Jumat, 10 Agustus 2012

P-R-A-M-U-K-A

Mayoritas atau bahkan seluruh warga negara Indonesia mengidentikkan bulan Agustus dengan tanggal 17. Ya, 17 Agustus tahun 1945 merupakan hari kemerdekaan Indonesia, berarti pada tahun 2012 Indonesia sudah berusia 67 tahun. Setiap rumah dianjurkan untuk memasang bendera merah putih, sekolah dan berbagai instansi pemerintah mengadakan upacara pengibaran Sang Merah Putih. Tapi kali ini bahasan penulis bukan berfokus pada momen 17 Agustusan dengan segala kemeriahannya.

Tahukah pembaca ada hari bersejarah yang diperingati setiap tanggal 14 Agustus? Mungkin bagi Anda yang aktif di kegiatan esktra kurikuler pada zaman sekolah dulu pasti mengetahuinya. 14 Agustus tahun 1961 merupakan hari lahirnya Pramuka Indonesia. Lambang yang digunakan adalah tunas kelapa yang memiliki beberapa filosofi berikut ini (http://pramuka.or.id):
  • Tumbuhan kelapa/nyiur dalam kondisi tumbuh, disebut sebagai Cikal (Inti/Cikal Bakal). Diharapkan Pramuka menjadi sosok yang menjadi inti dari kelangsungan hidup bangsa Indonesia.
  • Tumbuhan kelapa dapat bertahan lama di berbagai kondisi lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa Pramuka adalah sosok yang kuat (jasmani dan rohani), dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai masalah serta bertekad keras untuk memecahkannya.
  • Tumbuhan kelapa dapat hidup di mana saja, berarti Pramuka di lingkungan manapun harus dapat menyesuaikan dirinya di masyarakat dengan keadaan yang bervariasi.
  • Pohon kelapa tumbuh menjulang tinggi ke atas. Pramuka diharapkan menjadi pribadi jujur, yang bercita-cita tinggi, serta tetap tegak tidak mudah diombang-ambingkan “angin” dalam bentuk apa pun.
  • Akar kepala merupakan jenis akar yang kuat merekat di tanah. Menunjukkan seorang Pramuka dalam mencapai tujuan hidupnya harus tetap berpegang teguh pada keyakinan dan landasan dasar yang tepat dan kuat.
  • Kelapa merupakan tumbuhan yang akar sampai ujung daunnya dapat dimanfaatkan. Menjelaskan bahwa Pramuka adalah pribadi yang berguna serta membaktikan dirinya untuk kepentingan manusia, bangsa dan tanah air Indonesia

Ternyata pramuka itu bukan hanya ada untuk siswa-siswi sekolah (SD, SMP, dan SMA). Namun, ternyata dapat terus dilanjutkan sampai usia dewasa dengan keterampilan dan penguasaan materi yang lebih luas lagi, tidak hanya sekedar membaca sandi-sandi tertentu atau mendirikan tenda. Pengkategorian berdasarkan tingkatnya juga berdasarkan umur, yaitu: Siaga (7 – 10 tahun); Penggalang (11 – 15 tahun); Penegak (16 – 20 tahun); dan Pandega (21 – 25 tahun). Untuk usia di atas 25 tahun juga tetap dapat aktif berpramuka, biasanya menjadi Pembina Pramuka, Andalan Pramuka, Korps Pelatih Pramuka, Pamong Saka Pramuka, Staf Kwartir nasional atau daerah, dan Majelis Pembimbing Pramuka (dari berbagai sumber).

Jadi untuk para pembaca yang memiliki waktu luang lebih dan mencintai dunia kepramukaan, jangan ragu untuk menghubungi Kwartir Daerah masing-masing, atau jika belum tahu lokasinya bisa ditanyakan pada pihak sekolah yang menyediakan ekskul Pramuka. Daftarkan diri dan kembali berpartisipasi memajukan Pramuka Indonesia. Supaya generasi muda di era globalisasi ini tetap mengenal Pramuka dan bangga menjadi anggota Pramuka.

Penulis sendiri bukanlah anggota Pramuka yang aktif ketika SD, malah sering bolos karena jarak rumah yang cukup jauh jadi malas untuk pulang sore. Tapi, sejak masuk sebuah pondok pesantren di Bogor, mau tidak mau, suka tidak suka harus berkenalan dengan Pramuka karena merupakan ekstra kurikuler yang diwajibkan setiap minggunya. Tak kenal, maka tak sayang, tak sayang maka enggan untuk memajukannya. Selamat ulang tahun ke – 51 Pramuka Indonesia, semoga tetap jaya. Salam Pramuka!

Oleh : Nila Amalia Husna


Related Posts :