Senin, 06 Agustus 2012

Inflasi

Sekilas kita tahu bahwa inflasi merupakan suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang. Inflasi juga dapat terjadi akibat dampak dari sistem moneter yang dipakai pemerintah untuk mendorong perekonomian dengan mengeluarkan uang lebih banyak ke masyarakat.

Di sini saya akan memaparkan beberapa hal yang dapat menyebabkan inflasi dari kebijakan moneter (pasar uang). Mengapa jumlah uang yang banyak di masyarakat malah menyebabkan inflasi (kenaikan harga)?.Semestinya masyarakat lebih makmur dong, karena mereka mampu membeli barang atau jasa yang mereka butuhkan lebih banyak?

Untuk menjawab hal itu kita lihat kembali dari sisi demand (permintaan) dan supply (penawaran). Segi permintaan merupakan masyarakat ataupun perusahaan yang membutuhkan barang atau jasa. Sedangkan dari segi penawaran merupakan produsen yang menyediakan barang atau jasa. Permintaan dan penawaran di pasar yang kita inginkan seimbang sehingga membentuk price expenditure (keseimbangan harga). Tetapi dari sisi supply mereka akan meningkatkan produksi apabila harga tinggi. Sedangkan dari sisi demand mereka akan meningkatkan permintaan apabila harga murah.

Apabila kita lihat dari kebijakan moneter (pasar uang).Jika pemerintah menambah pasokan uang ke masyarakat, maka harga-harga yang ada akan meningkat. Mengapa?. Kita analogikan seperti ini. Ketika masyarakat memperoleh uang lebih untuk dipakai berbelanja di pasar, tetapi jumlah barang yang ada tidak mencukupi kebutuhan para konsumen yang diakibatkan meningkatnya kemampuan berbelanja masyarakat tersebut. Akibat dari keterbatasan barang tadi, penjual akan menaikkan harga barangnya di pasaran. Agar ia dapat mencukupi kebutuhan konsumen dan masih memiliki cadangan untuk masa depan. Bahkan, bisa saja penjual mencari keuntungan dengan cara menimbun barang untuk memperoleh keuntungan di masa mendatang.

Jadi, pertumbuhan uang yang tinggi apabila tidak diimbangi dengan ketersediaan jumlah barang dan jasa yang ada akan menyebabkan kenaikan harga. Contohnya saja kejadian krisis moneter pada tahun 1998. Dimana nilai mata uang rupiah sangat rendah sedangkan harga melambung tinggi, belum lagi masalah hutang Indonesia yang menumpuk sehingga menyebabkan perekonomian kita semakin terpuruk pada saat itu.

Tetapi inflasi tidak hanya memiliki sisi hitam, melainkan terdapat sisi putih yang mendorong meningkatkan perekonomian kita. Mengapa hal ini bisa terjadi?. Karena dengan adanya inflasi maka gaji pegawai pemerintah maupun swasta, dan UMR buruh akan meningkat. Karena gaji dan UMR mengikuti tingkat inflasi yang ada. Inflasi seperti ini merupakan inflasi ringan yang memiliki efek meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memacu orang untuk bekerja lebih giat, menabung dan berinvestasi. Apabila terjadi inflasi parah (hiperinflasi) maka keadaan kita akan kembali seperti tahun 1998 dahulu.

Bank Sentral (Bank Indonesia) berperan penting dalam mengatur tingkat inflasi. Bank Indonesia bisa menarik ataupun menambah jumlah uang yang beredar dengan menurunkan atau menaikkan tingkat bunga atau juga dengan mengedarkan SBI (Sertifikat Bank Indonesia) ke masyarakat, dan menyerap uang yang beredar. Apabila ingin menambah jumlah uang yang beredar, maka Bank Indonesia akan menarik SBI kembali.

Beberapa Bank Sentral memiliki kebijakan tersendiri (independen) untuk menghindari intervensi pemerintah dalam peningkatan perekonomian dengan kebijakan moneter. Karena seperti yang kita bahas sebelumnya jumlah uang yang tinggi di masyarakat akan meningkatkan tingkat inflasi.

Oleh: Ahmad Azhari Pohan


Related Posts :