Kamis, 13 Desember 2012

Ketidaksempurnaan Pasar Menurut Islam

Pasar merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli. Bertemunya penjual dan pembeli menyebabkan terjadinya penawaran dan permintaan yang berikutnya berakibat kepada perubahan harga barang dan jasa di pasar yang terjadi dengan alamiah atau kita sebut harga yang adil. Jika mekanisme pasar diganggu, maka harga yang adil tadi tidak akan tercapai, kemungkinan yang terjadi adalah sebaliknya. Jika hal ini terjadi maka para pelaku pasar akan enggan untuk bertransaksi atau terpaksa bertransaksi dengan menanggung kerugian.

Islam menginginkan harga yang adil yang berlaku untuk semua umat. Sehingga diperlukan akhlak yang mulia antara penjual dan pembeli dalam bertransaksi. Dari penjual sendiri sangat dibutuhkan kejujuran yang menyangkut barang dagangannya. Banyak penjual yang menjual barangnya dengan menyembunyikan barang yang buruk di tumpukan bagian bawah dan hanya menunjukkan barang yang baik di tumpukan teratas. Rasulullah pernah melalui satu timbunan makanan (biji-bijian), lalu beliau memasukkan tangannya dan basah. Beliau pun bertanya “Kenapa ini penjual makanan?” Penjual itu menjawab “Kena hujan ya Rasulullah!”. Rasulullah kembali bertanya, “Mengapa engkau tidak taruh ini di sebelah atas supaya orang-orang dapat melihat? Barangsiapa menipu, maka bukan dari golonganku!” (H.R Muslim dari Abu Hurairah)

Rasulullah ketika masih berdagang dahulu merupakan pedagang yang sangat baik. Beliau tidak menetapkan harga begitu saja. Beliau memberikan penawaran kepada pembeli dengan memberitahukan modal awal barang tersebut. Kemudian pembeli dapat menimbang dan memberikan tawarannya. Karena kejujuran beliau dalam berdagang hasil usahanya selalu mendatangkan keuntungan yang besar. Akan tetapi yang harus kita ketahui juga bahwa pembeli arab pada zaman dahulu yang menawar harga barang selalu dengan harga yang lebih tinggi bukan sebaliknya. Hal inilah yang tidak mungkin terjadi di Indonesia, di mana pembeli akan selalu menawar dengan harga yang lebih rendah. Oleh karena itu, wajar saja jika pedagang memberikan harga barangnya langsung beserta keuntungan yang akan ia peroleh. Jika suatu waktu barangnya ditawar oleh orang lain, ia dapat menurunkan sedikit banyaknya asalkan ia masih menerima keuntungan. Tetapi yang dapat kita tiru dari Rasulullah adalah kejujuran beliau dalam berdagang.

Kejahatan di pasar lebih sering dilakukan oleh penjual. Namun, pembeli juga tidak tertutup dari kejahatan ketika transaksi jual beli dilakukan. Pembeli bisa saja memberikan penawaran yang sangat rendah dan jumlah penawarannya bahkan lebih rendah jika dibandingkan modal awal si penjual itu sendiri. Walaupun keberlanjutan atau batalnya suatu transaksi merupakan salah satu hak pembeli, tetapi memberikan penawaran yang terlalu rendah justru akan merugikan pihak penjual. Karena penjual mengeluarkan modal waktu dan investasi beserta resikonya untuk usaha tersebut.

Kesempurnaan pasar dapat terjadi ketika harga bergerak secara alami berdasarkan penawaran dan permintaan. Selain itu intervensi pemerintah terhadap pasar sebaiknya tidak dilakukan ketika pasar dalam keadaan alaminya. Namun, pemerintah harus turun tangan langsung ketika ditemukan pelanggaran seperti penimbunan barang yang dilakukan penjual untuk memperoleh untung yang lebih tinggi dari langkanya barang di pasar. Sehingga keadaan pasar dapat kembali normal seperti sedia kala.

Oleh : Ahmad Azhari Pohan


Related Posts :