Selasa, 13 November 2012

Kesetaraan Gender: dulu dan sekarang

Sejak dahulu, perempuan mengambil peranan kecil atau ’pekerjaan sampingan’ dibandingkan dengan apa yang dikerjakan oleh pria. Buka saja buku sejarah dimana pada zaman itu para pria mencari makanan dengan cara berburu sementara perempuan bertugas mengumpulkan buah-buahan, umbi-umbian, bercocok tanam, dan menyiapkan peralatan yang digunakan oleh pria untuk berburu.

Perempuan dianggap lemah dan tidak berdaya. Para ahli sejarah, filsuf, psikolog, dan ahli terkemuka lainnya pun membenarkan asumsi ini. Aristoteles pun pernah menyatakan perempuan sebagai ”laki-laki” yang tidak lengkap. Hal ini senada dilakukan oleh Freud.

Asumsi-asumsi ini membuat perempuan lebih sering tinggal di rumah dan memperlajari keahlian yang dibutuhkan untuk rumah tangga seperti: memasak, menyapu, menjahit, dll.

Tidak peduli apakah ia keturunan bangsawan atau bukan, perempuan diharapkan mempelajari keterampilan-keterampilan di atas agar dapat melayani suami dengan baik. Diskriminasi pun mulai terjadi di mana-mana dan perempuan diharapkan atau lebih tepatnya dilarang sekolah tinggi-tinggi. Bukan hanya di Indonesia perempuan dilarang untuk bersekolah. Di Harvard pun perempuan pernah dilarang mengambil jurusan kedokteran. Alasannya sederhana: tidak ada perempuan yang mempunyai kualifikasi sebagai dokter.

Di dalam bukunya Matinya Gender, Ivan Illich mengomentari bahwa perempuan lebih sering melakukan pekerjaan dengan apa yang disebutnya ”kerja bayangan”, yakni: pekerjaan tanpa upah untuk membuat suatu barang mendapat nilai tambah sampai bisa dikonsumsi. Sebagai contoh, sebuah telur tidak dapat langsung dikonsumsi jika tidak ada seseorang (perempuan) yang pergi ke pasar, memilih telur, melakukan penawaran dengan penjual, membawanya pulang dengan jalan kaki atau naik kendaraan, naik ke apartemen dengan menggunakan lift, memutar kompor, memecahkan telur, menambahkan garam atau mentega, menggoreng telur sampai menyajikannya di piring di atas meja makan. Sebuah baju juga memerlukan usaha dari dicuci, dijemur, sampai dikeringkan (agar tidak kehujanan) agar dapat kita pakai. Semuanya itu dilakukan perempuan dari menyapu, mengepel, memasak, mencuci baju dan piring, serta berbelanja ke pasar. Belum lagi inilah rutinitas yang mereka lakukan sehari-hari, berulang-ulang terus selama hidupnya sampai puluhan tahun tanpa bayaran sama sekali

Pekerjaan seperti inilah yang sejak zaman dahulu dilakukan oleh perempuan namun tak dihargai oleh laki-laki. Tapi syukurlah, pada era digital dengan kemajuan teknologi dan informasi saat ini, perempuan pun dapat bersaing dengan laki-laki secara seimbang. Kehadiran internet yang menihilkan batas jarak dan waktu membuat kaum perempuan dapat bekerja di rumah dan menghasilkan uang. Mereka dapat menjalani bisnis marketing, menjual kue, baju, hasil karyanya melalui situs jejaring sosial ataupun menjadi penulis.

Komputer, Internet, Yahoo, Google, dan Facebook menyamaratakan kodrat milyaran manusia di muka bumi ini. Sungguh tidak dapat dibayangkan bagaimana dahulu Kartini memperjuangkan nasib kaumnya untuk ”memegang pena” sedangkan sekarang perempuan bebas menyuarakan pendapatnya di Internet.

Oleh : Liana Xue


Related Posts :