Selasa, 30 Oktober 2012

Nyawa WNI vs TKW

Negara yang tidak bisa memberikan lapangan pekerjaan pada rakyatnya, dan seorang laki-laki yang belum mampu menjadi suami, membuat banyak wanita asal negeri ini menjadi TKW di negara orang.

Di sana mereka diperlakukan seperti budak, disiksa dan tidak digaji. Mau pulang pun tak tahu caranya karena paspor mereka ditahan. Pemerintah menutup sebelah mata. Hanya setelah terjadi beberapa kasus yang mengancam nyawa Warga Negara Indonesia (TKW) yang berhasil diliput media massa, Pemerintah (demi menjaga gengsinya agar negara lain tidak menganggap dapat dengan mudah ”membunuh” WNI), berjuang keras untuk menyelamatkan hidup warga negaranya, sekalipun itu harus membayar milyaran rupiah (yang ngomong-ngomong, dana sebesar itu dapat dialokasikan untuk tunjangan kesehatan maupun pendidikan sehingga secara tidak langsung dapat memperpanjang harapan hidup masyarakat).

Buktinya, Pemerintah abai dengan kehidupan warga negaranya di negerinya sendiri dibandingkan hidup WNI di luar negeri. Masih banyak terjadi kecelakaan yang terjadi di jalur busway dan pengendara motor yang seenaknya melaju di trotoar. Betapa murahnya nyawa seseorang di negeri ini.

Banyak kasus kecelakaan kerja yang terjadi dan diliput di surat kabar dalam beberapa pekan ini. Apakah pemerintah peduli soal itu? Seorang supir truk ”mati duduk” karena kelelahan! Apakah pemerintah menyelidiki beban kerja yang diberikan perusahaan kepada supir truk tersebut?

Tidak. Tapi pemerintah rela mengeluarkan milyaran rupiah untuk menyelamatkan hidup seorang TKW demi menjaga citranya! Tentu saja tidak ada yang salah dengan upaya Pemerintah dan simpati rakyat Indonesia pada TKW-TKW yang sedang terjerat kasus di sana. Yang menjadi persoalan adalah motivasi dibalik tindakan itu.

Sekarang pertanyaannya, kalau sebagian besar TKW yang bekerja di luar negeri terancam hukuman mati, apakah Pemerintah akan membayar milyaran rupiah per kepala? Sementara itu rakyat Indonesia yang teketuk hatinya dan turut bersimpati juga mencoba menyalurkan dana dan membantu sebisanya (sehingga ia dapat bermimpi bahwa sedikit-banyak ia telah membantu menyelamatkan nyawa seseorang ), padahal orang yang sama adalah orang yang seenaknya ngebut di jalan, mengeksploitasi trotoar untuk pejalan kaki maupun berkendara dalam keadaan setengah sadar yang dapat membahayakan nyawa orang lain!

Bagaimana pemerintah (dan warga negara) dapat mencemaskan hidup TKW di negeri asing sementara keadaan dalam negeri sendiri carut-marut? Buatlah hukum yang dapat membuat seseorang, mau tak mau, harus menghargai hidup orang lain!

Sehingga tidak ada lagi beban kerja yang berlebihan, atau prosedur kerja yang membahayakan hidup para karyawannya. Di Jepang, jika seseorang menabrak mati hidup orang lain di jalanan, maka orang itu harus menanggung beban nilai ekonomis yang kira-kira akan dihasilkan orang yang tertabrak itu, seumur hidupnya.

Mungkin ada baiknya jika hukum itu dicoba-terapkan di negeri ini agar kita — manusia di abad modern ini yang dengan angkuh menyombongkan ilmu pengetahuan, dapat berkaca kembali dan menyadari bahwa nilai hidup seorang manusia lebih berharga dibandingkan mesin buatannya.

Oleh : Ryusai


Related Posts :