Rabu, 24 April 2013

Jalan Terjal Ekonomi & Bisnis Syariah 2008 - 2

Peluang dan Kinerja

Meski demikian, optimisme masih menjadi warna utama ekonomi dan bisnis syariah ke depan. Di tahun 2008 ini, pangsa perbankan syariah, walau sulit mencapai share 5%, diyakini akan tumbuh signifikan dengan masuknya pemain-pemain besar asing, terutama dari Timur Tengah, serta rencana spin-off beberapa UUS (Unit Usaha Syariah) seperti BRI Syariah, Bank IFI Syariah, merger UUS BII Syariah dan Danamon Syariah, serta berdirinya UUS baru seperti BCA Syariah. Penerbitan SBI Syariah yang memiliki struktur mirip dengan SBI konvensional, juga menjadi kabar segar bagi industri ini untuk pengelolaan likuiditas dan penempatan dana jangka pendek.

Sementara itu, stabilitas makro ekonomi yang terjaga turut mendongkrak kinerja keuangan syariah. Di bulan Desember 2007, BI rate telah menyentuh level 8%, level terendah sejak BI rate diperkenalkan pada Juli 2005. Hal ini dipastikan akan menaikkan daya saing perbankan syariah terutama dalam penghimpunan dana pihak ketiga sekaligus memperkuat sektor riil di mana kinerja perbankan syariah banyak disandarkan. Di tahun 2008, walau menghadapi banyak tantangan eksternal, stabilitas ini diproyeksikan akan terjaga di mana inflasi ditargetkan 5% + 1%, lebih rendah dari target 2007 yang sebesar 6% + 1%.

Namun hal ini akan mendapat tantangan berat. Dengan perkembangan kenaikan harga pangan dan energi global, dipastikan stabilitas makro ekonomi akan terganggu. BI rate di bulan Mei 2008 ini telah mulai terkerek naik 25 bps menjadi 8,25%. Dengan kenaikan harga BBM yang akan segera diambil pemerintah, BI sendiri memperkirakan angka inflasi akan menembus 10 persen di tahun 2008 ini.

Permodalan perbankan syariah di tahun 2008 dipastikan juga akan membaik dengan rencana penerbitan sukuk. Seiring pertumbuhan aset yang luar biasa cepat, perbankan syariah membutuhkan penambahan modal untuk memenuhi ketentuan modal minimum. Dan salah satu bentuk modal termurah adalah dengan penerbitan obligasi subordinasi, sekaligus mengganti dana-dana mahal jangka pendek menuju struktur permodalan yang lebih efisien. Prospek cerah ini sejalan dengan kinerja industri keuangan syariah di level global.

Tahun 2008 diprediksi menjadi saksi pertumbuhan signifikan di pasar sukuk global. Perbankan syariah global dipastikan akan menambah modal melalui penerbitan sukuk. Dengan pertumbuhan aset yang terus berlanjut seiring terus bertambahnya konsumen dari 1,2 milyar penduduk muslim dunia, perbankan syariah global harus meningkatkan modal secara efisien. Tahun-tahun terakhir juga menjadi titik balik meningkat-nya keterlibatan perusahaan-perusahaan besar Timur Tengah –seperti Saudi Aramco, Sabic Emirates, Qatar Gas 7 Petroleum Company, Alba, Dubai- dalam keuangan syariah terutama dalam penerbitan sukuk dan dalam sindikasi fasilitas murabahah, baik untuk keperluan umum perusahaan maupun untuk ekspansi usaha.

Secara keseluruhan, kinerja keuangan syariah global diproyeksikan masih akan mencatat pertumbuhan masif pada 2008. Faktor pendorong utama masih berupa tingginya surplus anggaran negara-negara Timur Tengah yang diperkirakan akan terus berlanjut sebagai hasil dari tingginya harga minyak dunia. Faktor ini menjadi penting bagi industri keuangan Islam karena hal ini akan mendorong lebih lanjut keterlibatan baik dana publik maupun swasta dalam industri ini. Industri keuangan syariah ke depan diprediksikan akan semakin meningkat posisi-nya karena harga yang kompetitif dan struktur yang semakin bisa diterima. Aspek kepatuhan terhadap syariah juga tidak menjadi hambatan masuk (barriers to entry) yang berarti, terlihat dari semakin banyaknya pemain konvensional yang memasuki industri ini, termasuk pemain-pemain besar dunia seperti Citigroup, HSBC, UBS, Standard Chartered, BNP Paribas, Societe Generale, Credit Suisse, dan Deutsche Bank.

Oleh : Yusuf Wibisono


Related Posts :