Jumat, 05 April 2013

Minimarket dan Pedagang Kecil

Di era yang serba modern ini, sebuah bangunan yang menyerupai toko namun lebih besar dan ber-AC atau yang lebih sering kita sebut minimarket tidak hanya dapat kita jumpai di kota – kota saja. Bahkan keberadaannya sudah meluas ke berbagai penjuru desa. Namun adanya minimarket tersebut menimbulkan sisi positif dan negatif. Misalnya saja jika ditinjau dari sisi positifnya, masyarakat menjadi lebih mudah untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari dengan harga barang yang lebih murah ketimbang di toko-toko pada umumnya. Sedangkan sisi negatifnya, keberadaan minimarket yang semakin meluas membuat usaha pedagang-pedagang kecil ‘mati’, sungguh sangat disayangkan sekali.

Seorang ibu paruh baya yang sudah bertahun-tahun membuka toko kelontongan di depan rumahnya mengeluhkan adanya minimarket kepada tetangganya, yang dianggapnya membuat tokonya sepi dan pendapatannya semakin menurun. Bagaimana tidak, sekalipun rumah si ibu tersebut terletak di pinggir jalan, namun di sepanjang perjalanan menuju rumahnya ada sekitar 4 minimarket yang jaraknya hampir berdekatan dan bernaung di bawah dua perusahaan yang sama. Ada yang letaknya berseberangan bahkan berdampingan.

Jika ditinjau dari segi harga tentu jauh lebih murah dibandingkan toko-toko biasa, terkadang setiap minimarket membanting harga dengan diskon besar-besaran atau dengan iming-iming hadiah. Misalnya, membeli barang 2 gratis 1, membeli barang minimal seharga Rp. 50.000 berhak mendapatkan kupon undian yang hadiahnya mulai dari barang-barang elektronik bahkan hingga sepeda motor, mobil, bahkan rumah. Minimarket-minimarket saling bersaing satu sama lain dalam strategi pemasaran. Sedangkan dalam segi tempat tentunya minimarket terkesan jauh lebih nyaman. Bersih, ber-AC, pelayanannya sangat baik, dapat membayar barang belanjaan dengan menggunakan kartu kredit, barang-barang kebutuhan sehari-hari yang tersedia pun lebih komplit ketimbang di toko-toko biasa. Bahkan ada pula minimarket yang menjual sayur-sayuran dan buah-buahan segar sehingga membuat masyarakat tidak perlu repot-repot pergi ke pasar tradisional.

Hingga pada akhirnya banyak pedagang-pedagang kecil banyak yang gulung tikar karena kalah saing dari minimarket. Jangankan mengharapkan keuntungan, untuk modal membeli barang-barang kembali pun tidak tertutupi. Masih banyak barang-barang sisa yang belum laku terjual sementara masa berlaku digunakannya sudah habis, sungguh ironis. Sehingga barang-barang tersebut harus rela untuk dibuang karena sudah tidak layak untuk dikonsumsi.

Hendaklah pemerintah memperketat lagi kebijakan dalam membangun minimarket, misalnya dalam satu wilayah maksimal hanya diperbolehkan membangun 2 minimarket. Memang pada hakikatnya rezeki setiap manusia itu memang sudah ada Tuhan yang mengatur dan tentunya tidak akan pernah tertukar. Namun, bagi orang-orang yang sekiranya mempunyai rezeki yang cukup bahkan lebih ingatlah pada sesamanya. Jika ingin membuka minimarket pada suatu wilayah tidak perlu berlebihan dengan membuka banyak minimarket. Tolong perhatikan juga pedagang-pedagang kecil yang ada di sekitarnya agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan apalagi kehilangan mata pencaharian untuk menunjang kebutuhan hidupnya.

Oleh : Aini Nur Latifah


Related Posts :