Jumat, 07 September 2012

Jadi Orang

Jika kita bertanya pada anak kecil mengenai apa cita-citanya nanti setelah dia dewasa, kebanyakan dari mereka akan menjawab, “Saya mau jadi dokter atau insinyur” atau “Saya ingin jadi astronot”. Cita-cita menjadi seorang dokter yang menyelamatkan nyawa seseorang di ruang ICU tampak seperti cita-cita yang mulia bagi bayangan anak kecil yang masih polos. Dan karena banyak anak kecil yang menginginkan cita-cita ini, kita langsung saja menganggap murid yang berprestasi baik di kelasnya, akan menjadi seorang dokter atau pengacara di masa yang akan datang. Lalu kepada mereka yang nakal dan kurang berprestasi, kita malah mencerocos, “Kalau nilai kalian hancur seperti ini terus, mana bisa nanti kalian jadi orang!” Itulah kebanyakan saran dari kita kepada mereka yang sudah di “cap” madesu atau masa depan suram.

Kaum “Berada” dan “Tidak berada”

Jika seseorang sukses, orangtuanya akan berkata, “Wuah…anakku sudah jadi orang, lho!”. Tapi kalau mereka miskin, gagal dan terpuruk, kita akan menasehati mereka untuk bekerja yang rajin, semangat dan giat agar nanti bisa jadi orang.

Mereka yang kaya disebut kaum berada dan mereka yang miskin disebut kaum tidak berada. Begitu pula, sama halnya dengan sukses atau tidaknya seseorang. Mereka yang sukses dikatakan sudah ‘jadi orang’ dan mereka yang belum sukses dikatakan ‘belum jadi orang’.

Walaupun kecil dan tampak sepele, frasa ”jadi orang” ini, sebenarnya menyakitkan hati ‘orang yang belum jadi orang’ ibarat membunyikan klakson mobil pada orang yang menarik gerobak.

Eksistensi mereka seolah dihapuskan begitu saja karena mereka miskin dan tidak berpunya sehingga disebut sebagai belum jadi orang. Hanya karena tidak kaya dan belum sukses mereka terpinggirkan. Jika tidak percaya, coba saja lihat contoh: trotoar-trotoar jalan milik hak pejalan kaki yang diserobot kendaraan bermotor, dan mobil-mobil yang tidak sabar membunyikan klakson pada orang yang sedang menyeberang jalan.

Jika bukan tidak menghargai jiwa manusia dan lebih mendewakan mesin-mesin (yang dianggap sebagai lambang kesuksesan), lalu apa namanya?

Padahal, ilmuwan saja mengatakan kalau kepak sayap kupu-kupu di belahan bumi lain mempengaruhi cuaca di belahan bumi sini! Jika kupu-kupu saja dapat mempengaruhi planet ini, bagaimana dengan mereka (seorang manusia) yang disebut kaum tidak berada? Benarkah keberadaan mereka tidak ada artinya? (sehingga android-android yang merasa dirinya superior karena telah menyatu dengan mesin bermotor itu, menganggap dirinya lebih layak mendahului dan melintas di trotoar milik pejalan kaki yang hanya berisikan darah, daging, dan tulang?) Benarkah apa pejalan kaki itu hidup atau mati bagi kita sama saja artinya? Coba pikirkan, bagaimana seandainya tidak ada orang dari kalangan kecil yang mengangkut sampah setiap harinya! Apa benar kita masih tidak membutuhkan mereka?

Orang atau Manusia?

Yang dinamakan makhluk hidup di pelajaran Biologi adalah manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Dan sebagai manusia, derajat kita tentunya lebih tinggi dari hewan yang tidak memiliki pikiran dan akal budi. Tapi sewaktu orang lain mengatakan, “kalau mau jadi orang….” saat itu juga seolah-olah derajat kita ini tidak ada bedanya dengan hewan dan diri kita ini seperti terlempar dari pupulasi “mereka”.

Mau jadi orang atau tetap manusia?

Karena sudah dibombardir terus-menerus oleh nasehat-nasehat seperti “kau harus sukses”; “kalau sudah besar nanti mesti kaya” dan sebagainya, banyak mereka yang berambisi ‘jadi orang’ tetapi menghilangkan sifat-sifat manusiawi mereka. Para pejabat dan menteri-menteri menyalahgunakan kekuasaan mereka dan mengkorupsi uang rakyat. Para spekulan menimbun karung-karung beras mereka sehingga menyebabkan beras menjadi mahal dan rakyat miskin terpaksa makan nasi aking. Produser-produser televisi banyak yang menayangkan adegan kekerasan dan “teriak-teriakan” yang menyebabkan polusi suara hanya karena demi kesuksesan bisnis mereka dengan memenuhi nafsu dasar manusia yang menyukai kebrutalan, keganasan dan kesadisan. Coba lihat saja diri kita dulu masing-masing, apakah kita tidak berusaha naik jabatan dengan menyikut kanan-kiri? Atau minimal, tidak berkata jelek mengenai saingan kita?

Nah, apakah kita tetap mau menjadi orang dengan menghilangkan sifat-sifat manusiawi kita?

Oleh : Ryusai


Related Posts :