Minggu, 26 Agustus 2012

Buku Murah Untuk Semua

Banyak sekali surat kabar yang menuliskan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih lemah. Tapi apa benar demikian? Benarkah minat baca masyarakat umumnya rendah atau daya jangkau masyarakat yang kurang memadai karena harga kertas yang kian mahal?

Pemerintah sudah menyiasati hal ini dengan membeli sejumlah hak cipta untuk buku pelajaran yang sudah lolos dalam standarlisasi. Hal ini tentu sedikit banyak membantu masyarakat yang kurang mampu dan sejumlah penulis buku yang bukunya lolos seleksi tersebut. Pertanyaannya sekarang adalah sampai berapa lama standar tersebut masih dapat bertahan dan digunakan? Apakah bisa bertahan selama 15 tahun selama hak cipta tersebut masih milik pemerintah? Bagaimana jika pada tahun-tahun tersebut ilmu pengetahuan terus berkembang dan isi dari buku tersebut sudah tidak relevan lagi? Apa si penulis mau merevisi buku tersebut tanpa bayaran lagi? Apa penerbit swadaya yang sudah terlanjur mencetak buku, mau menariknya kembali dan mencetak buku yang sudah direvisi—mengingat berapa banyak penerbit swadaya yang berani menjual buku yang hak ciptanya sudah dibeli pemerintah itu dengan harga maksimal yang sudah ditetapkan?

Satu lagi pertanyaan krusial yang tak kalah pentingnya adalah—Apakah buku itu menjadi buku wajib nasional yang digunakan semua sekolah atau hanya sebagian sekolah yang menggunakannya karena setiap sekolah mempunyai kebijakannya masing-masing.

Jika buku tersebut menjadi buku wajib nasional, maka penulis buku pelajaran lainnya di negeri ini akan menyurut tajam dan kreativitas-kreativitas mereka akan hilang begitu saja. Ini tidak ada bedanya dengan mengekang kebebasan pers. Kebebasan untuk menyuarakan, memberitakan atau menuliskan suatu kejadian tanpa ada tekanan dari pihak mana pun. Tapi andaikan buku-buku itu tidak menjadi buku wajib nasional, maka upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan program buku murah akan sia-sia belaka.

Orangtua yang dalam kondisi tidak mampu sudah merasa bersyukur apabila anaknya bisa bersekolah, lulus dan mendapat ijasah. Beban mereka terlalu berat sehingga mereka tidak memperhatikan lagi kualitas dari buku yang disediakan pemerintah asalkan harganya murah. Apalagi ilmu eksak itu umumnya dilupakan setelah lulus dari sekolah dan sewaktu dalam pembelajaran pun murid-murid sendiri masih mempertanyakan kegunaannya di dunia nyata.

***

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk meragukan kualitas buku pelajaran yang sudah lulus standarlisasi walaupun pepatah siapa yang mengawasi pengawas? juga tidak boleh dilupakan. Siapa yang menilai penilai?

Tulisan ini mempertanyakan apakah minat baca masyarakat Indonesia memang lemah ataukah harga buku yang makin mencekik leher sehingga ada beberapa yang sudah melebihi harga susu bayi. Mana yang Anda pilih? Buku bacaan yang menghibur atau susu untuk bayi anda?

Pemerintah beralasan bahwa harga buku mahal karena harga kertas melambung tinggi. Lalu apa mereka tidak bisa memberikan bantuan subsidi untuk itu? atau mereka mengira tak ada gunanya memberi subsidi untuk hal-hal yang sifatnya menghibur seperti buku bacaan. Tapi, benarkah karya-karya klasik seperti Romeo and Juliet, Oliver Twist, Alice in the Wonderland, Dr Jekyl dan Mr Hyde dan yang lainnya hanya sekadar hiburan? Tanggal 14 Februari yang lalu ada banyak remaja yang merayakan Valentine sebagai pengungkapkan kasih sayang tapi tahukah mereka kalau sejarah Valentine tersebut dimulai dengan darah?

