Senin, 04 Maret 2013

Mengapa Manusia Menguap

Tiba-tiba, pagi ini ketika baru bangun, saya ingat ucapan Miyamoto Musashi di dalam novel karangan Eiji Yoshikawa yang saya baca 10 tahun silam. “Ada dua macam uapan. Uapan kantuk dan uapan malas”. Kira-kira kata-kata itulah yang dituturkan oleh Musashi. Entah ada setan apa, saya termotivasi untuk mencari tahu sebab musabab kita semua menguap.

Yang dikatakan Musashi ada benarnya walau terdengar sangat tidak ilmiah. Biasanya kita menguap jika merasa letih dan kantuk atau ketika kita merasa bosan atau lagi malas. Tapi ini tidak menjelaskan sesuatu yang disebut social yawning. Yaitu ketika menguap itu dapat menular. Ketika ada orang lain menguap lalu tanpa kita sadari dan inginkan kita pun ikut menguap. Social yawning ini paling menular di antara anggota keluarga, teman dekat atau kerabat. Social yawning, menurut penelitian juga lebih mungkin terjadi kepada orang yang mempunyai empati tinggi. Social yawning juga dapat terjadi di lingkungan baru/asing jika setiap individu merasa satu nasib dan sepenanggungan. Contoh: ketika di lift, ketika menunggu di rumah sakit, ketika mengantri di teater dll. Jadi kalau ingin menguji seberapa tinggi empati teman Anda, coba deh menguap dan lihat apakah dia ikut menguap atau tidak. Pernahkah Anda mendengar The Chameleon Effect? Intinya adalah kita cenderung meniru gerak tubuh orang lain (termasuk menguap) agar lebih dapat diterima dan disukai. Untuk lebih lengkap soal ini bisa baca hasil penelitian Chartrand and Bargh (1999).

Selain social yawning di atas, ada juga fenomena aneh tentang aktifitas yang kerap mengeluarkan bunyi aaooaarghh ini. Banyak orang yang mengaku menguap sebelum melakukan sebuah penampilan di depan umum, terutama yang bersifat kompetitif. Saya beberapa kali melihat pemain sepak bola menguap ketika masih di terowongan sebelum memasuki lapangan. Saya sendiri ingat beberapa kali pernah menguap sesaat sebelum presentasi di depan kelas ketika masih mahasiswa dulu. Jelas keadaan-keadaan di atas tidak dapat disebut membosankan dan sepertinya baik sang pemain sepak bola dan saya juga tidak mengantuk.

Jika dilihat dari faktor fisik, menguap adalah proses pendinginan otak. Otak kita memerlukan temperatur yang sangat spesifik untuk bekerja dengan maksimal, dan menguap meningkatkan aliran darah ke otak. Mungkin bisa dibilang bekerja seperti radiator. Menguap juga sering kali mengundang kita untuk melemaskan atau melenturkan badan. Jadi dengan menguap bukan hanya otak kita yang siap untuk beraksi tapi badan kita pun siaga. Penjelasan ini nampaknya dapat menjelaskan tentang fenomena yang saya dan pesepakbola alami di atas.

Lalu otak saya pun melanglang buana ke area psikologi evolusi, salah satu cabang ilmu yang selalu menarik bagi saya. Mungkinkah nenek moyang kita dulu menguap untuk memberikan aba-aba agar kita tetap awas dan siaga dalam situasi yang mengancam? Atau menguap merupakan sebuah signal bahasa tubuh yang ditunjukkan oleh panglima, ketua suku, shaman kepada pengikutnya untuk menandakan mereka tetap santai dan tenang walau keadaan genting?

Sampai sekarang setahu saya belum ada yang tahu secara pasti mengapa manusia (dan beberapa mamalia lainnya)mulai menguap dan berasal dari manakah aktifitas ini. Tapi nampak-nampaknya menolak atau mencegah diri sendiri dari menguap malah lebih banyak rugi daripada untung. Jadi lain kali Anda ingin menguap tapi malu atau merasa tempatnya tidak cocok, lebih baik ditutupi saja jangan ditahan-tahan. Kecuali tentunya jika Anda salah satu pengidap penyakit langka yang bisa menyebabkan serangan menguap kronis.

Oleh : Adolf Monang


Related Posts :