Selasa, 16 April 2013

Selamatkan Pahlawan Devisa - 1

Masih segar dalam ingatan penulis se-kembali menyelesaikan studi di Kairo lima tahun lalu dan saat tiba di Bandara International Soekarno-Hatta membaca spanduk di belakang loket imigrasi yang bertuliskan “Selamat Datang Pahlawan Devisa”. Kala itu, penulis masih meraba-raba maksudnya. Penulis baru menyadari setelah melihat banyak TKI/TKW yang sama-sama mengantri untuk mendapatkan stempel dari petugas imigrasi. Apakah benar mereka yang dikatakan pahlawan devisa? Jika mereka dikatakan pahlawan devisa seharusnya mereka mendapatkan penghormatan dan perlindungan yang luar biasa, karena mereka pahlawan. Bukan dijadikan ‘bulan-bulanan’, baik oleh pihak jasa pengiriman TKI maupun majikannya. Terlebih lagi, jalur keluar mereka setelah selesai dari loket imigrasi berbeda dengan jalur keluar masyarakat biasa dan penulis sempat menyaksikan adanya pemeriksaan yang tidak wajar.

Saat membaca dan mendengar kasus penyiksaan terhadap TKW sehingga ada yang bibir atasnya hilang, sebagian kulitnya terkelupas dan tulang jarinya retak, penulis kembali teringat akan kalimat “Selamat Datang Pahlawan Devisa”. Inilah yang menyebabkan penulis merasa tertarik untuk ikut membicarakan aksi serangkaian kekerasan dan penyiksaan yang diterima dan dirasakan oleh TKI saat bekerja di rumah majikannya. Apa yang mereka rasakan benar-benar menjadi kisah penderitaan yang mereka lakukan dengan gagah di saat susahnya mereka mendapatkan pekerjaan di negeri sendiri. Bahkan, dapat dikatakan, pemerintah juga terlibat kuat di balik penyebab mereka berjuang di negara orang lain. Tak ada lowongan pekerjaan di negeri sendiri. Hingga akhirnya, mereka mau disebut pahlawan devisa dengan bekerja di negara lain, meski lebih banyak merasakan disiksa dari bahagia.

Kurang Sense of Belonging

Apa yang menyebabkan mereka harus menerima penderitaan dan penyiksaan? Apakah memang ada perbedaan kelas antara tenaga kerja asal Indonesia dengan tenaga kerja asal negara lain? Jika ada perbedaan, di mana letaknya? Pertanyaan demi pertanyaan akan muncul bila dihubungkan dengan sebutan yang disematkan kepada mereka sebagai “pahlawan devisa”. Jika dibandingkan negara-negara lain, Filipina misalnya, sangat berbeda sekali. Terutama dari segi perhatian pemerintah Fillipina yang cukup ekstra terhadap warganya yang menjadi tenaga kerja di negara lain. Sedangkan perhatian pemerintah kita, malu rasanya untuk mengungkapkannya.

Intinya, Kurangnya sense of belonging pemerintah kita yang menjadi penyebab utama sering terjadi aksi kekerasan dan penyiksaan terhadap tenaga kerja asal Indonesia. Seharusnya pemerintah malu, karena tak bisa membuka lowongan pekerjaan. Rasa malu itu seyogyanya ditutup dengan perhatian lebih terhadap para pahlawan devisa. Perhatian akan nasib mereka yang bekerja di negara orang lain. Padahal, triliunan rupiah sumbangsih mereka yang bisa dikatakan mampu menggerakkan perekonomian negeri ini.

Segera Ambil Alih

Sejatinya, pemerintah bisa menyelamatkan para TKI. Pemerintah bisa memperkecil, jika sulit mengikis habis, penyiksaan yang dirasakan oleh para TKI. Tentunya, prosesnya dilakukan sejak dini. Sejak mereka belum berangkat menuju negara tempat mereka bekerja. Artinya, pemerintah segera menyeleksi pengiriman TKI. Dan akan lebih baik lagi, jika pemerintah mengambil alih dalam pengurusan TKI.

Jika selama ini diserahkan kepada swasta, maka kini diurus oleh negara. Karena cukup banyak bukti pengurusan TKI yang dilakukan swasta tidak menunjukkan keprofesionalan. Banyak TKI yang dikirim tidak memiliki kompetensi sehingga akhirnya menjadi korban kekerasan majikan. Di sinilah awal mula tanggung jawab pemerintah.

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution


Related Posts :