Romeo dan Juliet misalnya, frasa tersebut sudah sering kita dengar dan kita kenal sebagai salah satu dari Masterpiece karya Charles Dickens. Banyak orang yang sudah menonton film yang dibintangi Leonardo Dicaprio tapi berapa banyak yang sudah membaca buku karya Charles Dickens tersebut?

Oliver Twist yang dulu menjadi buku pegangan untuk anak-anak sekolah, kini masih bisa beredar karena sebuah penerbit swasta yang masih mengusahakannya. Begitu pula dengan Dr Jekyl dan Mr Hyde. Di luar sana, masih banyak buku-buku entah itu novel, cerita pendek, cerita anak, buku komputer, ilmu pengetahuan dan buku-buku pelajaran dengan harga selangit.

***

Kita sering kali lupa bahwa ‘pendidikan’ tidak hanya didapat dari sekolah. Dunia begitu luas dan berapa banyak buku yang terbit pun belum tentu mampu mengeksplorasi dunia ini. Jangankan dunia, dunia maya pun yang baru muncul puluhan atau belasan tahun yang lalu saja sampai sekarang masih banyak dijelajahi oleh netter-netter dan bisa dilihat berapa banyak buku yang membahas komputer dan internet di toko buku!

Zaman ini adalah zaman dimana kita sudah menjejakan kaki ke bulan. Beberapa buku dan film yang saya baca, mengisahkan tentang ide manusia ke bulan sudah ada dalam buku From the Earth to the Moon (yang sayangnya tidak ada dalam edisi Bahasa Indonesia) karya Jules Verne. Ide itu sudah bercokol sebelum NASA mengirimkan astronotnya dan berhasil membuat Neil Amstrong sebagai manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bulan.

“Satu langkah kecil manusia tapi lompatan besar untuk peradaban” apakah Neil sudah membaca buku Jules Verne dan mengenang kembali masa-masa itu sewaktu dia mengucapkan ucapannya yang terkenal sampai sekarang ini?

Jules Verne, yang banyak menulis buku-buku fiksi ilmiah membuat beberapa orang terinspirasi dan membuat ‘khayalan’ si pengarang menjadi nyata. Mengelilingi dunia dalam 80 hari (sekali lagi, mohon maaf, buku tak ada dalam edisi Indonesia), ditulis sewaktu Wright bersaudara belum menemukan pesawat terbang.

Imajinasi, ingat, adalah lebih penting dari ilmu pengetahuan. Kata-kata itu tidak keluar dari mulut seorang penulis, pengarang ataupun penyair. Kata-kata itu keluar dari mulut seorang Einstein! Albert Einstein!

Masihkah pemerintah menganggap tak ada gunanya mensubsidi harga kertas dan buku-buku bacaan, fiksi maupun non-fiksi? Ikapi mengklaim bahwa setahun penerbit Indonesia menerbitkan setidaknya 10.000 judul buku tapi jumlah itu diragukan kebenarannya oleh salah satu surat kabar. Lagipula masih jauh berada di bawah Thailand dan negara-negara Asia tenggara lainnya.

Maka daripada itu, jika lain kali ada yang mengeluh karena minat pembaca masyarakat Indonesia umumnya lemah, ajaklah mereka ke pinggir jalan dimana ada beberapa relawan yang membuka perpustakaan dengan biaya sendiri dan koleksi yang minim untuk anak-anak kurang mampu karena pemerintah belum menyediakan fasilitas perpustakaan yang memadai. Ajaklah mereka ke pameran buku dan perhatikan ratusan atau bahkan ribuan manusia yang bejibun dan rela berdesak-desakkan untuk berburu buku dan lihat juga bagaimana pedagang loak masih bisa bertahan hidup sampai sekarang dan telah menggeluti profesi itu sepanjang hidupnya (apa mereka bisa bertahan jika minat baca rendah?).

Oleh : Ryusai


Related Posts :