Kamis, 18 April 2013

Belajar Dari Bapak Dongeng Dunia

Hans Christian Andersen, demikian namanya. Hans dan Christian adalah nama tradisional dari Denmark. Ia lahir pada tanggal 2 April 1805 di Kota Odense, sebuah kota di Denmark bagan selatan.

Bapak dongeng dunia, begitu kira-kira sebutan yang pantas disematkan kepada Hans Christian Andersen. Hal ini tidak berlebihan, karena karya-karyanya yang berupa dongeng sangat dikenal di dunia. Ratusan dongeng yang dihasilkannya sangat disukai pembaca—bukan sekedar pembaca anak-anak, tetapi juga pembaca dari kalangan dewasa. Sebut saja judul The Snow Queen (Putri Salju), The little Mermaid (Putri Duyung) adalah karya-karya Andersen yang sangat melekat di ingatan pembaca. Tidak mengherankan jika di kemudian hari dongeng-dongeng Andersen diterjemahkan ke dalam lebih kurang 150 bahasa di dunia.

Keluarga Miskin Dan Perjuangan Hidup Andersen

Hans berasal dari keluarga miskin. Ayahnya, Hans Andersen sangat miskin dan buta huruf. Meskipun Ayahnya itu mengaku bahwa ia masih mempunyai keturunan bangsawan, akan tetapi laki-laki itu ternyata sehari-harinya hanya bekerja sebagai pembuat sepatu. Sementara Ibu Andersen, Anne Marie Andersdatter ikut membantu mencari nafkah keluarga dengan bekerja sebagai buruh cuci mereka hidup dalam kehidupan kemiskinan

Meski hidup dalam lingkungan miskin, tapi Andersen sejak kecil sudah mengenal berbagai cerita dongeng. Ia juga sudah akrab dengan pertunjukan sandiwara. Sementara sang ibu, sangat antusias mengenalkan Andersen dengan cerita-cerita rakyat.

Perjuangan hidup seorang Andersen yang sebenarnya baru dimulai pada saat ia berusia 11 tahun. Ayahnya meninggal dunia pada umur ia belum genap 11 tahun. Menjadi yatimlah Andersen pada usia sangat belia.

Kemudian Andersen terpaksa bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia pernah bekerja di sebuah pabrik rokok. Andersen juga pernah merasakan bagaimana rasanya magang di sebuah penjahit dan pada akhirnya ia putuskan bekerja sebagai penenun. Semua dilakukan Andersen, hanya demi untuk bertahan hidup.

Pada tahun 1819 Andersen memutuskan untuk pindah menuju Kota Kopenhagen. Ia berharap di sana akan bisa menjadi seorang aktor, penyanyi atau penari. Di sana ia memang sempat bergabung dengan Royal Theater. Akan tetapi tidak lama kemudian suaranya berubah karena pubertas dan Andersen memutuskan untuk meninggalkan dunia teater. Kemudian ia mencoba menjadi penulis sandiwara. Tetapi sayang seribu sayang, semua karyanya ditolak di mana-mana.

Selama, menetap tiga tahun di kota itu, Andersen tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Masa-masa itu adalah masa-masa sulit untuk Andersen.

Karya Pertama dan Yang Mencengangkan Dunia

Novel pertama Andersen yang diterbitkan berjudul The Improvisator. Cerita yang mengambil setting Italia ini mencerminkan kisah hidupnya sendiri; melukiskan upaya seorang bocah miskin masuk ke dalam lingkungan pergaulan masyarakat. Novel yang diterbitkan pada awal tahun 1835 itu ternyata sukses besar. Malah sampai akhir hayatnya, buku ini paling banyak dibaca orang andaikata dibandingkan dengan karya-karya Andersen yang lain. Sejak kemunculan karya ini, orang-orang mulai membicarakan nama Andersen. Kehidupan sulit Andersen pelan-pelan mulai berubah. Kemudian pada tahun 1836-1837 Andersen juga kembali mengeluarkan novel.

Dan ternyata novel-novel Andersen mendapat sambutan sangat bagus di pasar. Akan tetapi meskipun demikian, nama Andersen sendiri lebih menjulang sebagai penulis penulis dongeng anak-anak. Pada tahun 1835, Andersen meluncurkan Tales for Children (cerita anak-anak) dalam bentuk buku saku berharga murah.

The Little Mermaid (Putri Duyung) adalah judul dongeng yang ditulis Andersen pada tahun 1836. Dongeng ini berkisah tentang seorang Putri Duyung yang jatuh hati kepada pangeran manusia. Ternyata kisah dongeng ini sangat disukai oleh pembaca. Nama Andersen pun terkenal di seluruh dunia. Banyak yang menunggu dongeng-dongeng dari Andersen selanjutnya. Sehingga lahirlah The Little Mermaid (Putri Duyung), The Snow Queen (Putri Salju), The Little Ugly Duckling (Anak Itik Buruk Rupa) di tangan Andersen. Semakin berkibarlah nama Andersen sebagai penulis dongeng anak-anak.

Museum Untuk Menghargai Andersen

Kapan Andersen meninggal? Pertanyaan itu sampai sekarang masih belum menemukan jawaban yang pasti. Akan tetapi beberapa sumber menyebutkan bahwa Andersen meninggal pada tanggal 4 Agustus 1875. Ia meninggal di Rolighed, sebuah kawasan dekat Kopenhagen. Akan tetapi meskipun sudah tutup usia, Andersen telah meninggalkan nama besar. Orang-orang mengenang Andersen sebagai penulis dongeng terbaik sepanjang masa.

Dan banyak cara yang dilakukan untuk menghargai nama besar Hans Christian Andersen. Salah satu cara adalah dengan membangun museum Hans Christian Andersen yang bertempat di Kota Odense. Museum ini didirikan pada tahun 1908 atas prakarsa dari Pemerintahan dan masyarakat Denmark. Museum ini sebenarnya adalah rumah yang diyakini sebagai tempat kelahiran Andersen. Di dalam museum ini terdapat ruang khusus berisi peninggalan Andersen.

Tidak itu saja, orang-orang yang membuat patung Andersen atau patung dari tokoh dari karyanya untuk menghormati nama besar Andersen. Di Pelabuhan Kopenhagen kita bisa menemukan patung The Little Mermaid. Di Amerika Serikat, patung Hans Christian Andersen dapat ditemukan di Central Park, New York. Di Kota Bratislava, Slovakia, kita juga akan menemukan patung Hans Christian Andersen. Belum usai sampai di situ saja, Tanggal 2 April yang merupakan hari lahir Andersen sekarang ini hari tersebut dirayakan sebagai hari buku anak se-dunia (Children’s Book Day). Kegiatan tersebut melibatkan 60-an negara di seluruh dunia itu. Biasanya salah satu negara menjadi negara penyelenggara yang mengundang pengarang-pengarang dari seluruh dunia untuk bersama merayakan peringatan tersebut. Tema kegiatan di acara tersebut selalu berhubungan dengan buku dan anak.

Oleh : Alimuddin Mansu


Related Posts :