Jumat, 01 Februari 2013

Manajemen Resiko Perbankan Syariah

Persaingan pangsa pasar antara bank syariah dengan perbankan konvensional semakin membaik. Walaupun pangsa bank syariah masih sangat jauh dibanding konvensional, tetapi perkembangan bank syariah dinilai sangatlah cepat untuk dalam negeri. Jika dibandingkan dengan perkembangan perbankan syariah secara global, Indonesia merupakan negara dengan perkembangan bank syariah paling maju saat ini. Hal ini didukung dengan bertambahnya bank-bank syariah baru baik itu berupa BUS (Bank Umum Syariah), UUS (Unit Usaha Syariah), BPRS (Bank Perkreditan Rakyat Syariah), office channeling, dll.

Perbankan sendiri selain berupa intermediasi antara pemilik modal dan pihak yang membutuhkan modal. Bank juga memiliki sisi usaha untuk menghasilkan profit yang dapat di-share kepada nasabah yang memberikan modalnya. Dalam setiap usaha yang dijalankan atau dalam syariah dinamakan akad, masing-masing memiliki resikonya masing-masing. Dan yang patut untuk diketahui antara bank syariah dengan bank konvensional, resiko dari bank syariah lebih banyak jika dibandingkan dengan bank konvensional. Hal ini dikarenakan bank konvensional hanya memiliki resiko terhadap profiling nasabah. Maksudnya, bank konvensional harus melakukan analisa kemampuan para nasabah yang meminjam dana atas kemampuan mereka untuk mengembalikan modal beserta bunganya kembali. Jadi dengan kata lain resiko bank konvensional adalah ketidakpastian mengembalikan modal dari nasabah yang meminjam dana.

Bank syariah selain profiling nasabah, pada setiap akad yang ingin dipakai juga memiliki resikonya masing-masing. Karena setiap akad memiliki aturannya tersendiri yang telah diatur oleh DSN-MUI melalui fatwa-fatwanya. Karena adanya resiko ini, maka perbankan syariah butuh manajemen resiko yang berfungsi untuk menghindari kerugian yang mungkin terjadi pada bank syariah. Adapun resiko-resiko tersebut adalah:

1. Resiko Pembiayaan.

Resiko ini sebenarnya dialami oleh berbagai bank baik itu konvensional ataupun syariah. Resiko ini timbul dari setiap kemungkinan yang mungkin terjadi kepada setiap nasabah yang kemungkinan tidak dapat mengembalikan modal yang dipinjamkan oleh bank.

2. Resiko Pasar.

Resiko ini diakibatkan perubahan harga pasar atas nilai aset milik bank. Kecenderungan harga pasar berfluktuatif untuk setiap nilai suatu aset ataupun barang.

3. Resiko Likuiditas.

Resiko likuiditas kemungkinan dapat terjadi dengan dua kondisi. Yaitu ketika bank memiliki kelebihan likuiditas ataupun kekurangan likuiditas. Ketika terjadi kelebihan likuiditas, di mana bank memiliki dana yang cukup besar namun belum dipakai untuk pembiayaan ataupun pemberian pinjaman maka yang terjadi adalah penurunan nilai uang tersebut akan inflasi. Sebaiknya dana yang ada dialokasikan untuk investasi baik itu di dalam maupun di luar negeri. Ketika bank kekurangan likuiditas maka bank terpaksa harus meminjam dari bank lain ataupun lembaga keuangan lainnya untuk memenuhi kebutuhan nasabah yang menarik dananya dalam jumlah besar.

4. Resiko Operasional.

Resiko yang memungkinkan terjadi dari proses internal yang kurang memadai, kegagalan sistem, atau dari kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional bank.

5. Resiko Hukum.

Hal ini dapat terjadi melalui kelemahan aspek yuridis perbankan atas suatu aset. Misalnya bank memberi pembiayaan kepada nasabah untuk sebidang tanah yang ternyata di kemudian hari diketahui kalau tanah tersebut merupakan tanah sengketa.

6. Resiko Reputasi.

Terjadinya resiko ini melalui menurunnya kepercayaan para stakeholder kepada perbankan yang muncul dari perspektif negatif. Menurunnya kepercayaan stakeholder dapat berakibat kepada menurunnya jumlah nasabah baru bank dan banyaknya pengalihan deposito nasabah kepada perbankan lain.

7. Resiko Strategik.

Resiko yang bersumber dari kesalahan dalam pengambilan keputusan dan juga gagal dalam melihat dan mengikuti perkembangan lingkungan bisnis yang lagi tren saat itu. Sehingga perbankan memiliki kemungkinan untuk tertinggal perkembangannya jika dibandingkan dengan bank lainnya.

8. Resiko Kepatuhan.

Muncul dari ketidakpatuhan perbankan akan UU dan aturan syariah. Sehingga dapat dikenakan sanksi.

9. Resiko Imbal Hasil.

Resiko ini muncul dari perubahan imbal bagi hasil yang mungkin diterima bank syariah. Karena, bagi hasil pada bank syariah bersumber dari keuntungan usaha nasabah.

10. Resiko Investasi.

Bank syariah memiliki resiko ikut menanggung kerugian dari usaha yang dibangun oleh peminjam. Karena dalam syariah yang dishare bukan hanya keuntungan usaha saja namun juga kerugian dari usaha tersebut.

Inilah beberapa macam resiko yang terjadi pada perbankan syariah. Kebanyakan dari resiko ini dapat diantisipasi dengan memakai akad dan aturan tertentu. Selain itu untuk setiap pembiayaan, bank syariah akan menilai pada usaha manakah yang memberikan prospek yang lebih baik untuk bank maupun untuk nasabah tersebut.

Oleh : Ahmad Azhari Pohan


Related Posts :