Rabu, 24 April 2013

Menyulut Spirit Dari Pengalaman Orang Lain



Buku : Sang Pengubah Mitos
Penulis : M. Iqbal Dawami
Penerbit : Diva Press, Yogyakarta
Tahun Terbit : Juni, 2010
Halaman : iiV + 250 hlm

M. Iqbal Dawami dalam ruang “Pengantar Penulis” menyatakan dengan tegas alasan buku ini digagasnya. Yaitu, sebagai penyulut spirit bagi siapa saja yang merasa hidupnya sudah kehilangan makna dan harapan. Buku ini bukan buku nasehat yang bersumber dari pribadi penulis, tapi buku ini ada kumpulan kisah yang didapat penulis dari bahan-bahan bacaannya. Terlebih lagi, penulis merupakan salah seorang peresensi aktif di harian Seputar Indonesia dan Koran Jakarta.

Makanya, ketika membaca buku ini akan banyak informasi yang didapat. Tak hanya isi tulisan yang selaras dengan judul yang dikupas penulis, tapi hal-hal lain yang berhubungan dengan sosok yang dipaparkannya juga tak luput diulas. Karen Amstrong, misalnya. Penulis tak hanya menceritakan bagaimana perjuangan dan kegigihan Karen dalam mencari “obat” untuk menyembuhkan lukanya dari trauma dan penyakit yang dideritanya semenjak remaja serta haus akan spritualnya. Penulis juga menceritakan secara global sebagian isi karya-karyanya, seperti buku “Muhammad” dan “Menerobos Kegelapan”.

Buku ini dibagi penulis menjadi tiga bagian. Bagian pertama: Mengubah Kelemahan Menjadi Kekuatan. Di dalam buku ini terdapat 13 tulisan, dan di dalam bagian ini judul “Sang Pengubah Mitos” bisa dibaca. Kisah seorang bocah petani yang mampu menjadi penakluk dan penguasa tinggi Jepang. Hideyoshi namanya. Dengan bekal antusiasmenya menjadi pengikut salah satu klan penguasa yang dianggapnya akan menjadi pijakan karier hidupnya. Melalui kisahnya berubahlah mitos yang selama ini dipegangi khalayak, bahwa hanya orang yang memiliki pertalian darah dengan kaum bangsawan yang sanggup menjadi petinggi di Jepang.

Bagian kedua buku ini: Menjadi Teladan di Jaman Edan. Ada 14 tulisan yang terdapat di dalamnya. Salah satu judulnya “Belajar dari Lien”. Lien adalah penderita gagal ginjal terminal akhir. Ia harus melakukan cuci darah dua kali seminggu. Namun, ia ingin mengatakan kepada semua orang bahwa cuci darah bukan berarti kiamat. Kita masih bisa tetap hidup normal,berbuat positif dan berbahagia. Semua yang dialaminya di buku pertamanya yang berjudul “Tuhan, Aku Divonis Cuci Darah”. Ia menceritakan semua memoar penderitaan yang dialaminya. Tak hanya itu, ia juga memenangkan lomba karya tulis ilmiah yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unpad. Ia mengangkat judul “Andai Lebih Dekat, Andai Ada Tempat. Ia menyinggung minimnya jumlah rumah sakit di Jawa Barat yang bisa memberikan layanan cuci darah. Semangat Lien ini yang layak ditiru. Ia tak pernah menyerah dan ia terus membakar spiritnya yang tetap menunjukkan bahwa hidupnya memang berarti.

Bagian ketiga buku ini: Hidup Mulia Mati Syahid. Bagian ini berisi sebelas tulisan. Tulisan yang ada di dalam bagian ini mengajak pembaca untuk memiliki tujuan hidup di dunia ini. Karena manusia adalah makhluk terbaik ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Makanya dalam tulisan “Menciptakan Visi Kaya”, penulis mengingatkan bahwa visi adalah cita-cita dan harapan di masa depan. Karena visi berperan menjadi motivator yang siap membakar semangat dan siap membentuk diri pemilik visi sebagai kompetitor dalam mewujudkan cita-citanya.

Buku ini layak dibaca siapa saja. Karena buku ini mengajak pembacanya untuk memilih tindakan yang benar, kuat dan siap keluar dari masalah yang dihadapinya. Dengan belajar dari pengalaman-pengalaman orang lain mengatasi masalahnya akan membentuk pribadi pembaca menjadi pribadi yang tahan banting dan tidak mudah menyerah saat berhadapan dengan masalah yang menimpa diri.

Peresensi: Rahmat Hidayat Nasution


Related Posts :