Rabu, 07 November 2012

Angela’s Ashes
Dickens Irlandia

Membaca kehidupan seorang pengarang, memang lebih sering mengejutkan dibandingkan membaca buku-bukunya. Atau bisa juga dikatakan, ada beberapa pengarang yang belum pernah menerbitkan sebuah buku pun tapi kehidupannya adalah buku itu sendiri, dan Frank McCourt termasuk satu diantara pengarang tersebut.

Alkisah, Malachy McCourt bertemu dengan Angela Sheehan di Amerika, mengalami kisah cinta kilat dan (kemungkinan) berakhir di ranjang. Sepupu-sepupu Angela tidak terima atas perilaku Malachy dan menuntut pertanggungjawabannya namun Malachy berkata, ”kalian tahu, aku tidak berencana menikah. Tidak ada pekerjaan dan aku tidak sanggup menghidupi....” Rencana kabur Malachy pun gagal karena dia menghabiskan uangnya untuk pint.

Dari Malachy dan Angela lahirlah lima orang anak, yaitu: Frank McCourt, Malachy (diberi nama sama dengan ayahnya), si kembar Oliver dan Eugene dan Margaret. Di Amerika, Margaret meninggal dunia. Keluarga ini lalu pindah ke Irlandia dengan tiket yang diberikan oleh ibu Angela. Di Irlandia, kebiasaan Malachy yang tidak mempunyai pekerjaan (atau kehilangan pekerjaan pada minggu ketiga), menghabiskan uang untuk pint dan pulang dalam keadaan mabuk untuk membangunkan anak-anaknya yang kelaparan untuk mati demi Irlandia, tidak pernah berubah.

Meskipun demikian, rasa hormat Frank pada Malachy dan cinta Angela padanya tidak pernah luntur walaupun tentu seringkali Angela menyindir Malachy tentang tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan ayah. Setelah kepergian Margaret, Oliver menyusul yang membuat kembarannya mencari dan memanggil nama, ”Ollie... Ollie...” berulang-ulang. Enam bulan dari kematian Ollie, Eugene menyusul kepergian saudara kembarnya.

Kehilangan demi kehilangan yang terjadi dalam keluarga ini sekaligus kelahiran Michael dan Alphie setelah kematian tiga orang ”kakak” mereka yang belum pernah sempat mereka kenal membuat kehidupan layaknya sebuah lelucon. Kemiskinan, kelaparan, penyakit, dan kematian menjadi menu sehari-hari bagi keluarga Frank maupun orang-orang di sekelilingnya.

Kemiskinan tergambar dalam kata-kata Frank, ”Dia punya lampu listrik dan jamban, tetapi tidak punya saat-saat yang menyenangkan”

Kelaparan terlukiskan dalam, Mengapa harus ada orang yang kelaparan dalam dunia ini di dunia yang penuh dengan susu dan apel?

Kematian disinggung dalam narasi, ”Urusan mati lagi. Aku ingin mengatakan kepada mereka bahwa aku tidak bisa mati demi Iman, karena aku sudah dipesan untuk mati demi Irlandia.”

Apapun penderitaan dan kepahitan yang dialami Frank dan keluarganya, dia membungkusnya dalam humor yang penuh ironi dan terkadang getir. Walaupun demikian, ada kemenangan-kemenangan kecil seperti ketika dia dapat memberikan enam penny pada ibunya karena membacakan buku untuk Tuan Timoney.

Bisa jadi, dimulai dari sanalah karir Frank McCourt sebagai seorang penulis dimulai. Dilanjutkan dengan kebiasaannya duduk di luar gang demi mendegarkan radio tetangga yang menyiarkan drama Shakespeare dan ”pekerjaannya” menulis surat ancaman.

Membaca Angela’s Ashes menimbulkan pertanyaan dalam benak pembaca, ”Haruskah sebuah kehormatan dan gengsi diperjuangkan dengan resiko ketidakmampuan untuk menanggung sebuah kehidupan?” dan ”Haruskah sebuah buku yang bagus berasal dari penulis-penulis yang kisah hidupnya miris?”

Oleh : Ryusai


Related Posts :