Senin, 03 September 2012

Penyimpangan Historis Sejarah Nasional

Sejarah kita, seringkali disalahpahami oleh masyarakat. Cikal bakal masalah ini tak luput dari maraknya dramatisasi sejarah yang diajarkan secara formal sejak kita kecil. Berikut contohnya:

1. Sumpah Palapa Mahapatih Gajah Mada

Contoh pertama adalah Sumpah Palapa yang di deklarasikan Mahapatih Gajah Mada pada abad 14 masehi. Mungkin apa yang dulu kita dengar, Gajah Mada adalah seorang pemberani dengan komitmen yang tinggi karena bersumpah tidak akan memakan buah palapa atau ditafsirkan akan tetap berpuasa sebelum beliau dapat mempersatukan Nusantara. Sedangkan, jika dikutip dari Wikipedia, Sumpah Palapa adalah: Sumpah Palapa adalah suatu pernyataan/sumpah yang dikemukakan oleh Gajah Mada pada upacara pengangkatannya menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit, tahun 1258 Saka (1336 M).

Sumpah Palapa ini ditemukan pada teks Jawa Pertengahan Pararaton, yang berbunyi, Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa".

Terjemahannya, Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".

Pada teks asli Sumpah Palapa tersebut tertulis jelas yang dimaksudkan Gajah Mada adalah “Mengalahkan” kerajaan-kerajaan sekitarnya, yang banyak disalahartikan menjadi mempersatukan Nusantara. Jika rumusan mengalahkan = menaklukan ini kita implementasikan ke zaman imperialisme klasik, maka bisa dibilang Spanyol & Portugis telah mempersatukan Amerika Latin dan Amerika Tengah, padahal konteks mengalahkan sendiri sangatlah luas.

2. Kebangkitan Nasional

Seperti halnya poin pertama, informasi sejarah yang hingga sekarang kita terima adalah jatuhnya Hari Kebangkitan Nasional yang berakar dari lahirnya Budi Oetomo 20 Mei 1908. Ekspektasi pertama dalam benak saya adalah betapa idealismenya para pelajar STOVIA dahulu yang mulai berpikir bahwa perjuangan harus dilakukan secara kolektif oleh seluruh bangsa Indonesia. Maka jadilah waktu itu Dr.Soetomo mendirikan Budi Oetomo. Namun pandangan saya berubah setelah membaca beberapa refrensi lain. Dari situ saya mulai memahami dalam berbagai artikel sejarah yang ilmiah bahwa saat itu Budi Oetomo tidak pernah menghendaki apa yang disebut persatuan Indonesia apalagi kemerdekaan Indonesia. Waktu itu mereka hanya memperjuangkan bahasa dan pulau jawa, apalagi eksklusifitas anggotanya yang hanya merekrut para priyai. Pertanyannya kenapa berdirinya Budi Oetomo terus diperingati hingga sekarang? Sementara masih banyak organisasi-organisasi lain yang tidak kooperatif dengan pemerintahan kolonial, cenderung radikal, berorientasi kemerdekaan, yang jauh lebih layak dijadikan tolak ukur kebangkitan nasional.

Oleh : Muhammad Jundi Robbani


Related Posts :