Minggu, 05 Agustus 2012

Problematika Theist: Saat Toleransi Sebatas Ekspektasi

Manusia mulai menunjukkan supremasinya sebagai pemimpin bumi, adalah saat berhasil menaklukan alam dan memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Jika kita mengikuti konsep determinisme, maka setelah satu hal terpenuhi lambat laun akan muncul beragam hal baru yang menuntut untuk dipenuhi. Salah satunya adalah kebutuhan ruhani, yang akan menjadi cikal bakal peradaban religius.

Kehidupan religius sendiri pertama kali tercatat pada zaman Megalitikum atau zaman batu besar, yaitu saat berangsur-angsur pola hidup manusia bersifat sedenter dan ilmu bercocok tanam mulai dikenal. Sementara bertambah banyaknya ketidaktahuan manusia pada saat itu, menuntut mereka untuk mencari kompensasi sebagai penggenapan ruhaniyah dari ketidaktahuan tersebut. Maka muncul dewa-dewa dan beragam kepercayaan kuno seperti Animisne atau Dinamisme dengan media-media penyembahan yang saat itu masih terbuat dari batu seperti waruga, obelisk, kubur batu, tugu, dll. Religiusitas pada zaman megalitikum sendiri sangatlah plural di berbagai titik di seluruh dunia, kita dapat mengenal mitologi Yunani, Polytheisme ala Mesir, Skandinavia, dan berbagai peradaban purba yang sekarang tinggal sejarah.

Sementara keterbatasan pergerakan manusia pada saat itu membuat kepercayaan-kepercayaan tersebut terisolasi berdasarkan regionnya masing-masing. Sehingga tiap-tiap daerah hidup damai bersama masyarakatnya dengan kepercayaan tunggal. Keberlangsungan ini bertahan sampai banyaknya aliran-aliran baru yang muncul, seperti kemunculan agama samawi yang banyak berkontradiksi dengan kepercayaan setempat.

Sehingga lambat laun kontradiksi agama banyak menjadi latar belakang penaklukan-penaklukan besar. Terburuk yang pernah tercatat dalam sejarah adalah 8 kali terjadinya perang salib, dari penaklukan Andalusia sampai pengusiran besar-besaran ke Grenada. Jauh sebelumnya terdapat penghancuran Haikal Sulaiman serta perbudakan bangsa Yahudi oleh Babylonia dan Mesir Kuno. Meski bukan satu-satunya alasan, tidak dapat dipungkiri peran major agama dalam perkembangan peradaban manusia, walau dalam perkembangannya sendiri banyak dilalui dengan pertumpahan darah.

Dari penjabaran diatas dapat kita lihat sebuah ironi dari religiusitas, dimana manusia telah kehilangan “esensi” dari kepercayaan mereka. Sampai kita menginjakkan kaki di dunia modern, cukup banyak kepercayaan-kepercayaan absurd yang telah kehilangan penganut, namun muncul ketidakpuasan lain terhadap agama yang tersisa. Dan paham-paham sekular bermunculan yang sarat dengan sinisme implisit kepada golongan Theist.

Dan seiring menumpuknya problematika dunia, apakah kita menyisakan tempat untuk toleransi? Disaat kebebasan digaungkan, Agama banyak ditinggalkan. Disaat Agnostik mulai menjadi pilihan, pembantaian etnis masih dilakukan. Lalu kemana seruan kebersamaan yang ada dalam pedoman kita? Baik Religius ataupun Moderat, baik dalam ayat suci maupun konstitusi. Ataukah justru keberagaman yang menghancurkan toleransi?

Tanda tanya tersebut dapat dijawab, setelah kita merefleksikan sekecil apapun butir-butir kebaikan dari apa yang kita anut. Maka sebanyak apapun aliran yang ada, sinergi indah yang sama tinggi akan tercipta.

Oleh : Muhammad Jundi Robbani


Related Posts :