Rabu, 05 Desember 2012

Kehidupan Penduduk Pesisir Ujung Genteng

Ujung Genteng yang terletak di kabupaten sukabumi merupakan sebuah tempat wisata yang cukup terkenal di Indonesia. Banyak orang yang menginginkan untuk berkunjung ke tempat tersebut. Apalagi di dekat daerah wisata ini terdapat konservasi penyu hijau, tepatnya di desa Pangumbahan yang jarak tempuhnya kira-kira satu jam jika dilalui dengan berjalan kaki. Pemandangan yang indah dengan perpaduan lautnya yang begitu bersih membuat wisatawan asing dan lokal berdatangan untuk menikmati indahnya pantai Ujung Genteng.

Kepemilikan tanah dari Ujung Genteng ini kebanyakan adalah milik TNI AU. Namun, masyarakat disana dapat memiliki tempat tinggal setelah memperoleh izin dari pihak TNI AU dan kepala desa setempat. Mayoritas penduduk Ujung Genteng bukanlah penduduk asli setempat. Melainkan pendatang dari berbagai daerah di sekitar Pulau Jawa dan menetap, dan kebanyakan di antaranya memiliki tempat tinggal. Pekerjaan yang banyak digeluti masyarakat Ujung Genteng adalah nelayan. Selain nelayan profesi penduduk lainnya adalah petani, pedagang, dan PNS.

Walaupun Ujung Genteng merupakan tempat wisata, jika kita melihat keadaan di dekat pantai tersebut kita akan merasa sedikit miris. Karena masih banyak potensi wisata yang bisa diolah tetapi tidak ditindak lanjuti oleh pemerintah. Selain itu, dari segi pendapatan penduduk pesisir Ujung Genteng belum termasuk kepada masyarakat yang cukup mampu secara menyeluruh. Kebanyakan penduduk disana menjadi nelayan dengan bekerja kepada bos atau pemilik kapal.

Penduduk disana yang termasuk memiliki taraf hidup menengah ke atas adalah para pemiliki kapal. Mereka biasanya mempekerjakan nelayan lain dengan bagi hasil dari tangkapan nelayan, umumnya sebesar 40:60. 40% untuk pemilik kapal dan 60% untuk nelayan. Namun, untuk jaring mereka harus membayar lagi, karena jaring tidak disediakan langsung oleh pemilik kapal. Para bos pemilik kapal ini bisa memiliki sampai 20 kapal. Sehingga dapat dikatakan pemilik kapal di Ujung Genteng sangatlah makmur. Perbedaan taraf kehidupan sebenarnya cukup terlihat disana, namun dikarenakan bangunan penduduk disana cukup sederhana sehingga untuk melihat perbedaannya secara langsung kita bisa menanyakannya kepada penduduk setempat.

Pendapatan nelayan sangat fluktuatif, dikarenakan hasil tangkapan dipengaruhi oleh cuaca dan berbagai faktor lainnya. Pendapatan nelayan di Ujung Genteng maksimal ±Rp. 2.000.000 dan paling sedikit sekitar ±Rp 150.000. Jika mereka melaut. Walaupun sebenarnya jumlah ini berbeda dengan nelayan-nelayan lainnya. Sekali melaut para nelayan ini bisa berada di laut selama 2x24 jam, dan mereka melakukannya selama seminggu sebanyak 2 - 3 kali, Karena membutuhkan waktu istirahat dan persiapan untuk melaut berikutnya. Resiko para nelayan ketika melaut adalah cuaca dan hasil tangkapan yang tidak memadai. Banyak nelayan yang meninggal ketika melaut dikarenakan tidak bersahabatnya cuaca. Belum lagi hasil tangkapan yang diperoleh sangat sedikit sehingga nelayan terpaksa berhutang untuk menutupi semua biaya operasional ketika melaut.

Keberadaan Ujung Genteng sebagai tempat wisata memberikan pengaruh baik kepada penduduk sekitar. Karena mereka dapat memperoleh tambahan penghasilan dari para wisatawan baik itu yang berasal dari dalam dan luar negeri. Dengan adanya wisata ini juga dapat membuka lapangan pekerjaan baru dan menyerap tenaga kerja penduduk setempat sehingga perekonomian disekitar Ujung Genteng pun meningkat. Harapan penduduk tersebut adalah ditingkatkannya perhatian pemerintah terhadap obyek wisata ini dengan melalui promosi yang lebih intens sehingga diketahui oleh semua penduduk indonesia dan kabarnya dapat dicapai ke luar negeri. Selain itu pembangunan infrastruktur sangat dibutuhkan untuk memudahkan perjalanan dan kebutuhan wisata lainnya untuk mencapai lokasi wisata Ujung Genteng.

Oleh : Ahmad Azhari Pohan


Related Posts :