Rabu, 10 April 2013

EKONOMI MUDIK - 1

Hari-hari ini kita kembali menyaksikan salah satu fenomena terbesar negeri ini, mudik. Bagi sebagian besar masyarakat perantau, mudik adalah sebuah kewajiban. Ia adalah penyambung utama silaturahmi yang memberi energi baru untuk melanjutkan kehidupan di tanah perantauan. Hal ini kemudian bertemu dengan semangat religius Ramadhan dan Idul Fitri, yang akhirnya menciptakan mudik sebagai salah satu event ritual rutin tahunan terbesar di dunia. Tahun 2006 ini diperkirakan terdapat 14,42 juta orang yang akan mudik ke kampung halaman masing-masing di seluruh Indonesia, dengan 1,5 juta orang menggunakan angkutan udara dan 3 juta orang menggunakan sepeda motor.

Dari satu perspektif, mudik adalah fenomena sosial yang positif. Mudik memberi andil yang besar dalam menjaga nilai-nilai kekeluargaan, solidaritas, dan harmoni sosial. Mudik juga menjaga nilai-nilai kultural antara pemudik dengan daerah asal-nya. Dampak ekonomi mudik juga tidak bisa dipandang remeh. Bersamaan dengan mudik, triliunan rupiah uang mengalir setiap tahun-nya ke daerah asal pemudik yang menggerakkan roda perekonomian lokal, memberi jaminan sosial dan melepaskan penduduk dari kemiskinan, walau mungkin temporer. Perekonomian nasional juga bergerak seiring pergerakan jutaan manusia, yaitu melalui jalur konsumsi seperti di sektor transportasi, komunikasi, perdagangan, hotel, dan restoran.

Dengan berbagai argumen di atas, kita umumnya kemudian memberi toleransi besar bagi mudik, memberinya pembenaran dengan THR, memfasilitasi-nya dengan acara mudik bersama, dan bahkan mendorong-nya dengan membuat jadwal libur panjang setiap Hari Raya Idul Fitri. Pemerintah dan swasta berlomba memberi kemudahan bagi para pemudik, mulai dari penyediaan armada transportasi hingga posko siaga mudik.

Inefisiensi Sosial-Ekonomi

Ditinjau dari perspektif makro-jangka panjang, fenomena mudik sesungguhnya adalah inefisiensi, baik dari sisi sosial maupun ekonomi. Secara sosial, mudik identik dengan berbagai kerumitan yang sering menimbulkan biaya sosial yang tidak kecil. Pergerakan puluhan juta manusia dalam waktu yang relatif bersamaan rentan dengan berbagai masalah mulai dari kasus-kasus kriminalitas, kecelakaan transportasi yang menelan korban harta dan jiwa, hingga kemacetan luar biasa di berbagai jalur mudik.

Secara ekonomi, mudik menghabiskan begitu banyak sumber daya ekonomi. Di tahun 2006 ini, dari DKI Jakarta saja diperkirakan terdapat 2,2 juta pemudik, 1 juta di antara-nya menggunakan transportasi darat, dan 300-400 ribu diantara-nya diperkirakan menggunakan sepeda motor. Untuk pergerakan itu entah berapa juta liter BBM yang kita habiskan untuk mudik, berapa ton polutan yang kita hasilkan, dan entah berapa luas tanah pertanian subur yang kita korbankan untuk membangun ribuan kilometer jalan raya.

Secara makro, inefisiensi ekonomi dari mudik menjadi semakin tidak bisa dipandang remeh. Jika setiap pemudik menghabiskan Rp 2 juta untuk pulang-pergi, maka dengan 14,42 juta orang pemudik, di tahun 2006 ini kita menghabiskan Rp 28,84 trilyun hanya untuk transportasi mudik saja. Ditambah lagi para pemudik umumnya membawa uang atau oleh-oleh, yang umumnya untuk tujuan konsumsi jangka pendek di kampung halaman (demonstration effect). Jika setiap pemudik membawa uang atau oleh-oleh rata-rata Rp 3 juta per orang, maka pemudik menghabiskan Rp 43,26 trilyun setiap tahunnya. Bayangkan jika dana puluhan triliun tersebut yang setiap tahunnya habis sebagai konsumsi jangka pendek, kita gunakan untuk kegiatan ekonomi produktif-investasi, tentu akan memberi dampak ekonomi yang jauh lebih besar dan lestari dalam jangka panjang.

Oleh : Yusuf Wibisono


Related Posts :