Rabu, 30 Januari 2013

Bila Otak Pria dan Wanita Berbeda

Secara kodrati, pria dan wanita dilahirkan dengan sejumlah perbedaan. Selain itu, walaupun demikian, juga dilengkapi berbagai persamaan sebagai makhluk dari jenis manusia. Meskipun begitu, faktor-faktor yang membuat laki-laki berbeda dari wanita, hingga kini belum seluruhnya dapat diungkap. Di antara sekian faktor pembeda itu masih menjadi misteri. Yang jelas, perbedaan kedua jenis manusia itu sesungguhnya tidak hanya terletak pada wujud fisik dan jenis kelamin. Namun, juga dalam perilaku dan kemampuan dasar bernalar. Uniknya, perbedaan itu konon telah terjadi sejak masa kanak-kanak.



Anak laki-laki berbeda dengan anak perempuan dalam hal selera, sikap, dan cara bergerak. Tanpa diajari, sejak balita anak-anak pria mempunyai naluri menyukai mainan yang berbeda dengan anak-anak wanita. Anak-anak wanita senang bermain boneka, perabot rumah tangga, dan peralatan dapur plastik. Sementara anak laki-laki akan lebih menyukai senjata, mobil, dan barang yang bergerak dinamis.

Perbedaan juga tampak saat anak menginjak usia remaja dan dewasa. Pada waktu bepergian, hal-hal yang menjadi pusat perhatian mereka berbeda. Remaja putri dan wanita dewasa lebih tertarik pada hal-hal seperti rumah yang indah, tempat makan yang enak, dan toko barang-barang murah. Sementara remaja putra dan pria dewasa umumnya lebih tertarik pada hal-hal yang terkait dengan petualangan dan ekspresi “kekerasan”. Bagi kaum pria, perjalanan mendaki, belokan yang menyeramkan, atau melihat balapan mobil lebih menarik daripada toko dan barang-barang yang bagus dan murah.

Lebih jauh, kemampuan dasar intuisi terhadap tanda-tanda alam dan sikap dasar manusia, juga berbeda. Wanita umumnya mempunyai kemampuan intuisi yang lebih tajam dibandingkan pria. Kemampuan nalar dan rasa pengertian antara wanita dan pria pun berbeda. Sebagai contoh, wanita mempunyai kelebihan dalam ekspresi bahasa. Mereka lebih menyukai kata-kata halus. Mereka pun cenderung lebih sabar dan telaten. Sebaliknya, kata-kata sumpah serapah dan kasar sering kali menjadi ciri khas yang melekat pada pria ketika menghadapi keadaan yang tidak mengenakkan.

Menurut keyakinan masyarakat ilmiah, otak wanita dan otak pria juga berbeda. Hipotesis tentang perbedaan itu pertama kali diusulkan oleh Simon Levay, ahli saraf dan Sal Institute, ketika ia menemukan perbedaan struktur otak wanita dan pria. Perbedaan struktur otak, menurutnya, telah membawa konsekuensi adanya perbedaan dalam ekspresi kehidupan mental.

Otak dan kemampuan berpikir diakui sangat berperan dalam kehidupan manusia. Mayoritas ahli kini percaya fungsi otak merupakan indikator utama adanya kehidupan. Sekali fungsi berhenti, saat itulah orang divonis mati. Seperti dalam teori Levay, suatu hal yang wajar dan masuk akal jika ada dugaan kemampuan mental mungkin berawal dari segumpal organ yang disebut otak itu.

Dalam satu dekade terakhir ini, para ahli saraf menemukan adanya perbedaan itu. Meskipun temuan masih bersifat sementara (tentatif) dan ambigu dalam arti bisa salah dan bisa benar-sebagian besar mengakui adanya sedikit perbedaan struktur otak. Namun, mereka hampir saja putus asa mencari jawaban terhadap pertanyaan, “Apakah perbedaan susunan atom/molekuler otak menyebabkan wanita dan pria berbeda dalam berpikir?” Secara atomik, menurut para ahli, tidak ada perbedaan yang prinsip antara otak wanita dan otak pria. Susunan molekuler keduanya analog dan nyaris kembar identik.

Untunglah, dengan hadirnya mesin-mesin pencitraan baru, para peneliti mulai paham-setidaknya dapat melihat perbedaan-bagaimana otak pria dan wanita secara aktual berfungsi. Dengan hadirnya teknologi baru seperti functional magnetic resonance imaging (FMBI) dan positron emmision tomography (PET), para peneliti dapat mengamati tingkah laku otak saat manusia merenung, merasakan, dan mengingat sesuatu. Dalam tahun 1995 berbagai penelitian sudah membuktikan adanya perbedaan susunan neuron otak, saat otak bekerja (seperti membaca) dan menganggur. Dan menjelang April 1994, hasil studi melaporkan bahwa otak wanita bekerja lebih banyak saat ia memikirkan kesedihan. Pada saat sedih, menurut penelitian itu, wanita mempunyai kemampuan nalar lebih rendah saat diuji dengan metode SAT.

Oleh : Nur Rokhanah
Referensi: Dawud, dkk. 2004. Bahasa dan Sastra Indonesia Jilid 3. Jakarta: Erlangga


Related Posts :