Senin, 01 Oktober 2012

Rainbow and Ocean



Ingin mencari novel baru metropop? Sudahkan Anda membaca novel metropop “Rainbow and Ocean” karya Ruth Priscilia Angelina? Coba Anda tengok novel yang satu ini dengan genre romansa cheesy.

Novel ini menceritakan antara kisah percintaan Clara Radella Keona, Neo Aldriano Yehezkiel, dan Kim Donggun. Cerita tentang cinta segitiga dan juga kisah kasih yang tidak tersampaikan dikemas dengan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna.

Clara awalnya mengagumi sosok Neo sejak ia kecil dan masih menyukainya di bangku kuliahnya. Rasa itu bertumbuh sedemikian rupa sehingga ia sangat amat menyukai Neo. Neo, sebaliknya sama sekali tidak merespon apa yang Clara rasakan. Mungkin tepatnya ia tidak tahu, saat itu Neo menjalin hubungan dengan Janice. Clara sangat sakit mengetahuinya.

Clara dan Donggun. Pertemuan pertama mereka ketika Clara berlibur ke Swiss dan bercamping bersama bibi dan pamannya disana. Donggun saat itu juga berlibur di tempat yang sama dengan Clara. Pertemuan mereka ganya sekadar pertemuan biasa dan diam-diam Clara dengan waktu sesingkat itu menyukai Donggun walau hanya sekadar menyapa dan sedikit mengobrol. Clara tidak tahu kapan ia bisa bertemu dengan Donggun dan ia berharap suatu saat ia akan bertemu dengannya. Yang ia ingat saat itu Donggun bermata biru. Ia peranakkan Swiss-Korea.

Clara melanjutkan studi S2nya ke Korea tanpa sepengatahuan Neo. Di sana ia melanjutkan studi perfilman. Di sebuah proyek kampus mereka, Donggun hadir kembali di kehidupan Clara yang ternyata Donggun bermata hitam saat itu (ia memakai softlens) dan membuat Clara ragu kalau itu Donggun, ternyata itu memang dia.

Donggun seorang artis terkenal di Korea yang sedang naik daun, Clara tidak mengetahui hal tersebut. Di saat-saat itulah Donggun dan Clara mulai berteman akrab, dekat, dan memutuskan untuk berhubungan melalui peristiwa juga kejadian sweet cheesy mereka.

Neo yang sudah mulai Clara lupakan hadir lagi secara tiba-tiba di acara pemotretan Donggun. Neo seorang fotografer, ya, dia akan memotret Donggun. Donggun tahu bahwa Clara mengenal sosok itu. Di saat-saat itu diam-diam hati Clara bimbang.

Banyak pertikaian-pertikaian kecil dan besar dalam cerita ini dengan klimaks di akhir cerita bahwa Clara, Donggun, dan Neo berakhir dengan cara yang membuat para pembaca gregetan dan menangis.

Di dalam novel tersebut, menurut saya agak diceritakan dengan cepat. Sebenarnya kalau diceritakan secara perlahan dan detail akan menghasilkan cerita yang jernih dan menghanyutkan. Kurang diceritai banyak mengenai asal-usul orang tua Clara, sehingga ketika ada adegan meninggalnya orang tua Clara kurang berkesan dalam peristiwa itu. Juga meninggalnya ibu Donggun kurang begitu diceritakan tentang orang tuanya. Novel ini sangat fokus terhadap kehidupan Clara dan percintaannya. Sehingga beberapa adegan yang menyedihkan kurang begitu terasa, karena cerita di lingkungan Clara kurang begitu diceritakan melainkan hanya kerabat tertentu saja.

Di akhir cerita diambil sudut pandang yang berbeda-beda dan cerita yang pendek dan cepat. Terkesan si penulis ingin bur-buru menyelesaikan tulisannya, dengan mengemasnya sebaik mungkin. Pesan tersampaikan hanya lagi-lagi ini terlalu pendek bagi para pembaca.

Tapi keseluruhan alur yang enak dan tokoh-tokoh di dalamnya membangkitkan suasana untuk mengetahui apa yang terjadi selanjutnya.

Akhir cerita, agak menyebalkan bagi saya dan kurang begitu masuk akal. Ada beberapa hal konyol di bagian akhir, tapi positifnya pesan yang dimaksud dan inti dari cerita itu tersampaikan oleh si penulis.

Untuk novel ini saya memberikan rate 3.5/5. Coba Anda menilai sendiri bagaimana pendapat Anda mengenai novel ini.

Oleh : Maria Amanda Inkiriwang


Related Posts :