Senin, 08 April 2013

Menyikapi Kenaikan Harga Bawang

Akhir-akhir ini masyarakat, khususnya ibu-ibu rumah tangga banyak yang menjerit dengan kenaikan harga bawang. Bumbu dapur yang akrab dengan kaum ibu ini harganya meningkat berkali-kali lipat. Sebagai bumbu dapur yang penting, tentu saja kenaikan ini membuat kaum ibu resah. Apalagi, lidah masyarakat indonesia sudah begitu lengket dengan cita rasa bawang sebagai penyedap masakan. Sehingga, ketika bumbu satu ini dihilangkan dalam racikan bumbu, masakan yang dihasilkan menjadi terasa aneh. Kenaikan harga bawang adalah sebuah masalah bagi kaum ibu. Namun, terjebak dan berlarut dalam sebuah permasalahan bukan pilihan bijak. Ya, tangan-tangan ringkas kaum ibu mungkin tidak akan pernah mampu menekan kenaikan harga bawang. Suara-suara merdu kaum ibu mungkin tidak akan mampu mengubah harga bawang. Harga bawang akan tetap melambung sekalipun ribuan bahkan jutaan ibu rumah tangga menjerit dengan kenaikan itu. Namun, Ibu yang bijak akan mampu mengatur sikap terbaik dalam menghadapi tingginya harga bawang.

Mengubah sikap dan cara pandang terhadap sebuah masalah adalah pilihan terbaik. Harga bawang sudah naik, dan sangat sulit diharapkan bisa turun dalam waktu yang cepat. Sehingga, langkah terbaik bagi kaum Ibu agar tidak stres dan galau menghadapi kondisi ini adalah dengan membangun sikap positif. Melihat hikmah di balik kenaikan harga bawang dan berusaha untuk fokus menemukan solusi dari pada masalah yang ditimbulkan oleh kenaikan harga bawang ini.

Beberapa langkah positif yang bisa diambil untuk menyikapi kenaikan harga bawang yaitu:
  1. Melihat bahwa kenaikan ini merupakan warning atau pengingat bagi kita untuk mengevaluasi sikap syukur kita pada Allah.
    Terkadang kita suka lupa bersyukur atas semua nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah. Nikmat itu baru terasa setelah ia diambil dari kita. Harga bawang yang sebelumnya murah adalah salah satu nikmat dari Allah. Selama ini, kita bisa mendapatkannya dengan mudah dan murah. Namun, mungkin kita –khususnya kaum ibu—lupa mensyukuri itu. Terkadang dengan mudah menumpuk-numpuk bawang di dapur hingga membusuk dan tidak termanfaatkan dengan optimal. Ini adalah salah satu contoh kelalaian kita.
    Oleh karena itu, dengan momen kenaikan harga bawang yang tiba-tiba ini semoga bisa menjadi sarana bagi kita untuk mengevaluasi kembali rasa dan sikap syukur kita kepada Allah swt. Agar Allah menambahkan nikmatnya kepada kita.
  2. Melihat bahwa peluang usaha di sektor pertanian akan selalu terbuka lebar dan tidak akan pernah mati selama manusia masih membutuhkan makanan.
    Kenaikan harga bawang ini juga bisa menjadi sumber inspirasi bagi mereka yang sedang mencari lahan usaha atau bisnis baru. Ya, mengapa tidak mencoba membuka usaha di sektor ini?
  3. Melihat bahwa kenaikan harga bawang merupakan angin segar sekaligus hiburan bagi petani bawang.
  4. Kenaikan harga bawang ini bisa menjadi momen untuk mulai mengencangkan kembali ikhtiar dalam mencari rezeki. Karena, kita tidak tau kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi ke depannya. Seperti halnya kenaikan harga bawang yang tiba-tiba ini. Boleh jadi, besok akan terjadi kenaikan-kenaikan harga bahan kebutuhan pokok lainnya. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi semua kemungkinan ini kita harus terus berikhtiar meningkatkan pendapatan keluarga.
  5. Mengasah kreativitas untuk menciptakan kreasi kuliner tanpa bawang.

Nah, kita hanya perlu mengubah sikap dan cara pandang terhadap gejolak harga bawang. Tetap tenang, hindari dari bersikap reaktif. Setiap peristiwa pasti ada hikmah dan kesempatan belajar di sana.

Oleh: Neti Suriana


Related Posts :