Kamis, 04 Oktober 2012

Royalty Penulis

Harga pasaran umum untuk royalty di negeri ini adalah 10 persen dan pajaknya adalah 15 persen (NPWP). Besarnya persentase pajak dibandingkan royalty seringkali dapat membuat seorang penulis mengerutkan kening. Itu pun tidak semua penulis mendapatkan kesempatan ”seberuntung” itu. Di Internet dan milis-milis penulis bertebaran cerita perlakuan tidak adil yang dihadapi seorang penulis, diantaranya: penulis yang mendapatkan royalty di bawah sepuluh persen, dibeli putus dengan harga sekian juta rupiah saja, royalty yang tidak dibayar atau telat datangnya, buku yang belum diterbitkan selama setahun padahal sudah disetujui penerbitannya, laporan penjualan yang mencurigakan dsb.

Pun bukan hanya itu, di media surat kabar pun sering seorang penulis mengeluh karena tidak mendapatkan honor dari cerpennya. Atau sebuah buku antologi yang memuat karya para finalis namun hanya pemenang 1, 2, dan 3 saja yang mendapatkan hadiah uang tunai namun selebihnya tidak ada yang mendapatkan royalty dari hasil penjualan buku tersebut.

Apakah yang mendasari perlakuan yang tidak adil ini? Apakah hanya stigma kerja keras dan ”membanting tulang” saja yang pantas di berikan bayaran yang adil? Sementara itu negara dan masyarakat menganggap profesi seorang penulis hanyalah profesi yang dilakoni oleh orang yang banyak uang, waktu dan bekerja di tempat yang ber-AC. Mereka mungkin tidak tahu andaikata penulis itu bahkan tidak mempunyai komputer untuk mengetikkan hasil tulisannya! Haruskah seorang penulis memiliki jam kerja yang tetap, bercucuran keringat dan darah agar mendapatkan bayaran yang adil? Jika tidak, bagaimana menjelaskan sebuah pekerjaan yang dilakukan dengan segenap hati bisa dikenakan pajak sebesar 30% (tidak memiliki NPWP) dibandingkan besarnya pajak hadiah yang sekitar 25%? Apakah sebuah keberuntungan lebih dihargai dibandingkan kerja seorang penulis?

Abraham Maslow menguraikan gagasannya yang dikenal dengan ”hierarki kebutuhan” manusia. Kebutuhan fisiologis, rasa aman, cinta, harga diri dan aktualisasi diri. Kebutuhan yang pertama berhubungan dengan lapar dan haus, kebutuhan yang kedua didorong oleh rasa takut dan seterusnya.

Ketika seseorang berusaha menjadi penulis dan menelurkan sebuah karya, kebutuhan aktualisasi diri berbicara. Penulis tersebut mencari pengakuan bukannya kemuliaan. Ia menulis karena didorong apresiasi atas buku yang dibacanya. Jika tulisannya ditolak, ia akan menerimanya dan menulis tulisan yang baru tapi jika diterima, ia berharap akan mendapatkan imbalan yang adil atas usahanya itu.

Namun sayangnya banyak orang yang menganggap bahwa profesi sebagai penulis adalah sebuah pekerjaan sampingan. Padahal banyak penulis yang merasa bahwa menulis adalah pekerjaan utamanya!

Kerja pikiran

Dilihat dari luar seorang penulis adalah orang yang santai yang tidak memiliki waktu bekerja yang tetap. Ia dapat berjalan-jalan di mall, membaca buku sepanjang hari, dan tidur kapan saja. Orang lain tidak akan tahu andaikata setiap saat penulis itu terus bergulat dengan ide-ide yang ada di pikirannya dan sering bergadang pada tengah malam untuk menulis.

Kebutuhan menulis sebagai aktualisasi diri bagi sebagian besar penulis dapat melebihi titik ekstrem sehingga dia dapat mengabaikan tanggung jawabnnya mencari makan dan mengorbankan perasaan bersalah dan malu karena berutang atau masih dalam pertanggungan orangtua.

Kondisi ini tidak hanya menimpa penulis melainkan seniman lain yang tetap mempercayai bahwa pekerjaan fiktifnya ini bermanfaat bagi orang lain. Contohnya, lihat saja sutradara Korea Choi Ko Eun yang memiliki gelar sarjana tapi masih rela mengambil resiko mati kelaparan akibat pilihan profesinya.

Akan tetapi sayangnya di era kapitalis dengan semangat hedonisme ini, masyarakat tetap menganggap mati karena kelaparan lebih hina dibandingkan orang yang memutuskan untuk bunuh diri. Namun walaupun begitu, saya tetap percaya bahwa penulis atau seniman lain yang mati kelaparan karena karyanya tidak dihargai atau memang tidak berbakat, tidaklah lebih hina dibandingkan pemain bola atau karateka yang meninggal karena kelelahan.

Mereka sama-sama mempercayai pilihan hidupnya dan berjuang dengan segenap hati untuk mencapai tujuan itu.

Oleh : Ryusai


Related Posts :