Kamis, 28 Maret 2013

STRATEGI KOMUNIKASI ORGANISASI PENGELOLA ZAKAT - 1

Pengumpulan dana zakat di Indonesia, walau terus meningkat dari waktu ke waktu, namun masih jauh di bawah potensi-nya. Dengan tidak adanya kewajiban dan sanksi bagi ketidakpatuhan, maka penyebab terbesar dari rendahnya penerimaan zakat di Indonesia adalah karena masih minimnya kesadaran wajib zakat. Selain itu, masih rendahnya kepercayaan terhadap organisasi pengelola zakat (OPZ) membuat zakat masih dilakukan secara individual sehingga dampak zakat menjadi minimal. Hal ini membutuhkan perhatian serius dari OPZ dan semua stakeholders zakat.

Salah satu tujuan strategis di sini adalah diseminasi value zakat kepada masyarakat luas, khususnya para muzakki. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemahaman terhadap value zakat, baik social value maupun religious value, akan memiliki dampak positif terhadap peningkatan penerimaan zakat. Jika diseminasi value zakat ini dapat dilakukan secara luas dan masif, diyakini penerimaan zakat akan meningkat signifikan secara berkelanjutan.

Komunikasi Efektif untuk OPZ

Komunikasi suatu nilai atau produk tertentu kini semakin sulit dilakukan dalam dunia yang semakin penuh dengan informasi. Kita kini berada dalam an age of information overload. Masyarakat kini dikepung oleh informasi dari berbagai penjuru, di semua tempat, di semua waktu. Pendek kata, setiap value-provider kini dihadapkan pada persaingan yang sangat keras dan semakin keras untuk mencapai konstituen-nya.

Untuk itu dibutuhkan strategi komunikasi yang efektif dan komprehensif untuk mengkomunikasikan atau mensosialisasikan ide, gagasan, nilai atau produk tertentu kepada masyarakat. Bagi organisasi nirlaba seperti lembaga amil, dibutuhkan lagi usaha yang lebih keras mengingat bahwa organisasi tidak menawarkan “sesuatu manfaat” bagi konstituen. Tidak ada yang lebih berharga bagi lembaga nirlaba seperti OPZ selain mendapatkan strategi untuk mengkomunikasikan nilai dan pesan-pesan mereka kepada publik secara efektif.

Agar proses komunikasi dalam rangka diseminasi value zakat dapat efektif dan mencapai target yang diinginkan, terdapat beberapa prinsip pemasaran utama yang perlu diperhatikan OPZ. Pertama, menentukan positioning yang jelas. Positioning yang jelas, akan membantu diterima-nya pesan komunikasi secara lebih mudah di benak target yang dituju. Tentukan apakah zakat di-positioning-kan sebagai kewajiban yang mengikat (pendekatan agama “tradisional”), sebagai bentuk syukur nikmat (pendekatan agama ala “Manajemen Qalbu”), sebagai bentuk kepedulian sosial (pendekatan sosial), sebagai bentuk pengentasan kemiskinan dan redistribusi pendapatan (pendekatan ekonomi-politik), dll.

Kedua, buat differentiation yang mudah dilihat dan dipahami. Diferensiasi akan membuat setiap usaha diseminasi value zakat menjadi lebih mudah diingat oleh konstituen. Buat proses komunikasi zakat dilakukan dengan cara yang khas, yang membuatnya berbeda dari yang lain. Diferensiasi ini juga harus menunjang positioning. Ketika zakat di-positioning-kan sebagai kepedulian sosial, sampaikan value zakat dengan mengkomunikasikan manfaat zakat dalam berbagai tragedi dan bencana, seperti zakat untuk banjir, zakat untuk gempa, dll.

Ketiga, buat branding yang kokoh dan kredibel. Positioning dan differentiation yang jelas akan membuat brand zakat menjadi kokoh. Penggunaan jargon dan slogan yang mendukung positioning dan differentiation bisa membuat brand semakin kuat. Misal, “zakat untuk semua”, “zakat itu ringan”, “zakat menentramkan”, dll. Brand zakat akan lebih kredibel bila disuarakan oleh lembaga amil yang juga kredibel. Kredibilitas lembaga amil ini tidak akan bisa diraih tanpa kepercayaan, keyakinan dan kompetensi di hadapan konstituen. Maka agar diseminasi value zakat lebih mudah dan efektif, adalah sebuah keharusan bagi semua lembaga amil untuk menjadi lembaga yang terpercaya. Pimpinlah ummat dengan kredibel. Kehadiran institusi regulator dan pengawas dengan integritas tinggi, mutlak dibutuhkan di sini.

Setelah memenuhi prinsip-prinsip dasar komunikasi, OPZ dapat bergerak lebih jauh dengan membangun strategi operasional untuk komunikasi efektif agar diseminasi value zakat berjalan baik. Pertama, buat specific objectives yang tegas. Tujuan dari proses diseminasi harus dibuat secara tegas dan spesifik di awal agar proses komunikasi menjadi terarah. Tentukan apakah tujuan diseminasi value zakat untuk fund-raising, lobbying and advocacy, public education, atau marketing, advertising and publicity. Tujuan akan menentukan sasaran, cara, dan bentuk diseminasi. Buat juga prioritas diantara tujuan-tujuan untuk menentukan strategi jangka pendek dan jangka panjang.

Kedua, tentukan target market yang jelas. Setiap proses diseminasi harus jelas target dan sasaran yang hendak dituju agar proses komunikasi lebih mudah dan efektif. Misal, diseminasi value zakat yang bertujuan untuk fund-raising, maka harus ditujukan ke kelompok muzakki. Muzakki di sini juga harus dipertegas lagi, apakah muzakki dari kelompok profesional, pengusaha, atau pegawai.

Ketiga, buat measures and indicator untuk monitoring dan evaluasi. Setiap tujuan diseminasi memiliki ukuran keberhasilan yang berbeda-beda. Ukuran dan indikator keberhasilan diseminasi untuk tujuan fund-raising semestinya berbeda dengan diseminasi untuk tujuan lobbying atau public education. Tracking secara berkala awareness dari target terhadap usaha diseminasi untuk melihat efektifitas-nya.

Oleh : Yusuf Wibisono


Related Posts :