Kamis, 27 September 2012

Singapura yang Tak Perlu Berpura-pura



Judul Buku : After Orchard
Penulis : Margareta Astaman
Penerbit : Kompas
Tebal : 193 halaman
ISBN : 978-979-709-516-1

Singapura dikenal oleh orang Indonesia sebagai negara yang bersih, aman, tertib dan teratur. Negeri ini adalah surga belanja bagi kalangan wisatawan. Tak jarang pun menjadi tempat liburan yang diminati oleh banyak orang. Atau sebagai tempat pengobatan dengan sumber daya manusianya yang berkualitas.

Akan tetapi berapakah harga yang harus dibayar oleh keteraturan dan ketertiban ini? Melalui buku ini, Margareta Astaman atau yang lebih dikenal dengan Margie, bercerita tentang kehidupannya selama empat tahun di Nanyang Technological University.

Impian menikmati kehidupan nyaman dengan beasiswa yang didapatnya menjadi buyar saat Margie diusir dari kamar asramanya karena tak berhasil mengumpulkan poin dari kegiatan ekstrakulikuler, yang beragam dan wajib diikutinya, jika ingin mendapatkan dan mempertahankan kamar asrama yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan mahasiswanya.

Tak ada toleransi untuk kekurangan satu poin pun, meski Margie telah mengikuti enam kegiatan ekstrakulikuler selama enam hari, yang dipilihnya berdasarkan minat walau jumlah poinnya lebih kecil dibandingkan ekstrakulikuler yang tidak diminatinya.

Uang dan Peraturan

Tinggal selama empat tahun di Singapura tidaklah sama dengan liburan tiga hari dua malam. Mahasiswa-mahasiswa NTU dituntut untuk mengulangi prestasi yang gemilang yang pernah dicapainya saat SMU atau kalau bisa melebihinya. Terutama untuk mereka yang mendapatkan beasiswa.

Manusia dinilai sebagai sebuah mesin yang diciptakan untuk menghasilkan uang, nilai ataupun prestasi. Skripsi-skripsi yang tidak memiliki nilai ekonomi yang riil akan ditolak. Nyaris tidak ada hiburan gratis di negeri ini seperti konser musik ataupun pentas seni. Dari daerah Orchard hingga ke Outram Park berderet mall yang saling menyambung.

Dan bahkan para Dosen mengejar sebuah ’nilai’ untuk dirinya dengan menuntut mahasiswanya dan menerornya dengan puluhan e-mail, setiap harinya. Mereka tak akan segan-segan mengatai mahasiswanya sebagai orang yang tak berguna atau yang paling bodoh yang pernah ditemuinya. Kegagalan seorang mahasiswa adalah kegagalan dosen.

Jadi, janganlah berpikir bahwa orang Singapura adalah orang yang memiliki kesadaran tinggi dan budaya tertib karena tidak membuang sampah atau meludah sembarangan. Mereka terpaksa menaati peraturan itu karena jika melanggar, sanksi dan denda telah menanti. Atau mereka telah terbiasa menaati peraturan (tanpa kesadaran) sedari kecil.

Di dalam buku ini, Margie mempertanyakan, ”Apakah aturan dibuat untuk hidup atau orang diciptakan untuk sekadar memenuhi aturan?” (86). Ia menceritakan sistem peraturan dari ’birokrasi kutu’ sampai pengobatan dokter di Singapura.

E... m(p)ati

Bagaimana bisa sebuah negara maju yang memiliki budaya antri dan kesopanan tidak membuang ludah sembarangan ini dapat menghina dan membunuh karakter mahasiswanya? Jawabannya adalah: empati telah mati.

Warga singapura merasa tidak perlu berpura-pura menawarkan sebuah kursi di MRT (Mass Rapid Transportation) ataupun menolong seorang lelaki yang pingsan di sana. Para pelayan restoran maupun hotel bersikap judes jika anda terlalu lama dalam memesan makanan, yang membuang waktu mereka.

Pertemanan menjadi sesuatu hubungan ’Persahabatan yang profesional’. Mereka bisa bersama selama 15 jam dalam sehari selama beberapa bulan. Akan tetapi setelah tugas kelompok mereka berakhir, maka berakhir pula persahabatan mereka. Tetangga tidak saling mengenal, seorang wisatawan yang terpukau dengan keindahan negeri ini tidak dapat menuntut permintaan maaf dari seseorang yang menabraknya sampai terjatuh. Siapa suruh berjalan lambat? Di sini, siapa cepat dia dapat dan yang lambat akan tergilas! Dan seorang pria kesepian yang tinggal sendiri, mengamati langit tanpa bintang sambil mempertanyakan apa yang sedang dilakukan dalam hidupnya.

Jadi, janganlah heran jika keadaan kampus tenang-tenang saja setelah berita mengenai salah seorang mahasiswa Indonesia yang dikabarkan bunuh diri setelah menikam Profesornya sendiri.

”Ironisnya... kita punya semakin banyak orang di dunia, tapi semakin sedikit yang saling mengenal” (143). Akan tetapi, walaupun begitu, ada juga beberapa teman yang dapat dianggap Margie sebagai sahabat sejati termasuk, sosok R yan punya pemikiran yang ’luar’ biasa menyegarkan. Dan pula seseorang yang memberikan perhatiannya pada saat dan waktu yang tepat, di saat Margie mempunyai pemikiran yang ’nekat’ sehingga berhasil melewati masa-masa sulit nan indahnya di NTU.

Buku ini layak dibaca oleh siapa saja, tua dan muda, yang mempunyai keraguan untuk bertanya apakah kesuksesan itu diukur dalam bentuk materi dan seberapa besarkah harga yang harus dibayar untuk menaati peraturan?
Atau menjadi idealis?

Oleh : Ryusai


Related Posts :