Kamis, 21 Maret 2013

Kesejahteraan

Kelompok kaya dan miskin akan selalu ada selama manusia masih hidup di dunia ini. Sedangkan dalam islam juga tidak menolak hal ini. Karena bagi umat muslim yang memiliki rezeki berlebih dapat memberikan sebagian hartanya di jalan Allah SWT. Sedangkan bagi yang miskin dapat dibantu dengan dana dari umat yang kaya. Sehingga pemerataan pendapatan dapat berlangsung dengan baik dan dapat dirasakan oleh seluruh umat.

Kaya secara umum lebih identik dengan kemampuan seseorang dalam memiliki harta baik itu barang berkualitas rendah dan tinggi. Selain itu istilah kaya ini juga dapat diartikan dengan kemampuan mengakses segala layanan yang ia butuhkan untuk memenuhi kebutuhannya. Sebaliknya, miskin lebih sering diungkapkan dengan kurangnya kemampuan untuk memiliki suatu barang yang ia butuhkan atau ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Kebanyakan orang berpikiran memiliki harta yang banyak dan menjadi orang kaya adalah bentuk dari memperoleh kesejahteraan. Akan tetapi, banyak kita temukan di masyarakat yang taraf hidupnya tinggi namun hidupnya tidak tentram. Berbeda dengan sebagian masyarakat yang taraf hidupnya rendah namun merasakan ketentraman karena tidak dipusingkan dengan harta yang dimilikinya.

Ukuran kesejahteraan masyarakat yang berdasarkan dari penghasilan sering dijadikan acuan untuk menghitung jumlah penduduk miskin di suatu negara. Standar barat yang menyatakan penduduk yang memiliki pendapatan kurang dari $2 termasuk kepada penduduk miskin. Sedangkan Indonesia sendiri memiliki batasan sebesar Rp 10.000-Rp 15.000 termasuk kepada masyarakat miskin. Melalui standar tersebut, diperoleh bahwa 29,13 juta orang (11,96 persen) penduduk miskin pada Maret 2012*.

Menilai kesejahteraan membutuhkan berbagai macam ukuran serta melihat kebutuhan dasar untuk setiap negara. Tentunya kebutuhan dasar untuk negara maju berbeda dengan negara sedang berkembang. Oleh karena itu, ukuran WHO tidak dapat diterapkan di setiap negara. Lebih baik jika setiap negara melalui statistik yang menilai dan menghitung berapa banyak penduduk miskin di negaranya masing-masing. Karena setiap negara lebih mengetahui keadaan internalnya dibandingkan negara lain. Walaupun, WHO sendiri melakukan penelitian untuk menilai dan menghitung tingkat kesejahteraan setiap negara dari jumlah penduduk miskin yang ada pada masing-masing negara.

Peningkatan kesejahteraan merupakan tugas pemerintah selaku pemangku jabatan serta yang mengatur sistem negara. Pemerintah seharusnya menyediakan layanan beserta fasilitas umum untuk seluruh lapisan masyarakat. Keberhasilan suatu negara dalam mensejahterakan rakyatnya bukan hanya dilihat dari sudut ekonomi, melainkan juga dari peningkatan kualitas layanan yang diberikan pemerintah. Fasilitas umum ini haruslah dapat dinikmati oleh semua pihak. Sehingga tidak ada pihak yang termarjinalkan atau dianaktirikan karena perbedaan status.

Penilaian kesejahteraan ini sebenarnya kurang tepat jika diukur dengan memakai angka. Karena kesejahteraan untuk setiap orang berbeda-beda. Bagi orang kaya sejahtera mungkin bisa dengan cara memiliki harta. Namun, bagi yang lainnya sejahtera itu sendiri bisa saja cukup dengan terpenuhinya kebutuhannya sehari-hari. Akan tetapi, upaya pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan mengelompokkan yang kaya dan yang miskin tidaklah buruk.

Namun, yang menjadi poin utama adalah aplikasi atau tindak lanjut pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan inilah yang terpenting. Jangan sampai program yang ada untuk masyarakat tidak berjalan atau tumpang tindih dengan kepentingan masing-masing pihak. Sehingga hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Masyarakat merupakan tujuan utama dari program pemerintah. Oleh karena itu, itikad baik dan usaha yang keras diperlukan untuk memacu kesejahteraan masyarakat ke tingkat yang lebih baik lagi.

*http://www.setkab.go.id/berita-6873-jumlah-penduduk-indonesia-miskin-makin-berkurang.html

Oleh : Ahmad Azhari Pohan


Related Posts :