Jumat, 03 Agustus 2012

‘Main Sabun’ Itu Sudah Mencemarkan Nama Bangsa

Dalam sebuah pertandingan, memang membutuhkan strategi. Tapi strategi saling kalah demi menghindari lawan yang lebih kuat, itu berarti mencederai fair play. Apalagi pertandingan ini berlangsung di arena Olimpiade 2012 London yang notebene pertemuan atlet terbaik dunia dan menjadi perhatian dunia pula. Termasuk atlet-atlet bulutangkis. Apalagi yang bermain ’sabun’ merupakan atlet bulutangkis terbaik dunia dan lolos ke pentas olahraga empat tahunan secara murni, bukan wild card (hadiah dari panitia). Dari empat pasangan yang terkena diskualifikasi, salah satunya dari Indonesia, yakni Greysia Polii yang berpasangan dengan Meiliana Jauhari. Tentu kasus ini bukan hanya pukulan bagi Kontingen Indonesia semata, lebih khusus bagi olahraga Indonesia.

Bagi Indonesia, kejadian gak mau menang, bukan kali ini saja. Pada tahun 1998 juga terjadi di Vietnam dalam event sepakbola Piala AFF. Di mana dalam penyisihan grup antara Indonesia melawan Thailand, kedua tim tak ingin menang. Kedua tim ingin menghindar dari kekuatan tuan rumah Vietnam di semifinal. Karena tak ingin menang, sampai-sampai salah seorang pemain belakang Indonesia menjebol gawang sendiri dengan sengaja yang kala itu di kawal Hendro Kartiko. Tim Merah Putih akhirnya kalah dan harus berhadapan dengan Singapura di semifinal, dan Thailand jumpa Vietnam. Baik Indonesia dan Thailand akhirnya harus mengakui kehebatan Singapura dan Vietnam. Keduanya gagal melangkah ke final. Laga ini bukan hanya menjadi sorotan Federasi Sepakbola Asia Tenggara (AFF) saja, tapi FIFA juga ikut mengecam. Dan, akhirnya pemain yang menceploskan gawang sendiri mendapat hukuman seumur hidup tak boleh memperkuat tim nasional Indonesia.

Keputusan Badan Bulutangkis Dunia (BWF) memberi kartu hitam pada Gresya/Meiliana serta pasangan Korea Selatan sudah tepat. Para ofisial kedua kubu, membatah kalau pemainnya bermain sabun. Tapi, penonton dan panitia bulutangkis menilai duel itu tidak lagi kondusif dan merusak sendi-sendi olahraga. Ada etika dan estetika cara bermain bulutangkis dalam sebuah pertandingan resmi. Para pemain itu bukan semata-mata mencoreng namanya sendiri, tapi mencoreng bulutangkis secara keseluruhan. Apalagi cabang bulutangkis di olimpiade masih goyah yang sewaktu-waktu bisa tidak dipertandingan. BWF hingga kini masih terus mencari formulasi agar bulutangkis bisa memikat masyarakat dunia Sistem Rally Point yang sekarang diterapkan, merupakan salah satu bentuk yang ditawarkan BWF agar bulutangkis bisa dipertandingan di olimpiade. Nah, kalau BWF memberi sanksi pada 8 pemain yang bermain sabun, tidak boleh tampil di olimpiade empat tahun mendatang harus bisa diterima dengan lapang dada. Ini memberikan penilaian pada Komite Olimpiade Dunia (IOC) bahwa BWF serius mempertahankan cabang bulutangkis dipertandingkan di pesta olahraga empat tahunan.

Bagaimana dengan pertangggungjawaban ofisial bulutangkis dan pimpinan kontingen? Pastinya permainan sabun yang diperagakan Greysia/Meiliana pasti ada hubungan dengan pelatih dan ofisial lainnya. Pemain tidak mungkin ujug-ujug tampil letoy dan tak mau menang di lapangan. Pasti ada instruksi dari pelatih agar tidak bermain ngotot dan tidak perlu memang. Instruksi untuk tidak menang pasti sudah menyebar ke pimpinan kontingen dan Menpora Andi Malalareng yang berada di London. Bila, memang, KOI atau KONI tidak mau mengorbankan pemain, seperti di cabang sepakbola, pelatih, manajer tim, dan pimpinan kontingen harus juga mendapat sanksi. Karena merekalah orang yang bertanggungjawab terjadinya kesalahan fatal . Kesalahan yang dilakukan Greysia/Meilana bukan hanya semata teknis,tapi telah juga menyangkut moral. Bergitu rendahnya moral atlet kita yang menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan dan memuaskan para petinggi KOI/KONI.

Oleh: Sampurno Hernugroho


Related Posts :