Kamis, 02 Agustus 2012

Pesta Di Tengah Krisis

Pesta akbar olahraga, Olimpiade 2012 di London telah dibuka. Sekitar10 ribu atlet dari 204 negara bertarung memperebutkan medali emas. Memang, hanya sekeping emas yang didapat. Tapi makna dari itu sangat luas. Olimpiade bukan semata menunjukkan kekuatan seorang atlet atau kekayaan sebuah negara, lebih dari itu sebagai wadah persaudaraan, solidaritas dan perdamaian. Karena lewat pesta olahraga ini tak ada lagi batasan suku, ras, agama, kaya, dan miskin. Semua berbaur menjadi satu demi menjunjung tinggi sportivitas. Dan, itu sudah dibuktikan pantia penyelenggara sepakbola putri. Bisa dibilang kesalahan yang terjadi sangat fatal, di mana yang akan bertanding Korea Utara (Korut), tapi bendera yang terpampang, bendera Korea Selatan. Wajar bila tim putri Korut tak mau merumput sebelum bendaranya diganti. Panpel pun dengan cekatan mengganti bendara, dan seketika itu pula meminta maaf pada Korut. Juga telah dipulangkannya seorang atlet putri karena ‘mentweet’ statusnya yang berbau rasisme. Pesepakbola Swiss pun harus angkat koper dengan kasus yang sama.

Olimpiade yang menghabiskan dana sekitar 42 juta dolar US, bukan sekadar pesta olahraga. Tapi, di olimpiade bakal terjadi juga pamer kekuatan karena yang berkumpul atlet-atlet top dunia. Wajar bila Ibukota Inggris hingga tanggal 12 Agustus nanti menjadi pusat perhatian dunia. Mereka menunggu jago-jagonya beradu cepat, tinggi dan kuat sesuai motto dari olimpiade citius, altius dan forties .Mereka juga tidak peduli, kalau di Eropa sedang dilanda krisis ekonomi yang nyaris akut. Justru dengan diselenggarakan pesta olahraga dunia, negara akan memperoleh pemasukan lewat kehadiran para supoter yang datang untuk memberi dukungan pada atletnya dan pelancong yang ingin menyaksikan dari dekat olimpiade. Justru dengan penyelenggaraan olimpiade geliat perekonomian Inggris kembali bangkit. Seperti yang dialami Polandia dan Ukraina yang bisa mengeruk keuntungan jutaan dolar setelah pagelaran Piala Eropa 2012 silam.

Olahraga merupakan dunia nyata. Pemenangnya ditentukan di lapangan bukan di meja perundingan. Tidak ada yang angkat senjata untuk memukul mundur musuhnya demi meraih prestasi . Tidak ada baku pukul hanya ingin memaksakan kehendak. Bahkan di cabang tinju dan bela diri yang notabene terjadi kontak fisik, tetap menunjukkan sportivitas. Baik yang menang maupun yang kalah saling bersalam dan berpelukan. Mereka saling mengakui dan menghargai estetika dan etika olahraga. Berbeda dengan dunia politik dan ekonomi, untuk menjadi pemenangnya lebih mengedepankan lobi dan perundingan. Bahkan tak segan-segan mereka mengangkat senjata demi menunjukkan kekuasaan, sekalipun perbuatannya salah.

Di Olimpiade XXX ini kita bisa melihat bagaimana aksi pertarungan antara Amerika Serikat berhadapan dengan Cina serta Rusia. Ketiga negara ini saling merebut prestasi demi menjadi pengumpul medali terbanyak. Dari Kontingen Amerika tidak ada rasa dendam terhadap Cina yang telah mempecundingi pada Olimpiade 2008, Beijing. Dengan kekuatan 536 atlet Negeri Pam Sam ini akan mencoba kembali merampas tahta yang telah hilang. Di lain pihak Negeri Tirai Bambu dengan kekuatan 382 atlet berusaha mempertahankan supremasinya. Bahkan tidak sendikit duel atlet Israel dengan negara-negara Jazirah Arab. Mereka seperti lupa perseteruan yang terjadi di luar gelanggang olahraga dan kandang-kandang ikut merambah ke olahraga. Mereka tetap bersatu padu menjunjung tinggi sportivitas demi meraih prestasi. Bahkan ketika ada sebuah federasi olahraga yang melarang bertanding atlet putri mengenakan jilbab langsung ditentang dan kembali diperbolehkan berlaga.

Bagi London, Olimpiade 2012 merupakan kali ketiga sebaga tuan rumah (sebelumnya 1908 dan 1948). Krisis ekonomi yang melanda Eropa, termasuk Inggris sempat membuat ketar ketir panpel dan IOC (International Olympic Comitte). Pembangunan venue nyaris terlantar. Bahkan jelang pembukaan muncul rumor akan adanya ancaman teroris. Tapi, dengan semangat kebangsaan yang tinggi dari Bangsa Inggris semua berjalan sesuai rencana. Untuk pengamanan Olimpiade XXX yang dihadari lebih dari 100 ribu, panpel menambah kekuatan pengamanan dengan mengerahkan 30 ribu Angkatan Udara yang merupakan kekuatan terbesar di Inggris. Semoga saja olimpiade berjalan lancar. Meski berlangsung di tengah krisis, bukan gangguan teroris yang muncul, tapi bermunculan rekor-rekor baru dunia.

Oleh: Sampurno Hernugroho


Related Posts :