Senin, 18 Maret 2013

BENCANA, PENGANGGURAN DAN CASH FOR WORK - 1

Bencana alam yang terus mengguncang Indonesia, telah membuat masalah pengangguran menjadi semakin pelik. Pada tahun 2007 ini, jumlah pengangguran diperkirakan meningkat hingga 2,5 juta orang dimana bencana turut menyumbang cukup signifikan pada angka pengangguran ini. Banjir Jabodetabek diperkirakan membuat 223 ribu orang kehilangan pekerjaan, gempa Yogyakarta 60 ribu orang, lumpur panas Lapindo 20 ribu orang, gempa Sumatera Barat 15 ribu orang, dan gempa NTT 600 orang (Republika, 16/3/2007).

Terkait dampak bencana terhadap hilangnya lapangan pekerjaan ini, program cash for work (CFW) kini telah menjadi fenomena umum dalam program-program pemulihan pasca bencana. Terakhir, program ini dilakukan BAZNAS - Dompet Dhuafa Republika pasca banjir besar Februari 2007 yang melanda Jabodetabek. Sebelumnya, program CFW ini juga telah dijalankan banyak LSM di berbagai daerah bencana seperti pada Aceh pasca tsunami 2004 dan Yogyakarta pasca gempa 2006.

Sebagai sebuah program jangka pendek - temporer, CFW memiliki banyak keunggulan dibandingkan program bantuan bencana lainnya. CFW memberi manfaat bagi daerah bencana dengan cara menyerap tenaga kerja yang menganggur, menginjeksi perekonomian lokal dengan dana segar, memberdayakan individu dengan memberi mereka pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup-nya, dan memfasilitasi perekonomian kembali ke jalur normal dengan membangun kapasitas lokal dan menyediakan peluang-peluang ekonomi produktif.

Memberi lapangan kerja secara cepat adalah titik kritis CFW. Bencana besar umumnya membawa kerusakan massal, ratusan ribu orang secara tiba-tiba kehilangan pekerjaan atau tidak dapat menjalankan pekerjaan rutin mereka. Dalam kondisi seperti ini, CFW menjadi pilihan yang sangat logis dengan memberi individu kesempatan terlibat dalam aktivitas konstruktif dan pada saat yang sama memberi stimulus bagi perekonomian lokal dan mempromosikan pengambilan keputusan di tingkat komunitas dan individu.

CFW secara umum mirip dengan program padat karya, memberi dana untuk menyelesaikan proyek-proyek public works. Namun CFW lebih bersifat jangka pendek dengan penekanan memberi stimulus secara cepat kepada perekonomian dan menyediakan peluang kerja pasca bencana. CFW secara umum tidak ditujukan untuk program jangka panjang dan didesain sedemikian rupa agar tidak memberi disinsentif bagi recovery bisnis lokal.

Evaluasi CFW

CFW secara umum bertindak sebagai program jaring pengaman pasca bencana. CFW dapat kita evaluasi dengan tiga kriteria utama yaitu: (i) cakupan (coverage), yaitu bagaimana korban bencana tercakup secara luas di dalam program; (ii) minimalisasi kebocoran (leakages), yaitu bagaimana non-korban bencana dapat dicegah untuk ikut menikmati program; dan (iii) minimalisasi biaya operasional program.

Sebagaimana program padat karya, cakupan CFW umumnya cukup tinggi. Namun CFW seringkali gagal dalam mengidentifikasi “pekerja hantu”, yaitu mereka yang tercantum dalam daftar CFW namun tidak bekerja. CFW juga sering gagal dalam hal menjaga produktifitas. Rendahnya produktifitas umumnya terkait dengan target yang kurang jelas atau adanya anggapan awal bahwa semua penerima program akan mendapat bayaran tanpa melihat output kerja-nya.

Kebocoran CFW umumnya lebih banyak berasal dari kenyataan bahwa program seringkali gagal membedakan penerima program. Banyak keluarga yang mengikutsertakan anggota keluarga-nya lebih dari satu orang. ‘Kebocoran’ seperti ini membuat program tidak dinikmati secara merata atau lebih kecil dari yang seharusnya. Kebocoran CFW juga dapat disebabkan oleh kegagalan dalam menentukan tingkat upah program yang tepat. Tingkat upah yang salah sering mendistorsi pasar kerja lokal dengan masuk-nya orang yang masih memiliki pekerjaan ke dalam program CFW atau hilang-nya motivasi wirausahawan lokal untuk memulai kembali usaha-nya.

Biaya operasional CFW yang signifikan seringkali tidak dalam ukuran moneter, namun non-moneter. Ketika di desain secara salah, CFW sering dituding sebagai penyebab pudar-nya nilai-nilai luhur lokal seperti kekeluargaan, gotong-royong, dll. Sebagai misal, beberapa LSM asing mendesain CFW di Yogyakarta pasca gempa untuk program membersihkan lingkungan lokal dan pengelolaan lahan individual. Akibatnya, masyarakat menjadi hedonis-materialistis, tidak mau lagi bekerja jika tidak dibayar, tidak mau lagi bergotong-royong membersihkan lingkungan sendiri.

Dengan demikian, pelaksanaan CFW penting untuk memperhatikan beberapa faktor berikut. Pertama, mekanisme monitoring dan target kerja yang jelas. Penting bagi penyelenggara CFW untuk melakukan pemeriksaan langsung di lapangan atas kehadiran pekerja dan menugaskan pengawas dari luar masyarakat lokal untuk menjaga produktifitas kerja agar sesuai dengan target.

Oleh : Yusuf Wibisono


Related Posts :