Jumat, 30 November 2012

Sehelai Daun diantara Halaman Buku

Judul Buku : Catatan Ichiyo
Penulis : Rei Kimura
Penerjemah : Moch. Murdwinanto
Penerbit : Gramedia
Tebal : 280 halaman



Membaca Catatan Ichiyo berarti membaca salah satu kisah seorang penulis yang disia-siakan dunia. Seorang penulis yang tidak dihargai sebelum ia meninggal, atau setidaknya sampai ia nyaris berada di ujung maut.

Ichiyo Higuchi adalah sosok ironis dimana dia diliputi kemiskinan di sepanjang hidupnya yang singkat, 24 tahun, namun wajahnya diabadikan dalam lembaran uang kertas 5000 yen Jepang. Terlebih dari itu, ia adalah seorang penulis wanita di zaman Meiji, dimana di kala itu diskriminasi wanita masih terasa sangat kental apalagi di masyarakat dengan budaya patriarki yang kuat seperti Jepang.

Sang ayah, Noriyoshi Higuchi, adalah seorang petani yang bercita-cita mengangkat derajat keluarganya ke kelas samurai dan berhasil mencapai tepiannya. Ia kawin lari dengan ibu Ichiyo yang bernama Furuya Ayame. Sejak Ichiyo masih kecil, sang ayah telah dapat melihat bakat terpendam putrinya pada sastra dan menjejalinya dengan banyak buku bacaan.

Warna-warni kehidupan Ichiyo dan perjuangannya untuk menjadi seorang penulis yang diakui dunia pun sudah dimulai ketika ibunya tidak setuju dengan keyakinan Noriyoshi untuk menjadikan putrinya penulis terkenal, karena menurutnya posisi perempuan pada saat itu hanyalah untuk menikah dan melayani suami.

Natsuko (nama kecil Ichiyo) tak memiliki teman di sekolahnya karena ia lebih suka ditemani oleh buku sampai ia bertemu dengan Masao, seorang kutu buku yang sama dengan dirinya. Persahabatan mereka yang singkat dan perpisahan dengan Masao membuat Natsuko mengambil keputusan penting dalam hidupnya untuk mengubah namanya menjadi Ichiyo, yang berarti sehelai daun diantara halaman buku-buku.

Kehilangan figur ayah dan seseorang yang mendukungnya dalam sastra membuat Ichiyo yang berusia 17 tahun harus menanggung beban ekonomi keluarga. Di sini pembaca akan diajak menyelam ke dalam kondisi batin Ichiyo yang merasa bersalah karena pekerjaan mencuci dan menjahit lebih banyak dilakukan oleh Ibu dan adiknya, Kuniko.

Kuniko rela mengorbankan dirinya agar sang kakak lebih banyak memiliki waktu untuk menulis. Walaupun banyak orang yang mempercayai akan bakat sastranya, Ichiyo merasa frustasi dan putus asa karena belum satu pun dari cerpen atau novelnya yang berhasil diterbitkan dan menghasilkan uang. Ditambah lagi ia jatuh hati pada Nakarai Tosui, penulis picisan yang mengorbankan idealismenya untuk menulis novel-novel populer yang dapat menghasilkan banyak uang.

Harga diri Ichiyo sebagai seorang penulis mengalahkan cintanya pada Tosui meski ia harus memendam perasaannya. Ichiyo pun menenggelamkan diri di perpustakaan Ueno dimana nantinya ia baru menyadari bahwa ia satu-satunya perempuan yang ada di perpustakaan itu.

Kemiskinan, penyakit, kepedihan, dan penderitaan akan terus mewarnai perjalanan hidup Ichiyo sebagai penulis yang bersumpah bahwa ia akan menembus dunia sastra yang selama ini dikuasai laki-laki, dengan nama perempuan.

Hidupnya membuktikan hal itu dan Ichiyo termasuk salah satu penulis yang ”beruntung” karena sempat mereguk keberhasilannya yang singkat. Di usianya yang pendek 24 tahun, dan meninggal karena tuberkulosis, ia masih sempat menyelesaikan novel terakhirnya Separate Ways (Jalan lain). Tidak kurang ada dua puluh novel yang dihasilkannya dalam masa hidupnya yang singkat termasuk sembilan novel yang ditulisnya dalam waktu setahun!

Sebuah dedikasi yang luar biasa yang dihasilkan oleh seorang penulis yang menyadari betul ”kemewahan” waktu menulisnya di tengah-tengah himpitan kemiskinan.

Oleh : Ryusai


Related Posts :