. Bumbu instan untuk berbagai jenis makanan, hadir untuk memberikan solusi bagi para ibu yang tidak memiliki waktu banyak di dapur namun tetap ingin menyediakan masakan sendiri untuk keluarganya. Minuman instan yang memberikan kepraktisan bagi para konsumennya untuk menikmati minuman aneka rasa dengan mudah dan cepat. Bahkan aneka resep kue instan juga sudah bisa ditemukan dengan mudah saat ini.

Perkembangan budaya instan dalam industri makanan dewasa ini tidak mungkin dibendung. Semakin hari keberadaan produk-produk instan itu semakin dibutuhkan. Mengingat, produk-produk alami dan segar memiliki jangka waktu simpan yang terbatas. Sementara ketersediaan produk tersebut tidak selalu ada di suatu daerah, dan terkadang menumpuk di daerah tertentu. Salah satu solusi terbaik agar produksi yang menumpuk ini tidak terbuang sia-sia adalah dengan mengolahnya menjadi produk instan yang bisa tahan lama, sehingga bisa didistribusikan ke daerah lain yang membutuhkan tanpa perlu khawatir membusuk atau rusak. Selain itu daya simpan produk instan lebih lama dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada ketika dijual dalam bentuk segar.

Namun di sisi lain, berkembangnya industri makanan instan juga dipandang sangat tidak sejalan dengan prinsip hidup sehat. Mengingat, produk-produk makanan instan dalam proses pengolahannya banyak menggunakan zat-zat kimia yang tidak ramah terhadap kesehatan tubuh. Seperti zat pengawet, zat pewarna dan zat-zat tambahan lainnya. Konon kabarnya, banyak terjadinya kasus-kasus penyakit degeneratif dewasa ini adalah salah satu dampak negatif dari mengkonsumsi makanan instan secara berlebihan.

Selain itu, membanjirnya produk-produk instan ini cenderung membuat orang-orang menjadi malas dan tidak kreatif lagi dalam urusan mengolah makanan. Segala bentuk kepraktisan yang ditawarkan oleh produk instan membuat mereka semakin malas untuk bersusah payah mengolah bumbu, menakar resep untuk adonan kue, dan lain sebagainya. Sehingga tidak heran jika sekarang banyak remaja putri dan ibu-ibu muda yang tidak kenal lagi dengan berbagai jenis bahan bumbu dapur. Mereka sudah terbiasa menggunakan bumbu instan siap pakai yang di sana sudah tersedia aneka bahan bumbu yang dibutuhkan untuk suatu jenis masakan tertentu. Meskipun hasil olahan masakannya jelas akan memberikan cita rasa berbeda dengan bumbu alami yang diolah sendiri.

Jadi, budaya instan dalam industri makanan di era modern ini adalah suatu keniscayaan. Kita memang tidak akan bisa lepas dari perkembangan ini. Namun, sebagai konsumen kita tetaplah harus bijak dalam mengkonsumsi, mengingat berbagai dampak negatif yang ditimbulkan oleh produk makanan instan yang kurang ramah dengan kesehatan tubuh. Selektif dalam memilih produk instan yang aman dengan memperhatikan label, komposisi dan kredibilitas produsen. Dan tidak mengkonsumsi produk instan secara berlebihan adalah pilihan terbaik dalam upaya menyayangi dan menjaga kesehatan tubuh.

(bersambung…)

Oleh : Neti Suriana


Related Posts :