Kamis, 11 April 2013

EKONOMI MUDIK - Habis

Akar Penyebab

Fenomena mudik di Indonesia berakar pada dua hal pokok. Pertama, ketidakseimbangan pembangunan antara Indonesia Barat dan Timur, khususnya antara Jawa dan Non-Jawa. Disparitas antar daerah ini sudah terjadi sejak awal pembangunan, dan hingga kini belum ada perbaikan berarti, bahkan nampak semakin mengental. Pada 2004, Kawasan Barat Indonesia (KBI) menguasai 82,9% PDB nasional dan Kawasan Timur Indonesia (KTI) hanya 17,1%. Dan supremasi Jawa atas Non-Jawa terlihat jelas dimana tiga propinsi Jawa yaitu DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat, menguasai 46,89% PDB nasional. Pada 2005, Jawa menguasai 58,55% PDB nasional, Sumatera 20,53%, dan daerah lainnya 20,92%.

Kedua, kesenjangan yang lebar antara perkotaan dan pedesaan. Daerah perkotaan yang didominasi oleh kegiatan ekonomi modern seperti sektor industri pengolahan, perdagangan, komunikasi, dan jasa keuangan, mengalami pertumbuhan yang jauh lebih cepat dari daerah pedesaan yang didominasi oleh kegiatan ekonomi tradisional seperti sektor pertanian dan pertambangan-penggalian. Pada 2005, pertumbuhan sektor pertanian hanya 2,49%, jauh di bawah sektor transportasi dan komunikasi yang tumbuh 12,97%, sektor perdagangan 8,59%, dan sektor keuangan 7,12%. Kontribusi sektor pertanian pada PDB nasional 2005 hanya 13,41%, padahal sektor ini masih menampung sekitar 46% dari total tenaga kerja.

Kemiskinan sejak lama terkonsentrasi di daerah pedesaan. Pada 1976, jumlah penduduk miskin pedesaan mencapai 44,2 juta orang, atau 81,5% dari total penduduk miskin. Tiga puluh tahun kemudian, angka ini membaik namun masih tetap tinggi. Per Maret 2006, jumlah penduduk miskin pedesaan mencapai 24,76 juta orang, sekitar 63,4% dari total penduduk miskin.

Kemajuan Jawa dan daerah perkotaan inilah yang menjadi faktor penarik (pull factor) terkuat bagi urbanisasi, dan ketertinggalan luar Jawa dan daerah pedesaan menjadi faktor pendorong-nya (push factor). Jutaan manusia mengadu nasib ke kota karena kemiskinan di desa. Daerah-daerah maju menarik jutaan tenaga kerja terdidik dan terlatih, meninggalkan daerah miskin sehingga menjadi semakin tertinggal. Derap pembangunan di daerah maju tidak menyebarkan manfaat (spread effect), namun justru menghisap sumber daya perekonomian sehingga terkonsentrasi di daerah-daerah kaya (backwash effect), membuat daerah tertinggal tak pernah mampu mengejar ketertinggalannya.

Inilah wajah asli mudik. Ia adalah wajah kegagalan kita menciptakan pembangunan yang berkeadilan, antara KBI dan KTI, antara kota dan desa. Ia adalah wajah kegagalan kita mewujudkan pemerataan dan keadilan sosial. Ia adalah wajah kegagalan kita untuk mengentaskan kemiskinan dan segala aspek yang melekat padanya dari sebagian besar rakyat negeri ini.

Dari tahun ke tahun, kita sibuk menghadapi mudik sebagai sebuah ritual rutin, yang bahkan seolah disakralkan. Namun sedikit sekali dari kita bertanya mengapa harus ada mudik dan bagaimana kita bisa mengurangi atau bahkan menghapus dampak negatif-nya. Beginilah kita, selalu melihat sesuatu dari luar dan terbiasa dengannya, namun malas untuk melihat akar masalah, terlebih mengatasi-nya.

Oleh : Yusuf Wibisono


Related Posts :