Senin, 08 Oktober 2012

Keutuhan sebuah Naskah (2)

Konflik

Tidak ada hidup yang tanpa masalah. Karena masalahlah kita hidup. Dan dari sana pulalah sebuah cerita: cerpen ataupun novel menjadi ’lebih hidup’. Sebuah konflik haruslah masuk akal dan jelas berikut pemecahan dan solusinya. Jika ingin mencoba melatih diri untuk menciptakan konflik yang menarik, cobalah baca novel The Host karangan Stephenie Meyer.

Novel itu memuat banyak konflik, diantaranya: Wanda yang ingin melenyapkan Melanie, Wanda yang jatuh cinta pada Jared, Kyle yang ingin membunuh Wanda, dsb. Meskipun demikian, jika diperhatikan baik-baik, konflik yang satu melenyapkan konflik yang lain. Dan bagi saya secara pribadi, novel The Host adalah salah satu novel dimana setiap katanya tidak terbuang percuma-cuma.

Dialog

Sebuah karakter dinilai hidup dari dialog-dialog yang diucapkannya. Porsi narasi dan dialog dari sebuah novel yang ideal dan disukai penerbit adalah yang berimbang. Meskipun demikian, janganlah membatasi diri dengan apa yang sudah dianggap ”benar” di mata umum. Jika anda merasa mampu menuliskan sebuah novel yang tanpa dialog atau hanya memuat dialog saja, itu akan menjadi keunikan dan kelebihan dari karya anda.

Contoh novel yang hanya berisi dialog adalah The Gas Room karangan Stephen Spignesi. Novel itu cukup mencuri perhatian saya, meski saya tidak suka dengan endingnya.

Selain itu, novel-novel Agatha Christie dan Perry Mason, adalah dua contoh berikut dimana lebih banyak memuat dialog dibandingkan dengan narasi.

Setting waktu dan tempat

Bagaimanapun, kita tidak bisa menjadi sempurna dalam segala hal. Ada penulis yang jago di narasi, ada yang jago di dialog, dan ada pula yang piawai menceritakan deskripsi.

Dalam menulis, setting waktu dan tempat menjadi unsur yang krusial. Fakta-fakta yang ada harus diselidiki betul-betul. Misalnya, apakah pada tahun 1800-an di Inggris, sudah ada telepon?

Selain itu, kita juga perlu menghayati dengan benar apa yang terjadi di tempat itu pada waktu tersebut. Jika kita ingin menuliskan novel dengan bersetting Jepang, kita perlu mengetahui hari libur nasional negara tersebut, pakaian apa yang dikenakan pada musim-musim tertentu, apa saja makanannya, apa budayanya, alat musik, kebiasaan orang Jepang, hal-hal yang dianggap tabu atau kurang pantas, sungai yang mengalir di sana, perfektur-perfektur di Jepang, ataupun lagu kebangsaannya.

Tentu saja, kita tidak harus ke Jepang dulu sebelum menuliskan sebuah novel yang bersetting Jepang.

Kekurangan dalam menggambarkan detail setting waktu dan tempat ini dapat ditutupi oleh dialog selama kita fokus pada permasalahan yang ada.

Ending

Ending adalah segalanya. Sebuah twist. Klimaks yang harus memuaskan pembaca. Seorang penulis boleh memilih apakah dia akan menyusun plot novelnya terlebih dahulu atau tidak sama sekali. Tapi ia tidak boleh main-main di bagian ending. Dari awal, sebelum menuliskan kalimat pertama, ia harus tahu ending novelnya seperti apa. Arthur Conan Doyle mengatakan bahwa ia selalu telah mengetahui penyelesaian akhir dari cerpen-cerpen Sherlock Holmes yang ditulisnya.

Contohnya, ketika ia menuliskan tentang seorang perempuan yang dicurigai sebagai vampire, yang kemudian diketahui (oleh Sherlock Holmes, tentu) bahwa perempuan itu mencoba mengisap racun yang ada dalam diri anak itu, Doyle sama sekali belum memiliki gambaran racun jenis apa atau bagaimana seorang saksi bisa sampai menyaksikan peristiwa itu.

Tak lucu jika sampai di pertengahan jalan anda belum memutuskan apakah akan membunuh karakter utama atau tidak, atau membuat akhir yang happy ending atau sebaliknya.

Oleh : Ryusai


Related Posts :